Di sekolah itulah siswa diberi beberapa ilmu pengetahuan dan
percontohan yang baik, akhirnya mengalami perubahan baik kognitif, afektif
maupun psikomotorik. Dengan demikian perjodohan sekolah tersebut baik, tentunya
perubahan dan perkembangan dari anak juga baik. Jelasnya guru dan teman-teman
sekolah, tugas-tugas sekolah dan peralatannya, peraturannya, Kesemuanya
menantang siswa untuk menyesuaikan diri, pergaulan anak dengan lingkungannya
(sekolah) dapat dibentuk karakter anak. Melihat pernyataan itu jelaslah minat
belajar siswa sangat dipengaruhi di masa mereka sekolah, kalaupun sekolahnya
tergolong maju, mestinya bisa mendorong siswa untuk belajar giat, begitu juga
sebaliknya.
A.
Peranan
Minat dalam Belajar
Peranan minat dalam belajar lebih besar atau kuat dari sikap yaitu minat akan berperan
sebagi “Motifating Force“ yaitu sebagai kekuatan yang akan mendorongsiswa untuk belajar. Siswa yang berminat (Sikapnya senang) kepada pelajaran akantampak
terdorong terus untuk tekun belajar, berbeda dengan siswa
yang sikapnya hanyamenerima pada pelajaran, mereka hanya tergerak untuk
mau belajar tetapi sulit untuk bisatekun karena tidak ada pendorongnya.
B.
Macam-Macam-Minat.
a.
Minat
primitif atau biologis => Minat yang timbul dari kebutuhan – kebutuhan
jasmani berkisar pada soal makanan, comfort, dan aktifitas. Ketiga hal ini
meliputi kesadaran tentang kebutuhan yang terasa akan sesuatu yang dengan
langsung dapat memuaskan dorongan untuk mempertahankanorganisme.
b.
Minat
kultural atau sosial => Minat yang berasal
dari perbuatan belajar yang lebih tinggi tarafnya. Orang yang
benar – benar terdidik ditandai dengan adanya minat yang benar – benar luas
terhadap hal – hal yang bernilai (Witherington, H. C, 1999)
C.
Minat
Yang Menunjang Belajar
Minat
merupakan faktor psikologis yang akan mempengaruhi belajar. Dalam hal ini sikap
yang akan menunjang belajarseseorang ialah sikap positif (menerima/suka)
terhadap bahan/mata pelajaran yang dipelajari, terhadap guru yang mengajar dan
terhadap lingkungan tempat dimana ia belajar seperti : kondisi kelas,
teman-temanya, sarana pengajaran dan sebagainya.
Adapun
minat yang dapat menunjang belajar adalah minat kepada bahan/mata pelajaran dan
kepada guru yang mengajarnya. Apabila siswa tidak berminat kepada bahan/mata
pelajaran juga kepada gurunya, maka siswa tidak akan mau belajar. Oleh karena
itu apabila siswa tidak berminat sebaiknya siswa di bangkitkan sikap positif
(sikap menerima) kepada pelajaran dan kepada gurunya, agar siswa mau belajar
memperhatikan pelajaran.
D.
Menumbuhkan
Minat Belajar
Beberapa
ahli pendidikan berpendapat bahwa cara yang paling efektif untuk membangkitkan
minat pada suatu subyek yang baru adalahdengan menggunakan minat-minat siswa
yang telah ada. Menurut Tanner and Tanner (1975) menyarankan agar para pengajar
berusaha membentuk minat-minat baru pada siswa. Hal ini bisa
dicapai melalui jalan memberi informasi pada siswa tentang bahan yang akan
disampaikan dengan menghubungkan bahan pelajaran yang lalu, kemudian diuraikan
kegunaannya di masa yang akan datang. Roijakters (1980) berpendapat bahwa
hal ini bisa dicapai dengan cara menghubungkan bahan pelajaran dengan berita-berita
yang sensasional, yang sudah diketahui siswa.
Harry
Kitson (The Liang gie 1995:130) mengemukakan bahwa ada dua kaidah tentang minat
(the laws of interest),yang berbunyi:
1. Untuk
menumbuhkan minat terhadap suatu mata pelajaran, usahakan memperoleh keterangan
tentang hal itu
2. Untuk
menumbuhkan minat terhadap suatu mata pelajaran, lakukan kegiatan yang
menyangkut hal itu.
JT.
Loekmono (1985:98), mengemukakan bahwa cara-cara untuk menumbuhkan minat
belajar pada diri siswa adalah sebagai berikut :
1. Periksalah
kondisi jasmani anak, untuk mengetahui apakah segi ini yang menjadi sebab.
2. Gunakan
metode yang bervariasi dan media pembelajaran yang menarik sehingga
dapat merangsang
anak untuk belajar
3. Menolong
anak memperoleh kondisi kesehatan mental yang lebih baik.
4. Cek
pada orang atau guru-guru lain , apakah sikap dan tingkah laku tersebut hanya
terdapat pada pelajaran saudara atau juga ditunjukkan di kelas lain ketika
diajar oleh guru-guru lain.
5. Mungkin
lingkungan rumah anak kurang mementingkan sekolah dan belajar. Dalam hal ini
orang-orang di rumah perlu diyakinkan akan pentingnya belajar bagi anak.
6. Cobalah
menemukan sesuatu hal yang dapat menarik perhatian anak, atau tergerak
minatnya. Apabila minatnya tergerak, maka minat tersebut dapat dialihkan kepada
kegiatan-kegiatan lain di sekolah.
E.
Seberapa
Penting Motivasi dan Minat Belajar Siswa
Motivasi
penting dalam membentuk seberapa besar minat belajar siswa. Motivasi juga
mempengaruhi seberapa banyak siswa akan mempelajari dari suatu kegiatan
pembelajaran, atau seberapa banyak penyerapan siswa dalam menangkap informasi
yang disajikan kepada mereka. Siswa yang termotivasi untuk belajar akan
menggunakan kognitif yang lebih tinggi dalam mempelajari materi tersebut.
Sehingga siswa dapat menyerap dan mengangkap lebih baik. Motivasi belajar siswa
merupakan faktor utama dalam keberhasilan belajar siswa. Siswa yang termotivasi
dengan baik akan menghasilkan tingkat keberhasilan yang lebih baik. Motivasi
terbagi menjadi dua , yaitu maotivasi dari dalam diri sendiri disebut intrisik
dan motivasi dari luar disebut ektrinsik . motivasi dari dalam diri sendiri
(intrinsik) biasanya siswa sadar dan terdorong akan pentingnya belajar.
Pentingnya
peran motivasi dalam proses pembelajaran perlu pahami oleh pendidik, agar dapat
melakukan berbagai tindakan dan bantuan kepada siswa. Motivasi dirumuskan
sebagai dorongan bagi siswa baik dari dalam maupun dari luar siswa, untuk
mencapai tujuan tertentu guna memenuhi kebutuhan. Kebutuhan tersebut sangat
berhubungan dengan proses pembelajaran.
Motivasi
siswa dapat digambarkan sebagai bahan bakar mesin penggerak, tanpa adanya bahan
bakar maka mesin tidak akan berfungsi bergerak dengan baik. Motivasi belajar
yang baik akan mendorong siswa aktif dan berprestasi didalam kelas. Tetapi
motivasi yang kuat juga dapt berdampak negatif terhadap usaha belajar.
Fungsi
dari motivasi pembelajaran yaitu sebagai penggerak, pengarah dan mendorong
tingkah laku atau perbuatan seseorang.
Minat
adalah keadaan mental, kondisi atau keinginan jiwa terhadap suatu objek untuk
mencapai tujuan yang dicita-citakan. Hal ini berarti seseorang tidak akan
mencapai tujuan cita-cita jika dalam diri seseorang tidak ada minat dan
keinginan untuk mencapai cita-cita yang diinginkan. Dalam pembelajaran minat
merupakan motor penggerak untuk mencapi tujuan yang diingikan, tanpa adanya
minat atau keinginan maka tujuan tidak akan tercapai.
Sebagai
pendidik juga harus mampu menjaga minat belajar siswa dalam belajar, dengan
cara memberi kebebasan untuk pindah dari pembelajaran satu ke pembelajaran yang
lain dalam situasi belajar. Faktor yang mempengaruhi minat belajar antara lain
yaitu faktor yang berasal dari dalam diri dan faktor yang berasal dari luar
diri siswa.
Mengembangkan
motivasi dan minat belajar siswa penting dalam pembelajaran, yang mana pada
dasarnya untuk membantu dan mendorong siswa dalam memilih bagaimana hubungan
antara materi yang diharapkan dengan dirinya sendiri, agar tujuan yang dingikan
tercapai.
Daftar Pustaka
Esti, Sri. 1989. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Grafindo
Nasution. 1982.Teknologi Pendidikan. Bandung: Bumi Aksara
Priyitno, Elida. 1989.Motivasi Dalam Belajar. Jakarta: P2LPTK
Sardiman, A,M. 1990.Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta:
Rajawali
Witherington,
H. C. 1999. Psikologi Pendidikan. Jakarta : Aksara Baru
Wijaya,
Wina. 2003. Strategi Pembelajaran. Jakarta : Prenada Media Group
Mahfudzh,
Shalahudin. 1990.Pengantar Psikologi Pendidikan.Surabaya : Bina Ilmu
Purwanto,
Wgalim. 1990. Psikologi Pendidikan. Bandung : Remaja Rasya Karya
Hasan,
Khalijah. 1994. Dimensi – dimensi Psikologi Pendidikan.Surabaya. Al –
Ikhlas
Brata,
Sumardi Surya. 1984.Psikologi Pendidikan. Jakarta : Rajawali Pers
Ramayulis.
2001. Metodologi Pengajaran Agama Islam. Jakarta : Kalam Mulia
Purwanto,
M. Ngalim. 2010.Psikologi Pendidikan. Bandung : PT Remaja Rosdakarya
http://www.kajianpustaka.com/2013/04/motivasi-belajar.html/diunggah-pada-hari-tanggal-Sabtu-15-Maret-2014/Pukul-19:20/oleh-Maulida-Rahma
http://el-unsa.blogspot.com/2013/01/psikologi-motivasi.html//diunggah-pada-hari-tanggal-Sabtu-15-Maret-2014/Pukul-19:20/oleh-Maulida-Rahma
http://edukasi.kompasiana.com/2013/12/09/seberapa-penting-motivasi-dan-minat-belajar-siswa--617681.html/diunggah-pada-hari-tanggal-Sabtu-15-Maret-2014/Pukul-19:20/oleh-Maulida-Rahma
Footnote
[1] M. Ngalim
Purwanto. Psikologi Pendidikan ( Bandung : PT Remaja Rosdakarya ).
2010. Hlm. 60.
[2] Ibid. Hlm.
62
[3] M. Ngalih
Purwanto. PSIKOLOGI PENDIDIKAN (Bandung : PT REMAJA ROSDAKARYA).
2010.Hlm.73
[4] Ibid.
Hlm.73
[5] Mahfudh
Salahudin. Pengantar Psikologi Pendidika. (Surabaya : Bina Ilmu).
1990. Hlm. 45.
[6] Ramayulis. Metodologi
Pengajaran Agama Islam. (Jakarta : Kalam Mulia). 2001. Hlm. 91.
[7] Wgalim
Purwanto. Psikologi Pendidikan. (Bandung : Remaja Rasya Karya). 1990.
Hlm. 84.
[8] Khalijah
Hasan. Dimensi-dimensi Psikologi Pendidikan. (Surabaya : Al-Ikhlas).
1994. Hlm. 86.
[9] Sumardi
Surya Brata. Psikologi Pendidikan. (Jakarta : Rajawali Pers). 1984.
Hlm. 231.
[10] Wina
Wijaya. Strategi Pembelajaran. (Prenada Media Group). Hml. 123.
[11] Shalahudin
Mahfudzh. Pengantar PsikologiPendidikan. ( Surabaya : Bina Ilmu.). 1990.
Hlm. 97.
XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
Kelompok.......7
Selasa, 05
April 2016
FAKULTAS TARBIYAH. PRODI PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDA’IYAH. INSTITUT
AGAMA ISLAM NAHDLATUL ‘ULAMA. KEBUMEN. 2015/2016
A.
PENDEKATAN.
1.
Pengertian Pendekatan
Istilah pendekatan berasal dari bahasa
Inggris approach yang memiliki beberapa arti di antaranya diartikan
dengan “pendekatan”. Di dalam dunia pengajaran, kata approach lebih
tepat diartikan a way of beginning something “cara memulai sesuai”. Karena
itu, istilah pendekatan dapat diartikan cara memulai pembelajaran.
Dalam pengertian yang lebih luas, pendekatan mengacu kepada
seperangkat asumsi mengenai cara belajar-mengajar. Pendekatan merupakan titik
tolak dalam memandang sesuatu, suatu filsafat atau keyakinan yang tidak
selalu mudah membuktikannya. Jadi, pendekatan bersifat aksiomatis (Badudu
1996:17). Aksiomatis artinya bahwa kebenaran teori-teori yang digunakan
tidak dipersoalkan lagi. Pendekatan pembelajaran (teaching approach)
adalah suatu ancangan atau kebijaksanaan dalam memulai serta melaksanakan
pengajaran suatu bidang studi/mata pelajaran yang memberi arah dan corak kepada
metode pengajarannya dan didasarkan pada asumsi yang berkaitan.
Tugas utama dan pertama seorang guru adalah mengajar. Untuk
melaksanakan tugas tersebut, guru memerlukan pedoman yang dijadikan dasar
pegangan agar apa yang dilakukanya sesuai dengan kebijakan pemerintah, dalam
hal ini kebijakan Departemen Pendidikan Nasional. Dalam kaitanya dengan
pelaksanaan kegiatan di dalam proses belajar mengajar, pegangan guru utama
adalah kurikulum.
Kurikulum disusun berdasarkan suatu pendekatan yang dilandasi
pandangan atau filsafat tertentu. Apabila pandangan atau filsafat tertentu
berubah, maka kurikulumpun akan berubah, dan ini berarti pedoman proses belajar
mengajar juga berubah. Perubahan kurikulum dilakukan untuk menyesuaikan program
pendidikan dengan kebutuhan masyarakat serta meningkatkan mutu pendidikan.
Dalam beberapa dasawarsa ini, telah terjadi beberapa kali perubahan pendekatan
dalam dunia pembelajaran, termasuk di dalamnya dunia pembelajaran bahasa. Salah
satu perkembngan yang terjadi dalam pembelajaran bahasa ialah
munculnyannpendekatan yang dilandasi oleh filsafat pendidikan bahasa terpadu.
Dengan munculnya pendekatan tersebut, maka bertambahlan khasana dalam dunia
pendidikan khususnya dalam masalah pembelajaran bahasa.
Dalam bebrapa dasawarsa ini telah terjadi beberapa kali perubahan
kurikulum sebagai akibat adanya perubahan pandangan atau filsafat tertentu, dan
perubahan pendekatan pembelajaran. Hal seperti itu terjadi pula pada bidang
studi bahasa, termasuk bidang bahasa Indonesia sehingga kita mengenal beberapa
macam pendekatan, seperti pendekatan tujuan, pendekatan struktur, pendekatan
komunikatif, pendekatan pragmatic, dan pendekatan terpadu.
2.
Fungsi Pendekatan
Fungsi pendekatan bagi suatu pengajaran adalah sebagai pedoman umum
dan langsung bagi langkah-Iangkah metode pengajaran yang akan digunakan. Sering
dikatakan bahwa pendekatan melahirkan metode. Artinya, metode suatu bidang
studi, ditentukan oleh pendekatan yang digunakan. Di samping itu, tidak jarang
nama metode pembelajaran diambil dari nama pendekatannya. Sebagai contoh dalam
pengajaran bahasa. Pendekatan SAS melahirkan metode SAS. Pendekatan langsung
melahirkan metode langsung. Pendekatan komunikatif melahirkar metode
komuniatif.
Bila prinsip lahir dari teori-teori bidang-bidang yang
relevan, pendekatan lahir dari asumsi terhadap bidang-bidang yang relevan
pula. Misalnya, pendekatan pengajaran bahasa lahir dari asumsi-asumsi yang
muncul terhadap bahasa sebagai bahan ajar, asumsi terhadap apa yang dimaksud
dengan belajar, dan asumsi terhadap apa yang dimaksud dengan mengajar.
Berdasarkan asumsi-asumsi itulah kemudian muncul pendekatan pengajaran yang
dianggap cocok bagi asumsi-asumsi tersebut. Asumsi terhadap bahasa sebagai alat
komunikasi dan bahwa belajar bahasa yang utama adalah melalui komunikasi,
lahirlah pendekatan komunikatif.
3.
Macam Pendekatan.
a.
Pendekatan komunikatif
Pendekatan komunikatif mengarahkan pengajaran bahasa pada tujuan pengajaran
yang mementingkan fungsi bahasa sebagai alat komunikasi (Syafi’ie, 1993: 17,
Hymes dalam Brumfit, 1987: 2, dan Djiwandono, 1996: 13). Pendekatan komunikatif
memfokuskan pada keterampilan siswa mengimplementasikan fungsi bahasa (untuk
berkomunikasi) dalam pembelajaran.
Berdasarkan prinsip pendekatan
komunikatf, pengajaran menulis harus diarahkan pada penggunaan bahasa dalam
kehidupan sehari-hari. Misalnya pembelajaran menulis surat.
b.
Pendekatan Integratif
Pembelajaran
bahasa harus dilakukan secara utuh. Para siswa dituntut untuk terampil
berbahasa, yaitu terampil menyimak, membaca, berbicara, dan menulis. Keempat
keterampilan berbahasa tersebut harus dilakukan secara terpadu dalam satu
proses pembelajaran dengan fokus satu keterampilan. Misalnya, para siswa sedang
belajar keterampilan menulis maka ketiga keterampilan yang lainnya harus
dilatihkan juga, tetapi kegiatan tersebut tetap difokuskan untuk mencapai
peningkatan kualitas menulis.
c.
Pendekatan Cara Belajar Siswa Aktif.
Pendekatan cara
belajar siswa aktif diartikan sebagai kegiatan belajar menbgajar yang
melibatkan siswa. Artinya, siswa secara aktif terlibat dalam proses pengajaran.
d.
Pendekatan Belajar Kooperatif
Belajar
kooperatif merupakan suatu metode yang mengelompokkan siswa ke dalam kelompok-kelompok
kecil. Siswa bekerja sama dan saling membantu dalam menyelesaikan tugas.
e.
Pendekatan Tujuan.
Pendekatan
tujuan ini dilandasi oleh pemikiran bahwa dalam setiap kegiatan belajar
mengajar, yang harus dipikirkan dan ditetapkan terlebih dahulu ialah tujuan
yang hendak dicapai. Dengan memperhatikan tujuan yang telah ditetapkan itu
dapat ditentukan metode mana yang akan digunakan dan teknik pengajaran yang
bagaimana yang diterapkan agar tujuan pembelajaran tersebut dapat dicapai.
f.
Pendekatan Struktural
Pendekatan struktural merupakan salah satu pendekatan dalam
pembelajaran bahasa, yang dilandasi oleh asumsi yang menganggap bahasa sebagai
seperangkat kaidah. Atas dasar anggapan tersebut timbul pemikiran bahwa
pembelajaran bahasa harus diutamakan penguasaan kaidah-kaidah bahasa atau tata
bahasa. Dalam hal ini pengetahuan tentang pola-pola kalimat, pola kata, dan
suku kata menjadi sangat penting, jelas, bahwa aspek kognitif bahasa
diutamakan. Dengan pendekatan struktural siswa akan menjadi cermat dalam
menyusun kalimat, karena mereka memahami kaidah-kaidahnya.
g.
Pendekatan Kontekstual
Pendekatan
kontekstual (Contextual Teaching and Learning/ CTL) merupakan konsep belajar
yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia
nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang
dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga
dan masyarakat.
Pendekatan ini
mempunyai konsep, guru menggunakan objek di sekitar siswa sebagai media pembelajaran
di kelas. Misalnya peristiwa kebakaran di Pasar Juwana dapat dijadikan bahan
atau materi menulis artikel.
B.
Metode Pembelajaran
1.
Pengertian Metode Pembelajaran.
Istilah metode berasal dari bahasa
Yunani methodos ’jalan’, ’cara’. Karena itu, metode diartikan cara
melakukan sesuatu. Metode pembelajaran bahasa ialah rencana pembelajaran
bahasa, yang mencangkup pemilihan, penentuan, dan penyusunan secara sistematis
bahan yang akan diajarkan, serta kemungkinan pengadaan remidi dan bagaimana
pengembanganya. Bahan ajar disusun secara sistematis agar mudah diserap dan
dikuasai oleh anak. Semuanya didasarkan pada pendekatan yang dianut. Melihat
hal itu, jelas bahwa suatu metode ditentukan berdasarkan pendekatan yang
dianut, dengan kata lain pendekatan merupakan dasar penentu metode yang
digunakan.
Metode, mencangkup pemilihan dan penentuan bahan ajar, penyusunan
serta kemungkinan pengadaan remediasi dan pengembangan bahan ajar tersebut.
Dalam hal ini, setelah guru menetapkan tujuan yang hendak dicapai,
ia mulai memilih bahan ajar yang sesuai dengan bahan ajar tersebut. Bahan ajar
tersebut disusun menurut urusan tingkatan kesukran, yakni yang mudah berlanjut
pada yang lebih sukar. Disamping itu, guru merencanakan pula cara mengevaluasi,
mengadakan remidi serta mengembangkan bahan ajar tersebut.
Dalam dunia pembelajaran, metode diartikan ’cara untuk mencapai
tujuan’. Jadi, metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara-cara
menyeluruh (dari awal sampai akhir) dengan urutan yang sistematis berdasarkan
pendekatan tertentu untuk mencapai tujuan-tujuan pembelajaran. Jadi, metode
merupakan cara melaksanakan pekerjaan, sedangkan pendekatan bersifat filosofis,
atau bersifat aksioma.
Dengan demikian, metode bersifat prosedural. Artinya,
menggambarkan prosedur bagaimana mencapai tujuan-tujuan pengajaran. Karena
itu, tepat bila dikatakan bahwa setiap metode pembelajaran mencakup
kegiatan-kegiatan sebagai bagian atau komponen metode itu. Kegiatan-kegiatan
sebagai bagian atau komponen metode itu bila digambarkan dalam bentuk bagan
akan tampak sebagai berikut.
|
Tahap
|
Kegiatan
|
|
I. Persiapan
|
Seleksi (pemilihan
bahan ajar dengan berpedo-man kepada kurikulum.
|
|
Gradasi(penyusunan
bahan, tujuan, dan seba-gainya sehingga menjadi rencana pembelajaran (RPP).
|
|
|
II.
Pelaksanaan
|
Presentasi awal(penyajian
atau pengenalan bahan kepada siswa)
|
|
Presentasi
lanjut(pemantapan, latihan).
|
|
|
III.
Penilaian
|
Penilaian
formatif(proses pembelajaran)
|
|
Penilaian
sumatifsudah di luar metode
|
Jadi, secara keseluruhan metode pengajaran itu mencakup tiga tahap
kegiatan, yaitu persiapan (preparasi), pelaksanaan (presentasi), dan penilaian
(evaluasi). Setiap tahap diisi pula oleh langkah-Iangkah kegiatan yang lebih
spesifik. Dari bagan di atas terlihat bahwa tahap I (persiapan) tidak kelihatan
di sekolah karena biasa dilakukan guru di rumah. Ini membuktikan bahwa metode
pengajaran itu luas cakupannya, mencakup kegiatan guru yang ada di rumah sampai
ke sekolah dalam rangka mencapai tujuan-tujuan yang sudah ditetapkan.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa metode pembelajaran adalah
rencana pembelajaran yang mencakup pemilihan, penentuan, dan peyusunan secara
sistematis bahan yang akan diajarkan, serta kemungkinan pengadaan remidi dan
bagaimana pengembangannya. Karena itu,metode pengajaran dapat dikatan sebagai cara-cara
guru mencapai tujuan pengajaran dari awal sampai akhir yang terdiri atas lima
kegiatan pokok. Kegiatan-kegiatan tersebut sebagai berikut:
1)
pemilihan bahan
2)
penyusunan bahan
3)
penyajian
4)
pemantapan, dan
5)
penilaian formatif
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa secara prosedural
sebenarnya semua metode pengajaran itu sama. Yang membedakannya adalah
pendekatan dan prinsip-prinsip yang dianutnya. Hal itu karena keduanya,
terutama pendekatan, sangat menentukan corak sebuah metode pengajaran. Metode
disusun (dilaksanakan tahap-tahapnya) dengan berpedoman kepada pendekatan dan
prinsip-prinsip yang dianut. Pendekatan (dan juga prinsip) inilah yang
mempengaruhi setiap langkah kegiatan metode, yaitu mempengaruhi pemilihan
bahan, penyusunan, pengajian, pemantapan, dan juga penilaian. Karena itu, tidak
heran bila nama-nama metode pengajaran bahasa banyak yang menggunakan nama-nama
pendekatannya. Contohnya metode komunikatif berasal dari pendekatan komunikatif
dan metode SAS berasal dari pendekatan SAS.
2.
Macam-macam metode
Terdapat metode-metode pembelajaran dari metode yang berpusat pada
guru (ekspositori), seperti ceramah, tanya jawab, demonstrasi, sampai dengan
metode yang berpusat pada siswa (discovery/ inquiry), seperti eksperimen.
a.
Metode ceramah merupakan penuturan secara lisan oleh guru
terhadap kelas.
b.
Metode tanya jawabmerupakan metode mengajar dimana guru menanyakan
hal-hal yang sifatnya faktual.
c.
Metode diskusi, guru memberikan pertanyaan-pertanyaan yang
jawabannya menggunakan informasi yang telah dipelajari untuk memecahkan suatu
masalah.
d.
Metode kerja kelompok, dengan metode ini siswa dalam suatu kelas
dipandang sebagai suatu kelompok atau dibagi atas kelompok-kelompok kecil untuk
mencapai suatu tujuan tertentu.
e.
Metode demonstrasi dan eksperimen, dengan demonstrasi guru atau
narasumber atau siswa mengadakan suatu percobaan.
f.
Metode sosiodrama dan bermain peran merupakan metode mengajar
dengan cara mendramatisasikan masalah-masalah hubungan sosial.
Merupakan suatu cara penguasaan bahan-bahan pelajaran melalui pengembangan
imajinasi dan penghayatan siswa. Pengembangan imajinasi dan penghayatan
dilakukan siswa dengan memerankannya sebagai tokoh hidup atau benda mati.
g.
Metode pemberian tugas belajar dan resitasi, dengan metode ini guru
memberikan tugas, siswa mempelajari kemudian melaporkan hasilnya.
h.
Metode karyawisata, merupakan suatu metode mengajar di mana guru
mengajak siswa ke suatu objek tertentu dalam kaitannya dengan mata pelajaran di
sekolah.
i.
Drill atau pemberian latihan merupakan cara mengajar dengan
memberikan latihan-latihan terhadap apa yang dipelajari.
j.
Metode debat, merupakan salah satu metode pembelajaran yang sangat
penting untuk meningkatkan kemampuan akademik siswa. Materi ajar dipilih dan
disusun menjadi paket pro dan kontra.
k.
Metode Pemecahan Masalah (Problem Solving) adalah penggunaan
metode dalam kegiatan pembelajaran dengan jalan melatih siswa menghadapi
berbagai masalah baik itu masalah pribadi atau perorangan maupun masalah
kelompok untuk dipecahkan sendiri atau secara bersama-sama. Memusatkan pada
masalah kehidupannya yang bermakna bagi siswa, peran guru menyajikan masalah,
mengajukan pertanyaan dan memfasilitasi penyelidikan dan dialog.
l.
Cooperative Script, adalah metode belajar dimana siswa bekerja
berpasangan dan secara lisan mengikhtisarkan bagian-bagian dari materi yang
dipelajari.
m.
Pictur e and Pictureadalah suatu metode
belajar yang menggunakan gambar dan dipasangkan/ diurutkan menjadi urutan
logis.
n.
Metode Jigsaw, dalam metode ini guru membagi satuan informasi yang
besar menjadi komponen-komponen lebih kecil. Selanjutnya guru membagi siswa ke
dalam kelompok belajar kooperatif yang terdiri dari empat orang siswa sehingga
setiap anggota bertanggungjawab terhadap penguasaan setiap komponen/ subtopik
yang ditugaskan guru dengan sebaik-baiknya.
Selain metode-metode di atas, dikemukakan juga metode pembelajaran
bahasa yang lainnya, yaitu:
1. Metode langsung
Metode
pengajaran langsung dirancang secara khusus untuk mengembangkan belajar siswa
tentang pengetahuan prosedural dan pengetahuan deklaratif yang terstruktur
dengan baik dan dapat dipelajari selangkah demi selangkah. Di dalam metode
langsung terdapat 5 fase yaitu demonstrasi, pembimbingan,pengecekan, dan
pelatihan. Di dalam metode ini terdapat teknik dalam pembelajaran menulis yaitu
teknik gambar atau menulis langsung.
2. Metode Komunikatif
Desain
yang bermuatan metode komunikatif harus mencakup semua keterampilan berbahasa.
Metode komunikatif dapat dilakukan dengan teknik menulis dialog. Siswa menulis
dialog tentang yang mereka lakukan dalam sebuah aktivitas. Kegiatan ini dapat
dilaksanakan perseorangan maupun kelompok
3. Metode Integratif
Integratif
berarti menyatukan beberap aspek ke dalam satu proses. Integratif terbagi
menjadi interbidang studi dan antarbidang studi. Interbidang studi artinya
beberapa aspek dalam satu bidang studi diintegrasikan. Misalnya, menyimak
diintegrasikan dengan berbicara dan menulis. Metode inregratif dapat
dilaksanakan dalam pembelajaran mambaca dengan memberi catatan bacaan. Siswa
dapat membuat catatan yang diangap penting atau kalimat kunci sebuah bacaan.
Dalam melakukan kegiatan membaca sekaligus siswa menulis.
4. Metode Tematik
Dalam
metode tematik, semua komponen materi pembelajaran diintegrasikan ke dalam tema
yang sama dalam satu unit pertemuan. Yang perlu dipahami adalah tema bukanlah
tujuan tetapi alat yang digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Tema
tersebut harus diolah dan disajikan secara kontekstualitas, kontemporer,
kongkret, dan konseptual. Tema yang telah ditentukan harus diolah sesuai dengan
perkembangan dan lingkungan siswa. Semua siswa dapat mengikuti proses
pembelajaran dengan logika yang dipunyainya. Siswa berangkat dari konsep ke
analisis atau dari analisis ke konsep kebahasaan, penggunaan, dan pemahaman.
5. Metode Konstruktivitas
Asumsi
sentral metode konstruktivistik adalah belajar itu menemukan. Artinya, meskipun
guru menyampaikan sesuatu kepada siswa, mereka melakukan proses mental atau
kerja otak atas informasi itu agar informasi tersebut masuk ke dalam pemahaman
mereka. Metode konstruktivistik didasarkan pada teori belajar kognitif yang
menekankan pada pembelajaran kooperatif, pembelajaran generatif strategi
bertanya, inkuiri, atau menemukan dan keterampilan metakognitif lainnya
(belajar bagaimana seharusnya belajar).
6. Metode Kontekstual
Pembelajaran
kontekstual adalah konsepsi pembelajaran yang membantu guru menghubungkan mata
pelajaran dengan situasi dunia nyata dan pembelajaran yang memotivasi siswa
agar menghubungkan pengetahuan dan terapannya dengan kehidupan sehari-hari.
Adapun metode ini dapat diterapkan dalam salah satu pembelajaran menulis
deskripsi. Siswa dapat belajar dalam situasi dunia nyata.
C.
Teknik Pembelajaran
Teknik pembelajaran merupakan cara guru menyampaikan bahan ajar
yang sudah disusun (dalam metode), berdasarkan pendekatan yang dianut. Teknik
yang digunakan oleh guru bergantung pada kemampuan guru itu mencari akal atau
siasat agar proses belajar mengajar dapat berjalan lancar dan berhasil dengan
baik. Dalam menentukan teknik pembelajaran ini, guru perlu mempertimbangan
situasi kelas, lingkungan, kondisi siswa, sifat-sifat siswa, dan
kondisi-kondisiyang lain. Dengan demikian, teknik pembelajaran yang digunakan
oleh guru dapat bervariasi sekali. Untuk metode yang sama, dapat digunakan
teknik pembelajaran yang berbeda-beda, bergantung pada berbagai factor
tersebut.
Dari uraian di atas dapat dikatakan bahwa teknik pembelajaran
adalah siasat yang dilakukan oleh guru dalam pelaksanaan kegiatan belajar
mengajar, untuk dapat memperoleh hasil yang optimal. Teknik pembelajaran
ditentukan berdasarkan metode yang digunakan, dan metode disusun berdasarkan
pendekatan yang dianut. Dengan kata lain, pendekatan menjadi dasar penentuan
teknik pembelajaran. Dari suatu pendekatan dapat diterapkan teknik pembelajaran
yang berbeda-beda pula.
Bila Anda hanya mengenal pendekatan dan metode saja
sebenarnya Anda baru mengetaui penyampaian pelajaran secara teoretis
(Hidayat dkk. 2000: 60). Karena ada suatu alat lain yang digunakan langsung
oleh guru untuk mencapai tujuan pelajaran itu, yaitu teknik.
Teknik artinya cara, yaitu cara mengerjakan atau melaksanakan
sesuatu. Jadi, teknik pengajaran atau mengajar adalah daya upaya, usaha-usaha,
cara-cara yang digunakan guru untuk melaksanakan pengajaran atau mengajar di
kelas pada waktu tatap muka dalam rangka menyajikan dan memantapkan bahan
pelajaran agar tercapai tujuan pembelajaran (TIK/TPK pada kurikulum sebelum
2004, indikator setelah kurikulum 2004) saat itu.
Karena itu, teknik bersifat implementasional (pelaksanaan) dan
terjadinya pada tahap pelaksanaan pengajaran (penyajian dan pemantapan). Kalau
kita perhatikan guru yang sedang mengajar di kelas, maka yang tampak pada
kegiatan guru – murid itu adalah teknik mengajar.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa teknik pembelajaran adalah
siasat atau cara yang dilakukan oleh guru dalam melaksanakan kegiatan belajar
mengajar untuk dapat memperoleh hasil yang optimal. Teknik pembelajaran
ditentukan berdasarkan metode yang digunakan, dan metode disusun berdasarkan
pendekatan yang dianut. Dengan kata lain, pendekatan menjadi dasar penentuan
metode, dari metode dapat ditentukan teknik. Karena itu, teknik yang
digunakan guru dapat bervariasi sekali. Untuk metode yang sama dapat digunakan
teknik pembelajaran yang berbeda-beda, bergantung pada berbagai faktor.
Karena itu, teknik pembelajaran yang digunakan guru tergantung pada
kemmapuan guru itu mencarai akal atau siasat agar proses belajar mengajar dapat
berjalan lancar dan berhasil dengan baik. Faktor-faktor yang dapat
mempengaruhi penentuan teknik pembelajaran di antaranya 1) situasi kelas,
2) lingkungan, 3) kondisi siswa, sifat-sifat siswa, dan kondisi yang lain.
Dalam percakapan sehari-hari kata metode dan taknik ini
diartikan sama, yaitu cara. Dengan demikian, guru sering mencampuradukkan
antara metode pengajaran dan teknik mengajar. Kalau teknik mengajar disebut
metode mengajar masih bisa diterima karena metode mencakup teknik. Sebaliknya,
kalau sebuah metode pengajaran disebut teknik pengajaran jelas tidak tepat sama
sekali.
Agar lebih jelas, ada baiknya kita perbandingkan metode dan teknik
ini dengan menampilkan perbedaannya sebagai berikut.
|
No.
|
Metode
|
Teknik
|
|
1
|
Mencakup
semua tahap dalam proses belajar mengajar.
|
Hanya tertuju
kepada satu tahap proses belajar mengajar, yaitu pada tahap pelaksanaan.
|
|
2
|
Bersifat
prosedural (menggam-barkan prosedur langkag-lang-kah menyeluruh proses
belajar mengajar).
|
Bersifat
implementasional (meng-gambarkan pelaksanaan pengajaran di kelas).
|
|
3
|
Tidak tampak,
tidak bisa dide-teksi dengan jelas dengan melihat guru yang sedang mengajar
di kelas.
|
Tampak pada
saat melihat guru yang sedang mengajar di kelas.
|
|
4
|
Ditunjukkan
untuk mencapai tujuan umum pengajaran (TIU/ TPU pada kurikulum sebelum 2004,
KD pada kurikulum setelah 2004).
|
Ditujukan
untuk mencapai tujuan khusus (TIK/TPK pada kurikulum sebelum 2004, indikator
untuk kurikulum setelah 2004) suatu pertemuan.
|
|
5
|
Jumlahnya
hanya satu (satu metode khusus) untuk satu bidang studi dalam satu program.
|
Jumlahnya
sangat banyak untuk setiap pengajaran bidang studi dalam suatu program.
|
|
6
|
Metode
pengajaran (metode khusus) ditetapkan oleh kur-ikulum, guru tinggal
mengi-kutinya.
|
Guru bebas
memilih teknik asal cocok dan dapat mencapai tujuan pengajaran bahan yang
sedang diajarkannya.
|
Seperti halanya prinsip, pendekatan, dan metode. Teknik
pembelajaran dapat dibagi atas dua bagian, yaitu teknik umum dan teknik khusus.
1.
Teknik Umum (Teknik Umum Mengajar)
Teknik umum
adalah cara-cara yang dapat digunakan untuk semua bidang studi. Contohnya
antara lain:
a.
teknik ceramah, merupakan penuturan secara lisan oleh guru terhadap
kelas.
b.
teknik tanya jawab, merupakan metode mengajar dimana guru
menanyakan hal-hal yang sifatnya faktual
c.
teknik diskusi, guru memberikan pertanyaan-pertanyaan yang
jawabannya menggunakan informasi yang telah dipelajari untuk memecahkan suatu
masalah
d.
teknik ramu pendapat
e.
teknik pemberian tugas, dengan metode ini guru memberikan tugas,
siswa mempelajari kemudian melaporkan hasilnya
f.
teknik latihan, merupakan cara mengajar dengan memberikan
latihan-latihan terhadap apa yang dipelajari.
g.
teknik inquiri, siswa diberi kesempatan untuk meneliti suatu
masalah sehingga dapat menemukan cara pemecahannya.
h.
teknik demonstrasi
i.
teknik simulasi
Nama-nama teknik umum ini sama seperti nama-nama metode umum, namun
wujudnya tentu berbeda. Misalnya ceramah. Sebagai metode, ceramah mencakup
pemilihan, penyusunan, dan penyajian bahan. Bahkan, metode ceramah juga
mencakup bagaimana menyajikan bahan, dan biasanya teknik ceramah itu hanya
salah satu teknik yang dipakai dalam suatu pertemuan atau kegiatan belajar
mengajar.
2.
Teknik Khusus (Teknik Khusus Pengajaran Bidang Studi Tertentu)
Teknik khusus adalah cara mengajarkan (menyajikan atau
memantapkan) bahan-bahan pelajaran bidang studi tertentu. Teknik khusus
pengajaran bahasa mempunyai ragam dan jumlah yang sangat banyak. Hal ini karena
teknik mengacu kepada penyajian materi dalam lingkup yang keci!. Sebagai
contoh, teknik pengajaran keterampilan berbahasa terdiri atas teknik
pembelajaran membaca, teknik pembelajaran menulis, teknik pembelajaran
berbicara, teknik pembelajaran menyimak, teknik pembelajaran tata bahasa, dan
teknik pembelajaran kosa kata. Pembelajaran membaca terbagi pula atas teknik
pembelajaran membaca permulaan dan teknik pembelajaran membaca lanjut.
Masing-masing terdiri pula atas banyak macam. Begitulah, teknik khusus itu
banyak sekali macamnya karena teknik khusus itu berhubungan dengan rincian
bahan pembelajaran.
Dalam setiap kegiatan belajar mengajar, misalnya guru bahasa
Indonesia, hanya menggunakan satu metode, katakanlah metode khusus pembelajaran
bahasa (yang ditunjang sejum!ah pendekatan dan prinsip), tetapi menggunakan
sejumlah teknik, baik umum maupun khusus. Teknik ini setiap saat divariasikan
Daftar Pustaka
Zulela.2012.Pembelajaran bahasa
Indonesia.Bandung:Remaja Rosdakarya
Ngalimun,dkk.2014.Pembelajaan Ketrampilan
Berbahasa Indonesia.Jogjakarta:swaja pressindo
XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
Kelompok.........8
GAYA BELAJAR
A.
Pengertian
Belajar
Belajar adalah
suatu proses. Artinya kegiatan belajar terjadi secara dinamis dan terus-menerus
yang menyebabkan terjadinya perubahan dalam diri anak. Perubahan yang dimaksud
dapat berupa pengetahuan (knowledge) atau perilaku (behavior).
Dua anak yang tumbuh dalam kondisi dan lingkungan yang sama dan
meskipun mendapat perlakuan yang sama, belum tentu akan memiliki pemahanan,
pemikiran dan pandangan yang sama terhadap dunia sekitarnya. Masing-masing
memiliki cara pandang sendiri terhadap setiap peristiwa yang dilihat dan
dialaminya. Cara pandang inilah yang kita kenal sebagai "Gaya
Belajar".
Kata "belajar" yang sering dipersepsikan sebagai tindakan
murid duduk diam di dalam kelas, mendengarkan penjelasan guru, dan membaca
textbook BUKANLAH arti "belajar" yang sebenarnya yang akan kita bahas
dalam artikel ini.
Belajar sebenarnya mengandung arti bagaimana kita menerima
informasi dari dunia sekitar kita dan bagaimana kita memproses dan menggunakan
informasi tersebut. Mengingat setiap individu memiliki keunikan tersendiri dan
tidak pernah ada dua orang yang memiliki pengalaman hidup yang sama persis,
hampir dipastikan bahwa "Gaya Belajar" masing-masing orang berbeda
satu dengan yang lain. Namun, di tengah segala keragaman "Gaya
Belajar" tersebut, banyak ahli mencoba menggunakan klasifikasi atau
pengelompokan "Gaya Belajar" untuk memudahkan kita semua, khususnya
para guru, dalam menjalankan tugas pendidikan dengan lebih strategis.
Selain itu juga gaya belajar atau learning style adalah suatu
karakteristik kognitif, afektif dan perilaku psikomotoris, sebagai indikator
yang bertindak yang relatif stabil untuk pebelajar merasa saling berhubungan
dan bereaksi terhadap lingkungan belajar (NASSP dalam Ardhana dan Willis, 1989
: 4).
Gaya belajar mengacu pada cara belajar yang lebih disukai
pebelajar. Umumnya, dianggap bahwa gaya belajar seseorang berasal dari variabel
kepribadian, termasuk susunan kognitif dan psikologis latar belakang sosio
cultural, dan pengalaman pendidikan (Nunan, 1991: 168).
Keanekaragaman Gaya belajar mahasiswa perlu diketahui pada awal
permulaannya diterima pada suatu lembaga pendidikan yang akan ia jalani. Hal
ini akan memudahkan bagi pembelajar untuk belajar maupun pembelajar untuk
mengajar dalam proses pembelajaran. Pembelajar akan dapat belajar dengan baik
dan hasil belajarnya baik, apabila ia mengerti gaya belajarnya. Hal tersebut
memudahkan pembelajar dapat menerapkan pembelajaran dengan mudah dan tepat.
Meningkatkan kemampuan intelegensinya (Kolb 1984 ), yang sangat mempengaruhi
hasil belajar. Hasil belajar merupakan gambaran tingkat penguasaan mahasiswa
terhadap sasaran belajar pada topik bahasan yang dieksperimenkan, yang diukur
dengan berdasarkan jumlah skor jawaban benar pada soal yang disusun sesuai
dengan sasaran belajar.
Belajar di bidang formal tidak selalu menyenangkan. Apalagi jika
belajar dengan terpaksa . Menghadapi keterpaksaan untuk belajar jelas bukan hal
yang menyenangkan. Tidak akan mudah bagi seseorang untuk berkonsentrasi belajar
jika ia merasa terpaksa. Oleh karena itu, diperlukan jalan bagaimana agar
belajar menjadi hal yang menyenangkan, atau .... walaupun tetap terpaksa, tapi
dapat menjadi lebih mudah dan efektif.
Para ahli di bidang pendidikan mencoba mengembangkan teori mengenai
gaya belajar sebagai cara untuk mencari jalan agar belajar menjadi hal yang
mudah dan menyenangkan. Sebagaimana kita ketahui, belajar membutuhkan konsentrasi.
Situasi dan kondisi untuk berkonsentrasi sangat berhubungan dengan gaya
belajar. Jika kita mengenali gaya belajar, maka kita dapat mengelola
pembelajaran pada kondisi apa, dimana, kapan dan bagaimana cara pembelajaran
yang baik dan efektif.
Gaya belajar setiap orang dipengaruhi oleh faktor alamiah
(pembawaan) dan faktor
lingkungan . Jadi
ada hal-hal tertentu yang tidak dapat diubah dalam diri seseorang bahkan dengan
latihan sekalipun. Tetapi ada juga hal-hal yang dapat dilatihkan dan
disesuaikan dengan lingkungan yang terkadang justru tidak dapat diubah.
Mengenali gaya belajar sendiri, belum tentu membuat kita menjadi
lebih pandai. Tapi dengan mengenali gaya belajar, kita akan dapat menentukan
cara belajar yang lebih efektif. Anda tahu bagaimana memanfaatkan kemampuan
belajar secara maksimal, sehingga hasil belajar yang diperoleh dapat optimal.
B.
Macam-macam
Gaya Belajar Menurut Para Ahli
1.
Gaya Belajar
Menurut David Kolb
Tanpa disadari dan direncanakan sebelumnya, setiap anak memiliki
cara belajarnya sendiri. Mencoba mengenali "Gaya Belajar" anak, dan
tentunya setelah guru mengenali "Gaya Belajar"nya sendiri, akan
membuat proses belajar-mengajar jauh lebih efektif.
Dari sekian banyak teori atau temuan mengenai "Gaya
Belajar", dalam kesempatan ini kita akan membahas sebuah model yang
dikemukakan oleh David Kolb (Styles of Learning Inventory, 1981).
David Kolb mengemukakan adanya empat kutub (a-d) kecenderungan
seseorang dalam proses belajar, kutub-kutub tersebut antara lain:
a.
Kutub
Perasaan/FEELING (Concrete Experience)
Anak belajar melalui perasaan, dengan menekankan segi-segi
pengalaman kongkret, lebih mementingkan relasi dengan sesama dan sensitivitas
terhadap perasaan orang lain. Dalam proses belajar, anak cenderung lebih
terbuka dan mampu beradaptasi terhadap perubahan yang dihadapinya.
b.
Kutub Pemikiran/THINKING (Abstract
Conceptualization)
Anak belajar melalui pemikiran dan lebih terfokus pada analisis
logis dari ide-ide, perencanaan sistematis, dan pemahaman intelektual dari
situasi atau perkara yang dihadapi. Dalam proses belajar, anak akan
mengandalkan perencanaan sistematis serta mengembangkan teori dan ide untuk
menyelesaikan masalah yang dihadapinya.
c.
Kutub Pengamatan/WATCHING (Reflective
Observation)
Anak belajar melalui pengamatan, penekanannya mengamati sebelum
menilai, menyimak suatu perkara dari berbagai perspektif, dan selalu menyimak
makna dari hal-hal yang diamati. Dalam proses belajar, anak akan menggunakan
pikiran dan perasaannya untuk membentuk opini/pendapat.
d.
Kutub Tindakan/DOING (Active Experimentation)
Anak belajar melalui tindakan, cenderung kuat dalam segi kemampuan
melaksanakan tugas, berani mengambil resiko, dan mempengaruhi orang lain lewat
perbuatannya. Dalam proses belajar, anak akan menghargai keberhasilannya dalam
menyelesaikan pekerjaan, pengaruhnya pada orang lain, dan prestasinya.
Menurut Kolb, tidak ada individu yang gaya belajarnya secara mutlak
didominasi oleh salah satu saja dari kutub tadi. Yang biasanya terjadi adalah
kombinasi dari dua kutub dan membentuk satu kecenderungan atau orientasi
belajar. Empat kutub di atas membentuk empat kombinasi gaya belajar.
Pada model di atas, empat kombinasi gaya belajar diwakili oleh
angka 1 hingga 4, dengan penjelasan seperti di bawah ini:
1.
Gaya Diverger
Kombinasi dari perasaan dan pengamatan (feeling and watching). Anak
dengan tipe Diverger unggul dalam melihat situasi kongkret dari banyak sudut
pandang yang berbeda. Pendekatannya pada setiap situasi adalah
"mengamati" dan bukan "bertindak". Anak seperti ini
menyukai tugas belajar yang menuntutnya untuk menghasilkan ide-ide
(brainstorming), biasanya juga menyukai isu budaya serta suka sekali
mengumpulkan berbagai informasi.
2.
Gaya
Assimillator
Kombinasi dari berpikir dan mengamati (thinking and watching). Anak
dengan tipe Assimilator memiliki kelebihan dalam memahami berbagai sajian
informasi serta merangkumkannya dalam suatu format yang logis, singkat, dan
jelas. Biasanya anak tipe ini kurang perhatian pada orang lain dan lebih
menyukai ide serta konsep yang abstrak, mereka juga cenderung lebih teoritis.
3.
Gaya Converger
Kombinasi dari berfikir dan berbuat (thinking and doing). Anak
dengan tipe Converger unggul dalam menemukan fungsi praktis dari berbagai ide
dan teori. Biasanya mereka punya kemampuan yang baik dalam pemecahan masalah
dan pengambilan keputusan. Mereka juga cenderung lebih menyukai tugas-tugas
teknis (aplikatif) daripada masalah sosial atau hubungan antar pribadi.
4.
Gaya
Accomodator.
Kombinasi dari perasaan dan tindakan (feeling and doing). Anak
dengan tipe Accommodator memiliki kemampuan belajar yang baik dari hasil
pengalaman nyata yang dilakukannya sendiri. Mereka suka membuat rencana dan
melibatkan dirinya dalam berbagai pengalaman baru dan menantang. Mereka cenderung
untuk bertindak berdasarkan intuisi / dorongan hati daripada berdasarkan
analisa logis. Dalam usaha memecahkan masalah, mereka biasanya mempertimbangkan
faktor manusia (untuk mendapatkan masukan / informasi) dibanding analisa
teknis.
Menyimak berbagai gaya belajar di atas, sebagai guru perlu kiranya
kita tetap sensitif terhadap strategi belajar kita sendiri, yang mungkin sama
atau sama sekali berbeda dengan orientasi belajar peserta didik di kelas.
Perbedaan itu dapat menimbulkan kesulitan dalam kegiatan belajar-mengajar
(dalam interaksi, komunikasi, kerjasama, dan penilaian).
Jika mengajar kita pahami sebagai kesempatan membantu peserta didik
untuk belajar, maka kita harus berusaha membantu mereka memahami "Style of
Learning"nya, dengan tujuan meningkatkan segi-segi yang kuat dan
memperbaiki sisi-sisi yang lemah dari padanya.
2.
Gaya menurut
Bobbi DePorter bersama Mike Hernacki didalam bukunya ”Quantum Learning”
Gaya belajar ada 3 dengan Karakteristik sebagai berikut :
a.
Visual (belajar
dengan cara melihat)
Lirikan keatas bila berbicara, berbicara dengan cepat. Bagi
siswa yang bergaya belajar visual, yang memegang peranan penting adalah mata /
penglihatan ( visual ), dalam hal ini metode pengajaran yang digunakan guru
sebaiknya lebih banyak / dititikberatkan pada peragaan / media, ajak mereka ke
obyek-obyek yang berkaitan dengan pelajaran tersebut, atau dengan cara
menunjukkan alat peraganya langsung pada siswa atau menggambarkannya di papan
tulis. Anak yang mempunyai gaya belajar visual harus melihat bahasa tubuh dan
ekspresi muka gurunya untuk mengerti materi pelajaran. Mereka cenderung untuk
duduk di depan agar dapat melihat dengan jelas. Mereka berpikir menggunakan
gambar-gambar di otak mereka dan belajar lebih cepat dengan menggunakan
tampilan-tampilan visual, seperti diagram, buku pelajaran bergambar, dan video.
Di dalam kelas, anak visual lebih suka mencatat sampai detil-detilnya untuk
mendapatkan informasi.
Ciri-ciri gaya belajar visual :
1. Bicara
agak cepat
2. Mementingkan
penampilan dalam berpakaian/presentasi
3. Tidak
mudah terganggu oleh keributan
4. Mengingat
yang dilihat, dari pada yang didengar
5. Lebih
suka membaca dari pada dibacakan
6. Pembaca
cepat dan tekun
7. Seringkali
mengetahui apa yang harus dikatakan, tapi tidak pandai memilih kata-kata
8. Lebih
suka melakukan demonstrasi dari pada pidato
9. Lebih
suka musik dari pada seni
10. Mempunyai masalah untuk mengingat instruksi verbal kecuali
jika ditulis, dan seringkali minta bantuan orang untuk mengulanginya
Strategi untuk mempermudah proses belajar anak visual :
1.
Gunakan materi visual seperti, gambar-gambar, diagram dan peta.
2.
Gunakan warna untuk menghilite hal-hal penting.
3.
Ajak anak untuk membaca buku-buku berilustrasi.
4.
Gunakan multi-media (contohnya: komputer dan video).
5.
Ajak anak untuk mencoba mengilustrasikan ide-idenya ke dalam gambar.
b.
Auditori
(belajar dengan cara mendengar)
Lirikan kekiri/kekanan mendatar bila berbicara, berbicara
sedang2 saja.Siswa yang bertipe auditori mengandalkan kesuksesan
belajarnya melalui telinga ( alat pendengarannya ), untuk itu maka guru
sebaiknya harus memperhatikan siswanya hingga ke alat pendengarannya. Anak yang
mempunyai gaya belajar auditori dapat belajar lebih cepat dengan menggunakan
diskusi verbal dan mendengarkan apa yang guru katakan. Anak auditori dapat
mencerna makna yang disampaikan melalui tone suara, pitch (tinggi rendahnya),
kecepatan berbicara dan hal-hal auditori lainnya. Informasi tertulis terkadang
mempunyai makna yang minim bagi anak auditori mendengarkannya. Anak-anak seperi
ini biasanya dapat menghafal lebih cepat dengan membaca teks dengan keras dan
mendengarkan kaset.
Ciri-ciri gaya belajar auditori :
1. Saat
bekerja suka bicara kepada diri sendiri
2. Penampilan
rapi
3. Mudah
terganggu oleh keributan
4. Belajar dengan mendengarkan dan mengingat apa yang
didiskusikan dari pada yang dilihat
5. Senang
membaca dengan keras dan mendengarkan
6. Menggerakkan bibir mereka dan mengucapkan tulisan di buku
ketika membaca
7. Biasanya
ia pembicara yang fasih
8. Lebih
pandai mengeja dengan keras daripada menuliskannya
9. Lebih
suka gurauan lisan daripada membaca komik
10. Mempunyai
masalah dengan pekerjaan-pekerjaan yang melibatkan Visual
11. Berbicara
dalam irama yang terpola
12. Dapat
mengulangi kembali dan menirukan nada, berirama dan warna suara
Strategi untuk mempermudah proses belajar anak auditori :
1. Ajak anak untuk ikut berpartisipasi dalam diskusi baik di dalam
kelas maupun di dalam keluarga.
2.
Dorong anak untuk membaca materi pelajaran dengan keras.
3.
Gunakan musik untuk mengajarkan anak.
4.
Diskusikan ide dengan anak secara verbal.
5. Biarkan anak merekam materi pelajarannya ke dalam kaset dan
dorong dia untuk mendengarkannya sebelum tidur.
c.
Kinestetik
(belajar dengan cara bergerak, bekerja dan menyentuh)
Lirikan kebawah bila berbicara, berbicara lebih lambat. Anak
yang mempunyai gaya belajar kinestetik belajar melalui bergerak, menyentuh, dan
melakukan. Anak seperti ini sulit untuk duduk diam berjam-jam karena keinginan
mereka untuk beraktifitas dan eksplorasi sangatlah kuat. Siswa yang bergaya
belajar ini belajarnya melalui gerak dan sentuhan.
Ciri-ciri
gaya belajar kinestetik :
1. Berbicara
perlahan
2. Penampilan
rapi
3. Tidak
terlalu mudah terganggu dengan situasi keributan
4. Belajar
melalui memanipulasi dan praktek
5. Menghafal
dengan cara berjalan dan melihat
6. Menggunakan
jari sebagai petunjuk ketika membaca
7. Merasa
kesulitan untuk menulis tetapi hebat dalam bercerita
8. Menyukai buku-buku dan mereka mencerminkan aksi dengan
gerakan tubuh saat membaca
9. Menyukai
permainan yang menyibukkan
10. Tidak dapat mengingat geografi, kecuali jika mereka memang
pernah berada di tempat itu
11. Menyentuh orang untuk mendapatkan perhatian mereka
Menggunakan kata-kata yang mengandung aksi
Strategi untuk mempermudah proses belajar anak kinestetik:
1. Jangan paksakan anak untuk belajar sampai berjam-jam.
2. Ajak anak untuk belajar sambil mengeksplorasi lingkungannya
(contohnya: ajak dia baca sambil bersepeda, gunakan obyek sesungguhnya untuk
belajar konsep baru).
3.
Izinkan anak untuk mengunyah permen karet pada saat belajar.
4.
Gunakan warna terang untuk menghilite hal-hal penting dalam bacaan.
5.
Izinkan anak untuk belajar sambil mendengarkan musik.
3.
Gaya belajar
menurut Dave Meier dalam bukunya The Accelerated Learning
Gaya belajar menurut Dave Meier dikenal dengan sebutan pendekatan
SAVI
a.
Belajar
”Somatis”
”Somatis” berasal dari bahasa Yunani yang berarti tubuh-soma
(seperti dalam psikosomatis). Jadi belajar somatis berarti belajar dengan indra
peraba, kinestetis, praktis-melibatkan fisik dan menggunakan serta menggerakkan
tubuh sewaktu belajar.
b.
Belajar
”Auditori”
Belajar Auditori adalah cara belajar dengan menggunakan
pendengaran. Belajar auditori merupakan cara belajar standar bagi semua
masyarakat sejak adanya manusia. Telinga terus menerus menangkap dan menyimpan
informasi auditori, bahkan tanpa disadari seseorang mampu membuat beberapa area
penting didalam otak menjadi aktif.
c.
Belajar
”Visual”
Ketajaman visual, meskipun lebih menonjol pada sebagian orang,
sangat kuat dalam diri setiap orang. Alasannya adalah bahwa didalam otak
terdapat lebih banyak perangkat untuk memproses informasi visual dari pada
semua indra yang lain. Setiap orang (terutama pembelajar visual) lebih mudah
belajar jika dapat ”melihat” apa yang sedang dibicarakan seseorang penceramah
atau sebuah buku atau program komputer dan lain-lain. Pembelajar visual belajar
paling baik jika mereka dapat melihat contoh dari dunia nyata.
d.
Belajar
”Intelektual”
Kata ”Intelektual” menunjukkan apa yang dilakukan pembelajar dalam
pikiran mereka secara internal ketika mereka menggunakan kecerdasan untuk
merenung suatu pengalaman dan menciptakan hubungan, makna, rencana dan nilai
dari pengalaman tersebut. ”Intelektual” adalah bagian dari merenung, mencipta,
memecahkan masalah dan membangun makna.
Intelektual (menurut Dave meier) adalah pencipta makna dalam
pikiran, sarana yang digunakan manusia untuk ”berfikir”, menyatukan pengalaman,
menciptakan jaringan saraf baru dan belajar. Ia menghubungkan pengalaman
mental, fisik, emosiaonal dan intuitif tubuh untuk membuat makana baru bagi
dirinya sendiri. Itulah sarana yang digunakan pikiran untuk mengubah pengalaman
menjadi pengetahuan, pengetahuan menjadi pemahaman, dan pemahaman diharapkan
menjadi kearifan.
4.
Gaya Belajar
menurut Depdiknas
Tujuh Gaya Belajar Efektif
Banyak gaya yang bisa dipilih untuk belajar secara efektif. Berikut
adalah tujuh gaya belajar yang mungkin bisa kita ambil :
a.
Bermain dengan
kata.
Gaya ini bisa kita mulai dengan mengajak seorang teman yang senang
bermain dengan bahasa, seperti bercerita dan membaca serta menulis. Gaya
belajar ini sangat menyenangkan karena bisa membantu kita mengingat nama,
tempat, tanggal, dan hal-hal lainya dengan cara mendengar kemudian
menyebutkannya.
b.
Bermain dengan
pertanyaan.
Bagi sebagian orang, belajar makin efektif dan bermanfaat bila itu
dilakukan dengan cara bermian dengan pertanyaan. Misalnya, kita memancing
keinginan tahuan dengan berbagai pertanyaan. Setiaop kali muncuil jawaban,
kejar dengan pertanyaan, hingga didapatkan hasil yang paling akhirnya atau
kesimpulan.
c.
Bermain dengan
gambar.
Anda sementar orang yang lebih suka belajar dengan membuat gambar,
merancang, melihat gambar, slide, video atau film. Orang yang memiliki
kegemaran ini, biasa memiliki kepekaan tertentu dalam menangkap gambar atau
warna, peka dalam membuat perubahan, merangkai dan membaca kartu. Jika Anda
termasuk kelompok ini, tak salah bila Anda mencoba mengikutinya.
d.
Bermain dengan
musik.
Detak irama, nyanyian, dan mungkin memainkan salah satu instrumen
musik, atau selalu mendengarkan musik. Ada banyak orang yang suka mengingat
beragam informasi dengan cara menginat notasi atau melodi musik. Ini yang
disebut sebagai ritme hidup. Mereka berusaha mendapatkan informasi terbaru
mengenai beragam hal dengan cara mengingat musik atau notasinya yang kemudian
bisa membuatnya mencari informasi yang berkaitan dengan itu. Misalnya
mendegarkan musik jazz, lalu tergeliik bagaimanalagu itu dibuat, siapa yang
membuat, dimana, dan pada saat seperti apa lagu itu muncul. Informasi yang
mengiringi lagu itu, bisa saja tak sebatas cerita tentang musik, tapi juga
manusia, teknologi, dan situasi sosial politik pada kurun waktu tertentu
e.
Bermain dengan
bergerak.
Gerak manusia, menyentuh sambil berbicara dan menggunakan tubuh
untuk mengekspresikan gagasan adalah salah satu cara belajar yang menyenangkan.
Mereka yang biasanya mudah memahami atau menyerap informasi dengan cara ini
adalah kalangan penari, olahragawan. Jadi jika Anda termasuk kelompok yang
aktif, tak salah mencoba belajar sambil tetap melakukan beragam aktivitas
menyenangkan seperti menari atau berolahraga.
f.
Bermain dengan
bersosialisasi.
Bergabung dan membaur dengan orang lain adalah cara terbaik
mendapat informasi dan belajar secara cepat. Dengan berkumpul, kita bisa
menyerap berbagai informasi terbaru secara cepat dan mudah memahaminya. Dan
biasanya, informasi yang didapat dengan cara ini, akan lebih lama terekam dalam
ingatan.
g.
Bermain dengan
Kesendirian.
Ada sebagian orang yang gemar melakukan segala sesuatunya, termasuk
belajar dengan menyepi. Untuk mereka yang seperti ini, biasanya suka tempat
yang tenang dan ruang yang terjaga privasinya. Jika Anda termasuk yang seperti
ini, maka memiliki kamar pribadi akan sangat membantu Anda bisa belajar secara
mandiri.
Lima Prinsip Belajar :
a.
Mengenali betul
apa yang menarik untuk kita
Jika kita mengetahui betul apa sesungguhnya yang menarik bagi kita,
tentu akan lebih mudah mencari ragam informasi penting yang akan kita pelajari.
Tak ada seorang pun yang mampu memberikan informasi tentang apa yang menarik
untuk kita pelajari kecuali kita sendiri.
Ada baiknya, sekali waktu, Anda berhenti dulu belajar, lalu
tanyakan pada diri Anda sendiri, untuk apa Anda belajar? Jika Anda cukup punya
alasannya, tak salah bila Anda mencoba mengujinya dengan mengikuti beberapa tes
untuk melihat tingkat pemahaman kita dan cara untuk meningkatkannya. Hal
terpenting yang perlu diingat adalah seberapa cepat pun kita bisa memahami
suatu informasi, maka informasi itu dengan mudah bisa hilang dari ingatan jika
ternyata informasi tersebut bukan seperti sesuatu yang menjadi inti
ketertarikan kita.
b.
Kenalilah
kepribadian diri sendiri.
Jika kita tahu betul siap kita dan apa yang kita inginkan, maka
mempelajari sesuatu yang sesuai dengan keinginan dan kepribadian kita menjadi
lebih mudah dilakukan. Sebab, apapun yang akan kita pelajari dan pahami,
seringkali menjadi sia-sia jika ternyata tak sesuai dengan kepribadian kita.
c.
Rekam semua
informasi dalam kata.
Langkah yang paling mudah untuk memahami, mengingat dan mempelajari
sesuatu adalah dengan kata. Jadi, langkah yang paling mudah dan bijaksana
adalah bila kita terbiasa merekam semua informasi itu dengan cara menuliskannya
kembali dalam bentuk apa saja. Gambar, coretan dan yang terbaik adalah catatan
tertulis buatan tangan sendiri.
d.
Belajar bersama
orang lain.
Cara termudah untuk belajar sesungguhnya adalah bila kita
melakukannya secara bersama-sama. Prinsip belajar ini hampir selalu efektif
bagi setiap orang, apa pun karakter belajar yang dimilikinya. Selain itu,
belajar juga menjadi terasa lebih menyenangkan dan ringan, bila dilakukan
secara bersama-sama.
e.
Hargai diri
sendiri.
Belajar memahami dan menyerap informasi akan menjadi lebih terasa
bermanfaat dan berarti bila kita menghargainya. Jadi, rencanakan apa yang Anda
akan pelajari dan pahami. Setelah itu, cobalah membuat jeda di antara waktu
belajar yang Anda laklukan. Setelah itu, lihat seberapa besar tingkat
keberhasilan Anda dalam mempelajari suatu informasi atau fakta tertentu. Bila
Anda merasa itu berhasil, maka Anda layak menghargai jerih-payah Anda belajar
dengan cara apa saja. Misalnya, merayakannya dengan makan enak atau membeli
sesuatu yang bisa mengingatkan Anda akan keberhasilan yang Anda pernah capai.
Daftar Pustaka
Mulyani dan Syaodih, N. (2007).Perkembangan Peserta
Didik. Jakarta: Universitas Terbuka.
Fokus CM 31, (2008). Mengenal Tipe Gaya
Belajar. Jakarta: Wikipedia[Online]. Tersedia
De Porter, Bobbi dan Hernacki, Mike. 2007. Quantum Learning.
Jakarta: Kaifa
Hidayana, Herma. 2009. Pengaruh Gaya Belajar terhadap Prestasi Belajar Siswa
Hidayana, Herma. 2009. Pengaruh Gaya Belajar terhadap Prestasi Belajar Siswa
XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
Kelompok......9
TEORI BELAJAR KOGNITIF
A.
Pengertian Teori Belajar Kognitif
Secara bahasa Kognitif berasal dari bahasa
latin ”Cogitare”artinya berfikir.[1] Dalam
pekembangan selanjutnya, kemudian istilah kognitif ini menjadi populer sebagai
salah satu wilayah psikologi manusia/satu konsep umum yang mencakup semua
bentuk pengenalan yang meliputi setiap perilaku mental yang berhubungan dengan
masalah pemahaman, memperhatikan, memberikan, menyangka, pertimbangan,
pengolahan informasi, pemecahan masalah, kesengajaan, pertimbangan,
membayangkan, memperkirakan, berpikir dan keyakinan.
Sedangkan secara istilah dalam pendidikan Kognitif adalah salah
satu teori diantara teori-teori belajar dimana belajar adalah pengorganisasian
aspek-aspek kognitif dan persepsi untuk memperoleh pemahaman. Dalam model ini,
tingkah laku seseorang ditentukan oleh persepsi dan pemahamannya tentang
situasi yang berhubungan dengan tujuan, dan perubahan tingkah laku, sangat
dipengaruhi oleh proses belajar berfikir internal yang terjadi selama proses
belajar.[2]
Teori
belajar ini hadir dan muncul disebabkan para Ahli Psikologi belum puas dengan
penjelasan yang teori-teori yang terdahulu. Mereka berpendapat bahwa tingkah
laku seseorang selalu di dasarkan pada kognisi, yaitu suatu perbuatan
mengetahui atau perbuatan pikiran terhadap situasi dimana tingkah laku itu
terjadi.[3] Teori
belajar kognitif lebih menekankan pada belajar merupakan suatu proses yang
terjadi dalam akal pikiran manusia. Seperti juga diungkapkan oleh Winkel (1996)
bahwa “Belajar adalah suatu aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam
interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam
pengetahuan pemahaman, ketrampilan dan nilai sikap. Perubahan itu bersifat
secara relatif dan berbekas”.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya belajar adalah suatu
proses usaha yang melibatkan aktivitas mental yang terjadi dalam diri manusia
sebagai akibat dari proses interaksi aktif dengan lingkungannya untuk
memperoleh suatu perubahan dalam bentuk pengetahuan, pemahaman, tingkah laku,
keterampilan dan nilai sikap yang bersifat relatif dan berbekas. Objek-objek
yang di amatinya dihadirkan dalam diri seseorang melalui tanggapan, gagasan,
atau lambing yang merupakan sesuatu yang bersifat mental. Misalnya, seseorang menceritakan
hasil perjalanannya berupa pengalaman kepada temannya. Ketika dia menceritakan
pengalamannya selama dalam perjalanan, dia tidak dapat mennghadirkan
objek-objek yang pernah dilihatnya selama dalam perjalanan itu, dia hanya dapat
menggambarkan semua objek itu dalam bentuk kata-kata atau kalimat.[4]
Dari keterangan dan penjelasan di atas dapat pemakalah simpulkan
bahwa Kognitif adalah salah satu ranah dalam taksonomi pendidikan. Secara umum
kognitif diartikan potensi intelektual yang terdiri dari beberapa tahapan,
yaitu ; pengetahuan (knowledge), pemahaman (comprehention), penerapan
(aplication), analisa (analysis), sintesa (sinthesis), evaluasi (evaluation).
Kognitif berarti persoalan yang menyangkut kemampuan untuk mengembang kan
kemampuan rasional (akal).
A.
Teori Belajar Koqnitif
menurut Jean Piaget
Menurut Piaget, perkembangan kognitif merupakan suatu proses
genetika, yaitu proses yang didasarkan atas mekanisme biologis, yaitu
perkembangan system syaraf. Dengan bertambahnya umur maka susunan syaraf
seseorang akan semakin kompleks dan memungkinkan kemampuannya akan semakin
meningkat.[5] Jean
Piaget meneliti dan menulis subjek perkembangan kognitif ini dari tahun 1927
sampai 1980. Berbeda dengan para ahli-ahli psikologi sebelumnya, Piaget
menyatakan bahwa cara berpikir anak bukan hanya kurang matang dibandingkan
dengan orang dewasa karena kalah pengetahuan , tetapi juga berbeda secara
kualitatif. Menurut penelitiannya juga bahwa tahap-tahap perkembangan individu
/pribadi serta perubahan umur sangat mempengaruhi kemampuan belajar individu.[6]
Piaget mengembangkan teori perkembangan kognitif yang cukup dominan
selama beberapa dekade. Dalam teorinya Piaget membahas pandangannya tentang
bagaimana anak belajar. Menurut Jean Piaget, dasar dari belajar adalah
aktivitas anak bila ia berinteraksi dengan lingkungan sosial dan lingkungan
fisiknya. Pertumbuhan anak merupakan suatu proses sosial. Anak tidak
berinteraksi dengan lingkungan fisiknya sebagai suatu individu terikat, tetapi
sebagai bagian dari kelompok sosial. Akibatnya lingkungan sosialnya berada
diantara anak dengan lingkungan fisiknya. Interaksi anak dengan orang lain
memainkan peranan penting dalam mengembangkan pandangannya terhadap alam.
Melalui pertukaran ide-ide dengan orang lain, seorang anak yang tadinya
memiliki pandangan subyektif terhadap sesuatu yang diamatinya akan berubah
pandangannya menjadi obyektif.
Proses belajar haruslah di sesuaikan dengan perkembagan syaraf
seorang anak, dengan bertambahnya umur maka susunan saraf seorang akan semakin
kompleks dan memungkinkan kemampuannya semakin meningkat. Karena itu proses
belajar seseorang akan mengikuti pola dan tahap perkembangan tertentu sesuai
dengan umurnya. Perjenjangan ini bersifat hierarki, yaitu melalui tahap-tahap
tertentu sesuai dengan umurnya. Seseorang tidak dapat mempelajari sesuatu yang
diluar kemampuan kognitifnya.[7] Dalam
perkembangan intelektual ada tiga hal penting yang menjadi perhatian Piaget
yaitu :
a.
Struktur, Piaget memandang ada hubungan fungsional antara tindakan
fisik, tindakan mental dan perkembangan logis anak-anak. Tindakan (action)
menuju pada operasi-operasi dan operasi-operasi menuju pada perkembangan
struktur-struktur.
b.
Isi, merupakan pola perilaku anak yang khas yang tercermin pada
respon yang diberikannya terhadap berbagai masalah atau situasi yang
dihadapinya.
c.
Fungsi, Adalah cara yang digunakan organisme untuk membuat kemajuan
intelektual. Menurut Piaget perkembangan intelektual didasarkan pada dua fungsi
yaitu organisasi dan adaptasi. Organisasi memberikan pada organisme kemampuan
untuk mengestimasikan atau mengorganisasi proses-proses fisik atau psikologis
menjadi sistem-sistem yang teratur dan berhubungan. Adaptasi, terhadap
lingkungan dilakukan melalui dua proses yaitu asimilasi dan akomodasi.[8]
Menurut Pieget, proses belajar sebenarnya terdiri dari tiga
tahapan, yaitu asimilasi, akomodasi dan equilibrasi.
a.
Asimilasi, adalah proses penyatuan informasi baru ke struktur
kognitif yang sudah ada dalam benak siswa.
b.
Akomodasi, adalah proses penyesuaian struktur kognitif ke dalam
situasi baru.
Menurut Piaget, bahwa belajar akan lebih berhasil apabila
disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif peserta didik. Peserta didik
hendaknya diberi kesempatan untuk melakukan eksperimen dengan obyek fisik, yang
ditunjang oleh interaksi dengan teman sebaya dan dibantu oleh pertanyaan
tilikan dari guru. Guru hendaknya banyak memberikan rangsangan kepada peserta
didik agar mau berinteraksi dengan lingkungan secara aktif, mencari dan
menemukan berbagai hal dari lingkungan.[10]
a.
Sensory-motor (sensori-motor)
Selama perkembangan dalam periode ini berlangsung sejak anak lahir
sampai usia 2 tahun, intelegensi yang dimiliki anak tersebut masih berbentuk
primitif dalam arti masih didasarkan pada perilaku terbuka. Meskipun primitif
dan terkesan tidak penting, intelegensi sensori-motor sesungguhnya merupakan
intelegensi dasar yang amat berarti karena ia menjadi pondasi untuk tipe-tipe
intelegensi tertentu yang akan dimiliki anak tersebut kelak.
b.
Pre operational (praoperasional)
Perkembangan ini bermula pada saat anak berumur 2-7 tahun dan
telah memiliki penguasaan sempurna mengenai objek permanence,
artinya anak tersebut sudah memiliki kesadaran akan tetap eksisnya suatu benda
yang ada atau biasa ada, walaupun benda tersebut sudah ia tinggalkan atau sudah
tak dilihat dan tak didengar lagi. Jadi, padangan terhadap eksistensi benda
tersebut berbeda dari pandangan pada periode sensori-motor, yakni tidak lagi
bergantung pada pengamatan belaka.
c.
Concrete operational (konkret-operasional)
Dalam periode konkret operasional ini belangsung hingga usia
menjelang remaja, kemudian anak mulai memperoleh tamnbahan kemampuan yang
disebut sistem of operations (satuan langkah berfikir). Kemampuan ini berfaedah
bagi anak untuk mengkoordinasikan pemikiran dan idenya dengan peristiwa
tertentu dalam sistem pemikirannya sendiri.
d.
Formal operational (formal-operasional)
Dalam perkembngan formal operasional, anak yang sudah menjelang
atau sudah menginjak masa remaja, yakni usia 11-15 tahun, akan dapat mengatasi
masalah keterbatasan pemikiran. Dalam pperkembangan kognitif akhir ini seorang
remaja telah memiliki kemampuan mengkoordinasikan baik secara simultan
(serentak) maupun berurutan dua ragam kemampuan kognitif, yakni:
o kapasitas
menggunakan hipotesis
o kapasitas
menggunakan prinsip-prinsip abstrak
Dalam dua macam kemampuan kognitif yang sangat berpengaruh terhadap
kualiatas skema kognitif itu tentu telah dimiliki oleh orang-orang dewasa. Oleh
karenanya, seorang remaja pelajar yang telah berhasil menempuh proses
perkembangan formal operasional secara kognitif dapat dianggap telah mulai
dewasa.[12]
1.
Implikasi Teori Pieget untuk Pendidikan
Para pendidik memandang bahwa teori Pieget itucdapat dipakai
sebagai dasar pertimbangan guru di dalam menyusun struktur dan urutan mata
pelajaran di dalam kurikulum. Hunt mempraktekkan di dalam program pendidikan TK
yang menekankan pada perkembangan sensori motoris dan proeperasional.[13] Misal
belajar menggambar, mengenal benda, dan menghitung.
Seorang guru yang tidak memperhatikan tahapan-tahapan
perkembangan kognitif anak ini akan cenderung menyulitkan siswa. Contoh,
mengajarkan konsep-konsep abstrak tentang Shalat kepada sekelompok siswa kelas
dua SD, tanpa adanya usaha untuk mengkongkretkan konsep-konsepp tersebut, tidak
hanya sia-sia, tetapi justru akan lebih membingungkan siswa.[14]
Implementasi Teori Perkembangan Kognitif Piaget Dalam Pembelajaran,
adalah :
a.
Bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa. Oleh
karena itu guru mengajar dengan menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara
berfikir anak.
b.
Anak-anak akan belajar lebih baik apabila dapat menghadapi
lingkungan dengan baik. Guru harus membantu anak agar dapat berinteraksi dengan
lingkungan sebaik-baiknya.
Teori belajar Piaget dalam aplikasi praktisnya mementingkan
keterlibatan siswa dalam proses belajar mengajar, karena hanya dengan
melibatkan atau mengaktifkan siswa, maka proses asimilasi dan akoomodasi
pengetahuan dapat terjadi dengan baik. Secara umum pengaplikasian teori piaget
dalam kegiatan pembelajaran biasanya mengikuti pola berikut :
a.
Menentukan tujuan-tujuann instruksional
b.
Memilih amteri pelajaran
c.
Menentukan topic-topik yang mungkin dipelajari secara aktif oleh
siswa (dengan bimbingan minimum dari guru).
d.
Menentukan dan merancang kegiatan belajar yang cocok untuk
topic-topik yang akan dipelajari siswa.
e.
Mempersiapkan berbagai pertanyaan yang dapat memacu kreativitas
siswa untuk berdiskusi atau bertanya.
f.
Mengevaluasi proses dan hasil belajar.[16]
2.
Kritik terhadap teori Pieget
Kebanyakan ahli psikologi sepenuhnya menerima prinsip-prinsip umum
Piaget bahwa pemikiran anak-anak pada dasarnya berbeda dengan pemikiran orang
dewasa, dan jenis logika anak-anak itu berubah seiring dengan bertambahnya
usia. Namun, ada juga peneliti yang meributkan detail-detail penemuan Piaget,
terutama mengenai usia ketika anak mampu menyelesaikan tugas-tugas spesifik.
Pada sebuah studi klasik, McGarrigle dan Donalson (1974) menyatakan
bahwa anak sudah mampu memahami konservasi (conservation) dalam usia yang lebih
muda daripada usia yang diyakini oleh Piaget. Studi lain yang mengkritik teori
Piaget yaitu bahwa anak-anak baru mencapai pemahaman tentang objek permanence
pada usia di atas 6 bulan. Balillargeon dan De Vos (1991) 104 anak diamati
sampai mereka berusia 18 tahun, dan diuji dengan berbagai tugas
operasional formal berdasarkan tugas-tugas yang dipakai Piaget, termasuk
pengujian hipotesa. Mayoritas anak-anak itu memang belum mencapai tahap
operasional formal. Hal ini sesuai dengan studi-studi McGarrigle dan Donaldson
serta Baillargeon dan DeVos, yang menyatakan bahwa Piaget terlalu meremehkan
kemampuan anak-anak kecil dan terlalu menilai tinggi kemampuan anak-anak yang
lebih tua.[17]
B.
Teori Belajar Ausubel
Menurut Ausubel belajar haruslah bermakna, materi yang dipelajari
diasimilasikan secara non arbitrer dan berhubungan dengan pengetahuan yang
telah dimiliki sebelumnya.[18] Ausubel
seorang psikologist kognitif, ia mengemukakan bahwa yang perlu diperhatikan
seorang guru ialah strategi mengajarnya. Sebagai contoh pelajaran berhitung
bisa menjadi tidak berhasil jika murid hanya di suruh menghafal formula-formula
tanpa mengetahui arti formula-formula itu. Sebaliknya bisa lebih bermakna jika
murid diajari fungsi dan arti dari formula-formula tersebut.[19]
Dalam aplikasinya teori Ausubel ini menuntut siswa belajar secara
deduktif (dari umum ke khusus). Secara umum, teori Ausubel ini dapat diterapkan
dalam proses pembelajaran melalui tahap-tahap sebagai berikut :
1.
Menentukan tujuan-tujuan intruksional;
2.
Mengukur kesiapan peserta didik seperti minat, kemampuan, dan
struktur kognitifnya melalui tes awal, interview, pertanyaan, dan lain-lain;
3.
Memilih materi pelajaran dan mengaturnya dalam bentuk penyajian
konsep-konsep kunci;
4.
Mengidentifikasikan prinsip-prinsip yang harus dikuasai dari materi
itu;
5.
Menyajikan suatu pandangan secara menyeluruh tentang apa yang harus
dipelajari;
6.
Membuat rangkuman terhadap materi yang baru saja disampaikan dengan
uraian yang singkat;
7.
Membelajarkan peserta didik memahami konsep-konsep dan
prinsip-prinsip yang ada dengan memberikan focus pada hubungan yang terjalin
antara konsep yang ada;
8.
Mengevaluasi proses dan hasil bejar.[20]
Menurut Ausubel, siswa akan belajar dengan baik jika apa yang
disebut “pengatur kemajuan” (advance organizer) didefenisikan dan
dipresentasikan dengan baik dan tepat kepada siswa. Pengatur kemajuan belajar
adalah konsep atau informasi umum mewadahi (mencakup) semua isi pelajaran yang
akan diajarkan kepada siswa. Ada tiga manfaat dari “advance organizer” ini,
yaitu :
1.
Dapat menyediakan suatu kerangka konseptual untuk materi pelajaran
yang akan dipelajari;
2.
Dapat berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan antara apa yang
sedang dipejari siswa saat ini dan dengan apa yang akan dipelajari;
3.
Dapat membantu siswa untuk memahami bahan secara lebih mudah.[21]
1.
Teori Belajar Bruner
Bruner menusulkan teorinya yang disebut free discovery
learning. menurut teori ini, proses belajar akan berjalan dengan baik dan
kreatif jika dosen member kesempatan kepada siswa untuk menemukan suatu aturan
(termasuk konsep, teori, defenisi, dan sebagainya), melalui contoh-contoh yang
ia jumpai dalam kehidupan. Dengan kata lain siswa dibimbing secara induktif
untuk memahami suatu kebenaran umum. Untuk memahami konsep kejujuran misalnya
siswa tidak semata-mata menghafal defenisi kata kejujuran tersebut melainkan
dengan mempelajari contoh-contohnya yang konkret tentang kejujuran dan dari
contoh itulah siswa dibimbing untuk mendefenisikan kata kejujuran.
Menurut Brunner, pembelajaran hendaknya dapat menciptakan situasi
agar mahasiswa dapat belajar dari diri sendiri melalui pengalaman dan
eksperimen untuk menemukan pengetahuan dan kemampuan baru yang khas baginya.
Dari sudut pandang psikologi kognitif, bahwa cara yang dipandang efektif untuk
meningkatkan kualitas output pendidikan adalah pengembangan program-program
pembelajaran yang dapat mengoptimalkan keterlibatan mental intelektual
pembelajar pada setiap jenjang belajar. Sebagaimana direkomendasikan Merril,
yaitu jenjang yang bergerak dari tahapan mengingat, dilanjutkan ke menerapkan,
sampai pada tahap penemuan konsep, prosedur atau prinsip baru di bidang
disiplin keilmuan atau keahlian yang sedang dipelajari.[22]
Teori belajar Bruner ini dalam aplikasinya sangat membebaskan siswa
untuk belajar sendiri. Karena itulah teori Bruner ini dianggap sanagt cenerung
bersifat discovery (belajar dengan cara menemukan). Disamping itu karena teori
Bruner ini banyak menuntut pengulangan-pengulangan maka desain yang
berulang-ulang ini lazim disebut sebagai kurikulum spiral Bruner. Kurikulum
piral menuntut guru untuk member materi pembelajaran setahap-demi setahap dari
yang sederhana ke yang kompleks, dimana suatu materi yang sebelumnyasudah
diberikan, suatu saat muncul kembali, secara terintegrasi, di dalam suatu
materi baru yang lebih kempleks.[23]
Dalam teori belajar, Bruner juga berpendapat bahwa kegiatan belajar
akan berjalan baik dan kreatif jika siswa dapat menemukan sendiri suatu aturan
atau kesimpulan tertentu. Dalam hal ini Bruner membedakan menjadi tiga tahap.
Ketiga tahap itu adalah:
a.
Tahap informasi, yaitu tahap awal untuk memperoleh pengetahuan atau
pengalaman baru;
b.
Tahap transformasi, yaitu tahap memahami, mencerna dan menganalisis
pengetahuan baru serta mentransformasikan dalam bentuk baru yang mungkin
bermanfaat untuk hal-hal yang lain;
c.
Evaluasi, yaitu untuk mengetahui apakah hasil tranformasi pada
tahap kedua tadi benar atau tidak.
Bruner mempermasalahkan seberapa banyak informasi itu diperlukan
agar dapat ditransformasikan . Perlu Anda ketahui, tidak hanya itu saja namun
juga ada empat tema pendidikan yaitu:
a.
Mengemukakan pentingnya arti struktur pengetahuan;
b.
Kesiapan (readiness) siswa untuk belajar;
c.
Nilai intuisi dalam proses pendidikan dengan intuisi;
d.
Motivasi atau keinginan untuk belajar siswa, dan cura untuk memotivasinya.
Dengan demikian Bruner menegaskan bahwa mata pelajaran apapun dapat
diajarkan secara efektif dengan kejujuran intelektual kepada anak, bahkan dalam
tahap perkembangan manapun. Bruner beranggapan bahwa anak kecilpun akan dapat
mengatasi permasalahannya, asalkan dalam kurikulum berisi tema-tema hidup, yang
dikonseptualisasikan untuk menjawab tiga pertanyaan. Berdasarkan uraian di
atas, teori belajar Bruner dapat disimpulkan bahwa, dalam proses belajar
terdapat tiga tahap, yaitu informasi, trasformasi, dan evaluasi. Lama tidaknya
masing-masing tahap dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain banyak
informasi, motivasi, dan minat siswa.
Bruner juga memandang belajar sebagai “instrumental conceptualisme”
yang mengandung makna adanya alam semesta sebagai realita, hanya dalam pikiran
manusia. Oleh karena itu, pikiran manusia dapat membangun gambaran mental yang
sesuai dengan pikiran umum pada konsep yang bersifat khusus. Semakin bertambah
dewasa kemampuan kognitif seseorang, maka semakin bebas seseorang memberikan
respon terhadap stimulus yang dihadapi. Perkembangan itu banyak tergantung
kepada peristiwa internalisasi seseorang ke dalam sistem penyimpanan yang
sesuai dengan aspek-aspek lingkungan sebagai masukan. Teori belajar psikologi
kognitif memfokuskan perhatiannya kepada bagaimana dapat mengembangkan fungsi
kognitif individu agar mereka dapat belajar dengan maksimal. Faktor kognitif
bagi teori belajar kognitif merupakan faktor pertama dan utama yang perlu
dikembangkan oleh para guru dalam membelajarkan peserta didik, karena kemampuan
belajar peserta didik sangat dipengaruhi oleh sejauhmana fungsi kognitif
peserta didik dapat berkembang secara maksimal dan optimal melalui sentuhan
proses pendidikan.
Peranan guru menurut psikologi kognitif ialah bagaimana dapat
mengembangkan potensi kognitif yang ada pada setiap peserta didik. Jika potensi
kognitif yang ada pada setiap peserta didik telah dapat berfungsi dan menjadi
aktual oleh proses pendidikan di sekolah, maka peserta didik akan mengetahui
dan memahami serta menguasai materi pelajaran yang dipelajari di sekolah
melalui proses belajar mengajar di kelas. Bloom dan Krathwohl menunjukkan apa
yang mungkin dikuasai (dipelajari) oleh siswa, yang tercakup dalam tiga kawasan
yang diantaranya : Kognitif. Kognitif terdiri dari enam tingkatan, yaitu :
a.
Pengetahuan (mengingat, menghafal),
b.
Pemahaman (menginterpretasikan),
c.
Aplikasi / penerapan (menggunakan konsep untuk memecahkan suatu
masalah),
d.
Analisis (menjabarkan suatu konsep),
e.
Sintesis (menggabungkan bagian-bagian konsep menjadi suatu konsep
utuh),
f.
Evaluasi (membandingkan nilai, ide, metode dan sebagainya).
2.
Teori Belajar Gestalt
Teori Gestalt dikembangkan oleh Koffka, Kohler, dan Wertheimer.
Menurut teori Gestalt belajar adalah proses pengembangan insight. Insight adalah
pemahaman terhadap hubungan antar bagian dalam suatu situasi permasalahan.
Berbeda dengan teori Behavioristik yang menganggap belajar itu bersifat
mekanistis, sehingga mengabaikan atau mengingkari peranan insight. Teori
Gestalt justru menganggap bahwa insight adalah inti dari pembentukan tingkah
laku.[24] Peletak
dasar teori belajar Gestalt ialah Max Wertheimer sebagai usaha untuk
memperbaiki proses belajar denga rote learning dengan pengertian bukan
menghapal.[25] Dalam
belajar, menurut teori Gestalt, yang terpenting adalah penyesuaian pertama,
yaitu mendapatkan respons atau tanggapan yang tepat. Belajar yang terpenting
bukan mengulangi hal-hal yang harus dipelajari, tetapi mengerti atau memperoleh
insight. Belajar dengan pengertiian lebih dipentingkan daripada hanya
memasukkan sejumlah kesan. Belajar dengan insight adalah sebagai berikut :
a.
Insight tergantungg dari kemampuan dasar;
b.
Insight tergantung dari pengalaman masa lampau yang relevan;
c.
Insight hanya timbul apabila situasi belajar diatur sedemikian
rupa, sehingga segala aspek yang perlu dapat diamati;
d.
Insight adalah hal yang harus dicari, tidak dapat jatuh dari
langit;
e.
Belajar dengan insight dapat diulangi;
f.
Insight sekali didapat dapat digunakan untuk menghadapi
situasi-situasi baru.[26]
3.
Prinsip-prinsip Teori
belajar Gestalt
Seperti diketahui Teori Belajar gestalt lebih menekankan
kepada persepsi. Karena itu prinsip-prinsip atau hokum-hukum yanga ada pada
Gestalt pada umumnya menyangkut persepsi. Adapun teori-teori gestalt antara
lain :
a.
Belajar berdasarkan keseluruhan
b.
Belajar adalah suatu proses perkembangan
c.
Anak didik sebagai organism keseluruhan
d.
Terjadi transfer
e.
Belajar adalah reorganisasi pengalaman
f.
Belajar harus dengan insight
g.
Belejar lebih berhasil bila berhubungan dengan minat, keinginan,
dan tujuan.
h.
Belajar berlangsung secara terus-menerus.[27]
FOOTNOTE
[1] Fauziah Nasution, Psikologi Umum,Buku Panduan untuk
Fakultas Tarbiyah IAIN SU, 2011, hal : 17
[2] Al Rasyidin & Wahyudin Nur Nasution, Teori Belajar
dan pembelajaran, Medan :Perdana Publishing, 2011, hal : 32
[3] Abu Ahmad & Widodo Aupriyono,Psikologi
Belajar, Jakarta : Rineka Cipta, 1991, hal : 214-215
[4] Syaiful bahri Djamarah,, Psikologi
Belajar, Jakarta : Rineka Cipta, 2011, hal : 28-29
[5] Al Rasyidin & Wahyudin Nur Nasution, Teori Belajar
dan pembelajaran, Medan :Perdana Publishing, 2011, hal: 33
[6] Di kutip dari : http://valmband.multiply.com/journal/item/12
[7] Al Rasyidin & Wahyudin Nur Nasution, Teori Belajar
dan pembelajaran, Medan :Perdana Publishing, 2011, hal: 33
[8] Di kutip dari : http://valmband.multiply.com/journal/item/12
[9] Al Rasyidin & Wahyudin Nur Nasution, Teori Belajar
dan pembelajaran, Medan :Perdana Publishing, 2011, hal: 33
[10] Di kutip dari : http://meetabied.wordpress.com/2010/03/20/teori-perkembangan-kognitif-piaget//
[11] Muhibbin Syah, Psikologi Belajar, Jakarta : PT Raja
Grafindo Persada, 2003, hal : 26
[12] Muhibbin Syah, Psikologi Belajar, Jakarta : PT Raja
Grafindo Persada, 2003, hal : 26
[13] Abu Ahmad & Widodo Aupriyono,Psikologi
Belajar, Jakarta : Rineka Cipta, 1991, hal : 216
[14] Al Rasyidin & Wahyudin Nur Nasution, Teori Belajar
dan pembelajaran, Medan :Perdana Publishing, 2011, hal: 35
[15] Di kutip dari :
http://meetabied.wordpress.com/2010/03/20/teori-perkembangan-kognitif-piaget//
[16] Al Rasyidin & Wahyudin Nur Nasution, Teori Belajar
dan pembelajaran, Medan :Perdana Publishing, 2011, hal: 35
[18] Al Rasyidin & Wahyudin Nur Nasution, Teori Belajar
dan pembelajaran, Medan :Perdana Publishing, 2011, hal: 35
[20] Al Rasyidin & Wahyudin Nur Nasution, Teori Belajar
dan pembelajaran, Medan :Perdana Publishing, 2011, hal: 36-37
[23] Al Rasyidin & Wahyudin Nur Nasution, Teori Belajar
dan pembelajaran, Medan :Perdana Publishing, 2011, hal: 38
[24] Al Rasyidin & Wahyudin Nur Nasution, Teori Belajar
dan pembelajaran, Medan :Perdana Publishing, 2011, hal: 39
XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
Kelompok......10
TIPE-TIPE ANAK DIDIK
A.
Pengertian kepribadian
Istilah “kepribadian” (personality) sesungguhnya memiliki
banyak arti. Hal ini disebabkan oleh adanya perbedaan dalam penyusunan teori,
penelitian, dan pengukurannya. Kiranya patut diakui bahwa di antara para ahli
psikologi belum ada kesepakatan tentang arti dan definisi kepribadian itu.
Boleh dikatakan, jumlah arti dan definisi adalah sebanyak ahli yang mencoba
menafsirkannya.
Pembahasan kita tentang arti kepribadian akan dimulai dengan
membahas pengertian menurut orang awam atau pengertian kepribadian yang umum
dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini dilakukan dengan maksud
mempermudah pemahaman kita tentang arti kepribadian yang sesungguhnya menurut
pengertian yang ilmiah (Psikologi).
1.
Kepribadian menurut pengertian sehari-hari
Kepribaian (personality) yaitu merujuk kepada bagaimana individu
tampil dan menimbulkan kesan bagi individu-individu lainnya. Pengertian
kepribadian seperti ini mudah dimengerti dan karenanya juga mudah dipergunakan.
Tetapi sayangnya pengertian kepribadian yang mudah dan luas dipergunakan ini
lemah dan tidak bisa menerangkan arti kepribadian yang sesungguhnya, sebab
pengertian kepribadian tersebut hanya menunjuk terbatas kepada ciri-ciri yang
diamati saja, dan mengabaikan kemungkinan bahwa ciri-ciri ini bisa berubah
tergantung kepada situasi keliling. Tambah pula, pengertian kepribadian semacam
itu lemah disebabkan oleh sifatnya yang evaluative(menilai). Bagaimanapun,
kepribadian itu pada dasarnya tidak bisa dinilai ‘baik’ atau ‘buruk’ (netral).
Dan para ahli psikologi selalu berusaha menghindarkan penilaian atas
kepribadian.[1]
Menurut pengertian sehari-hari, kepribadian (personality) ini bisa
disebut sebagai suatu istilah yang mengacu pada gambaran-gambaran social
tertentu yang diterima oleh individu dari kelompoknya atau masyarakatnya,
kemudian inidividu tersebut diharapkan bertingkah laku berdasarkan atau sesuai
dengan gambaran social (peran) yang diterimanya itu.[2]
2.
Kepribadian menurut Psikologi
Pengertian kepribadian menurut disiplin ilmu psikologi bisa diambil
dari rumusan masalah beberapa teoritis kepribadian yang terkemuka, diantaranya
sbb :
a.
Browner menyatakan bahwa tingkah laku manusia adalah gerak-gerik
suatu badan sehingga kepribadian dapat dikatakan corak gerak-gerik suatu badan
manusia. Tingkah laku yang disebut kepribadian bersifat sadar dan tidak sadar.
Hal itu dapat dilihat dari sudut diri manusia dan dari sudut lingkungannya.[3]
b.
George Kelly bahwa kepribadian sebagai cara yang unik dari individu
dalam mengartikan pengalaman-pengalaman hidupnya.
c.
Gordon Allpornt merumuskan kepribadian adalah suatu organisasi yang
dinamis dari sistem psikofisik individu yang menentukan tingkah laku dan
pemikiran individu secara khas.
Maksudnya “psikofisik” yaitu bahwa jiwa dan raga adalah suatu
system yang terpadu dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain, serta di antara
keduanya selalu terjadi interaksi dalam mengarah tingkah laku. Sedangkan “khas”
bahwa individu bertingkah laku dengan caranya sedniri dan memiliki kepribadian
sendiri serta tidak ada yang sama.
d.
Sigmund Freud memandang kepribadian sebagai suatu struktur yang
terdiri dari tiga sistem , yakni id, ego, dan superego. Dan tingkah laku tidak
lain merupakan hasil dari konflik dan rekonsiliasi ketiga sistem kepribadian
tersebut.[4]
B.
Teori-teori kepribadian
Teori kepribadian sama halnya dengan teori-teori yang lain yang
terdapat dalam psikologi, yang merupakan salah satu unsur penting dari setiap
pengetahuan ilmiah atau ilmu, termasuk psikologi kepribadian. Tanpa teori
kepribadian usaha memahami perilaku dan kepribadian manusia pasti sulit untuk
dilaksanakan. Apakah yang dimaksud dengan teori kepribadian ? Menurut Hall
dan Lindzey, teori kepriadian adalah sekumpulan anggapan atau konsep-konsep
yang satu sama lain berkaitan mengenai tingkah laku manusia.
Banyak sekali teori-teori kepribadian yang ada di dunia ilmu
pengetahuan ini dan juga dari ungkapan-ungkapan para pakar psikologi itu
sendiri, akan tetapi keberagaman itu, saya lebih condong mengambil tiga pakar
ahli psikologi yaitu dengan masing-masing teorinya, diantaranya adalah sbb:
1.
Teori Kepribadian Psikoanalisis : Sigmund Freud
Dalam teori psikoanalisa, kepribadian dipandang sebagai suatu
struktur yang terdiri dari tiga unsur atau sistem, yakni id, ego, dan super
ego. Meskipun ketiga sistem tersebut memiliki fungsi, kelengkapan,
prinsip-prinsip operasi, dinamisme, dan mekanismenya masing-masing, ketiga
sistem kepribadian ini satu sama lain saling berkaitan serta membentuk suatu
totalitas.
a.
Id (Istilah Freud : das-es)
Merupakan sistem kepribadian yang paling dasar, sistem yang di
dalamnya terdapat naluri-naluri bawaan. Id adalah sistem yang bertindak sebagai
penyedia atau penyalur energi yang dibutuhkan oleh sistem-sistem tersebut untuk
operasi-operasi atau kegiatan-kegiatan yang dilakukannya.
Id dalam menjalankan fungsi dan operasinya, dilandasi oleh maksud
mempertahankan konstansi (the principle of constancy) yang ditujukan untuk
menghindari keadaan tidak menyenangkan dan mencapai keadaan yang menyenangkan
(the pleasure principle).
Untuk keperluan mencapai maksud dan tujuan itu, id memiliki
perlengkapan berupa dua macam proses, yaitu :
Pertama,
tindakan-tindakan refleks yakni suatu bentuk tingkah laku atau tindakan yang
mekanisme kerjanya otomatis dan segera, serta adanya pada individu merupakan
bawaan. Contohnya refleks mengisap, batuk, mengedipkan mata, dan bersin.
Kedua, proses
primer, yakni suatu proses yang melibatkan sejumlah reaksi psikologis yang
rumit. Dengan proses primer ini dimaksudkan bahwa id (dan organism secara
keseluruhan) berusaha mengurangi tegangan dengan cara membentuk bayangan dari
objek yang bisa mengurangi tegangan. Proses primer pada orang yang sedang
lapar, sebagai contoh, adalah membayangkan (menghayalkan) makanan. Tindakan
memuaskan suatu kebutuhan yang berlangsung dalam mimpi (mimpi makan, misalnya)
oleh Freud juga dipandang sebagai proses primer.
Id ini juga bisa dipahami sebagai kecenderungannya kepada hal yang
irasional yaitu selalu mengejar kesenangan tanpa memikirkan konsekuensinya.
Misalnya, seorang pegawai perusahaan swasta setiap bulan ia mendapatkan gaji 5
juta, akan tetapi dia nekat melakukan kredit mobil yang cicilannya per bulan
4,5 juta. Nah, kemudian yang menjadi masalah, dalam satu bulan itu bagaimana ia
mencukupi kebutuhan keluarga maupun kebutuhan pribadi (pangan, papan, sandang),
sedangkan sisa gajinya tinggal 500 rb. Menurut akal ini tidak rasional, dan
cuma menuruti kesenangan yang menipu.
b.
Ego
Adalah sistem kepribadian yang bertindak sebagai pengaruh individu
kepada dunia objek dari kenyataan, dan menjalankan fungsinya berdasarkan
prinsip kenyataan (the reality principle). Apabila dikaitkan dengan contoh
orang yang sedang lapar, maka bisa diterapkan bahwa ego bertindak sebagai
penunjuk atau pengarah pada orang yang sedang lapar ini kepada makanan. Artinya
orang yang merasa lapar harus ditempuh dengan jalan makan makanan tersebut.
Menurut Freud, ego terbentuk pada struktur kepribadian individu
sebagai hasil kontak dengan dunia luar. Adapun proses yang dimiliki dan
dijalankan ego sehubungan dengan upaya memuaskan kebutuhan atau mengurangi
tegangan oleh indovidu adalalah proses sekunder (secondary process). Dengan
proses sekundernya ini, ego memformulasikan rencana bagi pemuasan kebutuhan dan
menguji apakah rencana tersebut bisa dilaksanakan atau tidak. Atau dengan kata
lain, akan berfikir, makanan apa yang dia butuhkan, di mana dan bagaimana
makanan itu bisa dia peroleh.
Ego bisa disebut juga menjembatani id dan sebagai mediator dengan
menggunakan prinsip-prinsip realistik atau rasionalitas.
c.
Superego (Istilah Freud :das Ueberich)
Adalah sistem kepribadian yang berisikan nilai-nilai dan
aturan-aturan yang sifatnya evaluative (menyangkut baik-buruk). Menurut Freud,
super ego terbentuk melalui internalisasi nilai-nilai atau aturan-aturan oleh
individu dari sejumlah figur yang berperan, berpengaruh, atau berarti bagi
individu tersebut seperti orang tua dan guru.
Adapun fungsi utama dari super ego adalah :
1.
Sebagai pengendali dorongan-dorongan atau impuls-impuls naluri id
agar impuls-impuls tersebut disalurkan dalam cara atau bentuk yang dapat
diterima oleh masyarakat.
2.
Mengarahkan ego pada tujuan-tujuan yang sesuai dengan moral
ketimbang dengan kenyataan.
3.
Mendorong individu kepada kesempurnaan.
Aktivitas super ego dalam diri individu, ternyata apabila aktivitas
ini bertentangan atau konflik dengan ego, menyatakan diri dalam emosi-emosi
tertentu seperti perasaan bersalah dan penyesalan. Sikap-sikap tertentu dari
individu seperti observasi diri, koreksi atau kritik, juga bersumber pada super
ego. Dan super ego ini bisa dikatakan juga sebagai hati nurani, menghendaki
yang rasional.[5]
2.
Teori Behaviorisme : B. F. Skinner
Dari perspektif behaviorisme Skinner, studi tentang kepribadian
melibatkan penguji yang sistematis dan pasti atas sejarah hidup atau pengalaman
belajar dan latar belakang genetik atau faktor bawaan yang khas dan individu.
Menurut Skinner, individu adalah organisme yang memperoleh perbendaharaan
tingkah lakunya melalui belajar. Dia bukanlah agen penyebab tingkah laku,
melainkan tempat kedudukan atau suatu pointdi mana factor-faktor
lingkungan (eksternal) dan bawaan yang khas secara bersama menghasilkan akibat
(tingkah laku) yang khas pula pada individu tersebut. [6]
3.
Teori Humanistik : Abraham Maslow
Teori Maslow pada dasarnya teori Humanistik, tetapi bisa disebut sebagai
psikologi transpersonal. Maslow menyebut teorinya sendiri sebagai teori
holistic dinamis, yang artinya diri seseorang akan terus menerus bergerak dan
termotivasi untuk menuju aktualisasi diri. Teori Maslow sangat dipengaruhi oleh
motivasi, yaitu apa penyebab tingkah laku seseorang.[7]
a.
Struktur kepribadian
Struktur kepribadian Maslow disebut juga jenjang kebutuhan atau
hierarki kebutuhan, ialah ada lima macam, yaitu sbb :
1.
Kebutuhan-kebutuhan fisiologis (physiological needs)
Adalah sekumpulan kebutuhan dasar yang paling mendesak pemuasannya
karena berkaitan langsung dengan pemeliharaan biologis dan kelangsungan hidup.
Kebutuhan-kebutuhan itu antara lain : kebutuhan akan makanan, air, oksigen,
aktif, istirahat, keseimbangan temperature, seks, dan kebutuhan akan stimulus
sensorik.karena merupakan kebutuhan yang paling mendesak, maka
kebutuhan-kebutuhan fisiologis akan paling didahulukan pemuasannya oleh
individu.
Pada kebutuhan fisiologis ini, Maslow sangat menekankan pada
kebutuhan akan pemenuhan rasa lapar. Rasa lapar memiliki tingkat motivasi yang
tinggi untuk dipenuhi karena manusia pada dasarnya memiliki dorongan dalam
dirinya untuk memuaskan rasa laprnya sehingga kebutuhan ini menjadi kebutuhan
yang paling mendasar. Dan jika kebutuhan ini tidak terpenuhi akan berakibat
fatal pada kebutuhan-kebutuhan yang lain, missal orang lapar, akan malas untuk
belajar atau melakukan aktifitas lain karena tubuhnya lemas dan ada beberapa
orang yang mengalami kelaparan yang kronis akan menimbulkan efek moral dan
kepribadian yang negatif, misalnya mencuri, merampok, dll.
2.
Kebutuhan akan rasa aman (need for self-security)
Apabila kebutuhan fisiologis sudah terpenuhi, maka kebutuhan yang
muncul selanjutnya adalah kebutuhan akan rasa aman. Yaitu sesuatu kebutuhan
yang mendorong individu untuk memperoleh ketentraman, kepastian, dan
keteraturan dari keadaan lingkunganya. Seperti perlingdungan akan sesuatu yang mengancam
(perang, terorisme, penyakit, dan lain-lain). Ketika mereka tidak berhasil
memenuhi kebutuhan ini, maka mereka akan mengalami kecemasan dasar (basic
anxiety).
3.
Kebutuhan akan cinta dan rasa memiliki (need for love and
belongingness)
Adalah suatu kebutuhan yang mendorong individu untuk mengadakan
hubungan efektif atau ikatan emosional dengan individu lain, baik dengan sesama
jenis maupun dengan yang berlainan jenis, di lingkungan keluarga ataupun di
lingkungan kelompok masyarakat. Kebutuhan ini sangat penting untuk dipenuhi
sejak kecil sebagai proses pembentukan rasa cinta atau kasih sayang pada setiap
individu.
Malsow menegaskan bahwa cinta yang matang menunjuk kepada hubungan
cinta yang sehat di antara dua orang tau lebih, yang di dalamnya terdapat sikap
saling percaya dan saling menghargai. Maslow juga menekankan bahwa kebutuhan
akan cinta itu mencakup keinginan untuk mencintai dan dicintai.
4.
Kebutuhan akan rasa harga diri (need for self-esteem)
Maslow membagi kebutuhan ini ke dalam dua bagian. Bagian pertama
adalah penghormatan atau penghargaan dari diri sendiri, dan bagian yang kedua
adalah penghargaan dari orang lain.
Bagian pertama mencakup hasrat untuk memperoleh kompetensi, rasa
percaya diri, kekuatan pribadi, kemandirian, dan kebebasan. Individu ingin
mengetahui atau yakin bahwa dirinya berharga serta mampu mengatasi segala
tantangan dalam hidupnya.
Adapun bagian yang kedua meliputi antara lain prestasi. Dalam hal
ini individu butuh penghargaan atas apa-apa yang dilakukannya.
5.
Kebutuhan akan aktualisasi diri (need for self-actualization)
Dalam teori Maslow kebutuhan akan aktualisasi diri inilah kebutuhan
manusia yang paling tinggi. Kebutuhan ini akan muncul ketika kebutuhan-kebutan
yang lain sudah terpuaskan dengan baik. Maslow menandai kebutuhan akan
aktualisasi diri sebagai hasrat individu untuk menjadi orang yang sesuai dengan
keinginan dan potensi yang dimilikinya. Misalnya seseorang yang berbakat musik
menciptakan komposisi musik, seorang yang memiliki potensi intelektual menjadi
ilmuan, dan seterusnya.
Maslow mencatat bahwa aktualisasi diri itu tidak hanya beruapa
penciptaan kreasi atau karya-karya berdasarkan bakat-bakat atau
kemampuan-kemampuan khususu. Orang tua, mahasiswa, dosen, sekretaris, petani,
dan buruh pun bisa mengaktualisasi dirinya, yakni dengan jalan membuat yang
terbaik, atau bekerja sebaik-baiknya sesuai dengan bidangnya masing-masing.[8]
Pertumbuhan dan perkembangan kepribadian
Maslow mendapatkan gambaran dari kedua gurunya bahwa perkembangan
manusia mengalami level yang paling tinggi ketika mencapai level aktualisasi
diri. Untuk mencapainya, seseorang harus memenuhi beberapa criteria,
a.
seseorang harus terbebas
dari penyakit psikologis.
b.
seseorang harus hidup dengan level kecukupan dalam memenuhi
hierarki kebutuhannya. Dengan demikian, seseorang tidak mengalami ancaman akan
perasaan aman serta mendapatkan cinta serta penghargaan yang cukup.
c.
adalah menjunjung tinggi
niali B. Dan terakhir adalah menggunakan seluruh bakat, kemampuan, serta
potensi yang dimiliki.
Akhirnya, seseorang yang dapat mengaktualisasikan dirinya adalah
seseorang yang dapat memenuhi kebutuhan untuk tumbuh, berkembang, dan menjadi
diri sendiri sesuai kemampuan yang dia bisa.[9]
C.
Tipe-tipe kepribadian
Kepribadian adalah ciri atau karakteristik atau gaya atau sifat khas
dari diri seseorang yang bersumber dari bentukan-bentukan yang diterima dari
lingkungan, misalnya, keluarga pada masa kecil, dan juga bawaan seseorang sejak
lahir. Menurut Paul Gunadi (2005) pada umumnya terdapat lima penggolongan/tipe
kepribadian yang sering dikenal dalam kehidupan sehari-hari, yaitu sebagai
berikut .
1.
Tipe Sanguin
Seseorang yang termasuk tipe ini memilikiciri-ciri antara lain
: memiliki banyak kekuatan, bersemangat, mempunyai gairah hidup, dapat membuat
lingkungannya gembira dan senang. Akan tetapi, tipe ini pun memilikikelemahan,
antara lain : cenderung impulsif, bertindak sesuai emosinya atau keinginannya.
Orang bertipe ini sangat mudah dipengaruhi oleh lingkungannya dan
rangsangan dari luar dirinya, kurang bisa menguasai diri atau penguasaan diri
lemah, cenderung mudah jatuh ke dalam percobaan karena godaan dari luar dapat
dengan mudah memikatnya dan dia bisa masuk terperosok ke dalamnya. Jadi, orang
dengan kepribadian Sanguin sangat mudah dipengaruhi oleh lingkungannya dan
rangsangan dari luar dirinya dan dia kurang bisa menguasai diri atau penguasaan
diri lemah.
Oleh karena itu, kelompok ini perlu ditingkatkan secara
terus-menerus perkembangan moral kognitifnya melalui tingkat pertimbangan
moralnya sehingga dalam berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang lain
menjadi lebih menggunakan pikirannya daripada menggunakan perasaan/emosinya.
Peningkatan moral kognitif akan menjadikan pikiran mereka lebih tajam dan lebih
kritis dalam menghadapi persoalan yang berkaitan dengan orang lain.
2.
Tipe Flegmatik
Seseorang yang termasuk tipe ini memilikiciri-ciri antara lain
: cenderung tenang, gejolak emosinya tidak tampak, misalnya dalam kondisi sedih
atau senang, sehingga turun naik emosinya tidak terlihat secara jelas. Orang
bertipe ini cenderung dapat menguasai dirinya dengan cukup baik dan lebih
introspektif, memikirkan ke dalam, dan mampu melihat, menatap, dan memikirkan
masalah –masalah yang terjadi di sekitarnya. Mereka seorang pengamat yang kuat,
penonton yang tajam, dan pengkritik yang berbobot.
Akan tetapi orang bertipe seperti ini juga
memiliki kelemahan antara lain : ada kecenderungan untuk mengambil
mudahnya dan tidak mau susah. Dengan kelemahan ini, mereka kurang mau berkorban
demi orang lain dan cenderung egois.
Oleh karena itu, mereka perlu mendapatkan bimbingan yang
mengarahkan pada meningkatnya pertimbangan moralnya guna peningkatan rasa kasih
sayang sehingga menjadi orang yang lebih bermurah hati.
3.
Tipe Melankolik
Seseorang yang termasuk tipe ini memilikiciri-ciri antara lain
: terobsesi dengan karyanya yang paling bagus atau paling sempurna, mengerti
estetika keindahan hidup, perasaannya sangat kuat, dan angat sensitif.
Orang yang memiliki tiep ini juga memilikikelemahan antara
lain : sangat mudah dikuasi oleh perasaan dan cenderung perasaan yang mendasari
hidupnya sehari-hari adalah perasaan yang murung. Oleh karena itu, orang yang
bertipe ini tidak mudah untuk terangkat, senang, dan tertawa terbahak-bahak.
Pembentukan kepribadian melalui peningkatan pertimbangan moral,
kiranya dapat membantu kelompok ini dalam mengatasi perasaanya yang kuat dan
sensitivitas yang mereka miliki melalui peningkatan moral kognitifnya. Dengan
demikian, kekuatan emosionalnya dapat berkembang secara seimbang dengan
perkembangan moral kognitifnya.
4.
Tipe Korelik
Seseorang yang memiliki tipe ini memiliki ciri-ciriantara lain
: cenderung berorientasi pada pekerjaan dan tugas, mempunyai disiplin kerja
yang sangat tinggi, mampu melaksanakan tugas dengan setia dan bertanggung jawab
atas tugas yang diembannya.
Orang yang bertipe ini memiliki kelemahan antara lain :
kurang mampu merasakan perasaan orang lain, kurang mampu mengembangkan rasa
kasihan kepada orang yang sedang menderita, dan perasaanya kurang bermain.
Kelompok ini perlu ditingkatkan kepekaan sosialnya melalui
pengembangan emosional yang seimbang dengan moral kognitifnya sehingga menjadi
lebih peka terhadap penderitaan orang lain.
5.
Tipe Asertif
Seseorang yang termasuk tipe ini memiliki ciri-ciri antara lain :
mampu menyatakan pendapat, ide, dan gagasannya secara tegas, kritis, tetapi
perasaannya halus sehingga tidak menyakiti perasaan orang lain. Perilaku mereka
adalah berjuang mempertahankan hak sendiri, tetapi tidak sampai mengabaikan
atau mengancam hak orang lain; melibatkan perasaan dari kepercayaan orang lain
sebagai bagian dari interaksi dengan mereka; mengekspresikan perasaan dan
kepercayaan sendiri dengan cara yang terbuka, langsung, jujur, dan tepat.
Dikarenakan tipe asertif ini adalah tipe yang ideal maka tidak banyak ditemukan
orang kelemahannya. Oleh karena itu, peningkatan pertimbangan moral kognitif
anak didik secara sadar dan terencana diniatkan untuk mencapai model
kepribadian tipe asertif ini.[10]
D.
Prose Perkembangan Kepribadian
Dr. Atlee Beechy berpendapat “kepribadian” seseorang bertumbuh dan
berkembang melalui tiga proses yaitu :
a.
Individualisme, yakni suatu proses menjadi manusia, perubahan masa
bayi yang sangat bergantung menjadi tidak bergantung. Proses ini membantu
manusia memperluas kesadaran identitas pribadinya, penerimaan diri, dan
kepastian akan dirinya.
b.
Sosialisasi, yaitu suatu proses dinamis di mana individu
mempelajari keterampilan-keterampilan, informasi, dan pemahaman kebutuhan,
berhubungan secara efektif dengan orang lain. Proses sosialisasi berlangsung
dengan mementingkan hubungan antara individu dengan individu dalam kelompok
primari.
c.
Integrasi, yaitu suatu proses yang mengkombinasikan, mengorganisir,
dan mengerjakan bersama bagian-bagian yang berbeda atau sifat-sifat khas dari
seorang individu menuju ke tingkat yang lebih tinggi sebagai suatu keseluruhan
yang kompleks.
Dalam proses individualisasi, sosialisasi, dan integrasi, manusia
pasti mempunyai pengalaman-pengalaman, baik pengalaman menyenangkan maupun
pengalaman tidak menyenangkan. Pengalaman-pengalaman yang diperoleh manusia
dalam tiga proses di atas, baik secara langsung maupun tidak langsung pasti
mempengaruhi perkembangan kepribadian manusia. Pengaruh pengalaman-pengalaman
tersebut dapat bersifat positif, (membantu) maupun bersifat negatif
(menghambat) terhadap perkembangan kepribadian.[11]
FOOTNOTE
[1]E. Koeswara, Teori-teori Kepribadian, (Bandung : PT
Eresco : 1991) cet. 2, hlm. 9-10
[2] Sjarkawi, Pembentukan Kepribadian Anak, (Jakarta : PT
Bumi Aksara : 2008) cet. 2, hlm. 17
[3] Ibid. Sjarkawi, hlm. 18
[4] Op.Cit, E. Koswara, hlm. 11
[5] Ibid, E. Koswara, hlm. 32-35
[6] Ibid, E. Koswara, hlm. 77
[7]http://lailyadja.blogspot.com.com/2013/05/teori-kepribadian-maslow.html?m=1 di unduh 27/10/2013
[8] Op.Cit, E. Koswara, hlm. 119-126
[9]http://lailyadja.blogspot.com.com/2013/05/teori-kepribadian-maslow.html?m=1 di unduh 27/10/2013
[10] Op.Cit, Sjarkawi, hlm. 11-13
[11] Kartini Kartono,Kepribadian Siapakah Saya?, (Jakarta : CV.
Rajawali : 1985) hlm. 121-122
XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
Kelompok.......11
EVALUASI DARI ASPEK PSIKOLOGI
A.
Pengertian Evaluasi
Aktivitas belajar, perlu diadakan evaluasi. Hal ini penting karena
dengan evaluasi kita dapat mengetahui apakah tujuan belajar yang telah
ditetapkan dapat tercapai atau tidak. Melalui evaluasi, dapat diketahui
kemajuan – kemajuan belajar yang dialami oleh anak, dapat ditetapkan keputusan
penting mengenai apa yang telah diperoleh dan diketahui anak, serta dapat
merencanakan apa yang seharusnya dilakukan pada tahap berikutnya.[1]
Istilah evaluasi berasal dari bahasa Inggris evaluationyang
secara bahasa diartikan penilaian atau penaksiran (Echols dan Shadily, 1992).
Menurut Miller (2008), evaluasi diartikan sebagai “a qualitative judgement
that uses measurement results from test and assesment information to assign
grades” (suatu pertimbangan kualitatif yang menggunakan hasil pengukuran
lewat informasi tes dan asesmen untuk menentukan kualitas). Daniel L.
Stufflebeam dan Anthony J. Shinkfield (1985) secara singkat merumuskan evaluasi
sebagai berikut : “evaluation is the systematic assessment of the worth or
merit of some objects”. (Evaluasi adalah penilaian sistematis tentang
harga tau jasa beberapa objek). Dengan demikian maka evaluasi antara lain
merupakan kegiatan membandingkan tujuan dengan hasil dan juga merupakan studi
yang mengombinasikan penampilan penampilan dengan suatu nilai tertentu.[2]
Sejalan dengan pendapat – pendapat di atas, Tim Depdiknas (2004)
mengemukakan evaluasi atau penilaian adalah serangkaian kegiatan untuk
memperoleh, menganalisis, dan menafsirkan data tentang proses dan hasil belajar
siswa yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan, sehingga menjadi
informasi yang bermakna dalam pengambilan keputusan. Dari pengertian ini kita
dapat mengambil pengertian, bahwa penilaian hasil belajar ujungnya adalah pada
kegiatan pengambilan keputusan tentang proses dan hasil belajar. Untuk dapat
mengambil keputusan secara tepat tentang hasil belajar tersebut perlu didukung
oleh data secara akurat dan terpercaya. Data ini dikumpulkan melalui kegiatan
pengukuran terhadap hasil belajar baik dengan menggunakan instrumen tes maupun
nontes. Jadi, maksud penilaian adalah memberi nilai tentang kualitas sesuatu.
Penilaian tidak hanya sekedar mencari jawaban terhadap pertanyaan tentang apa,
tetapi lebih diarahkan kepada menjawab pertanyaan bagaimana atau seberapa jauh
suatu proses atau suatu hasil yang diperoleh seseorang atau suatu program.
Penilaian di sini diartikan sebagai padanan kata evaluasi. Memang ada sebagian
pendapat yang menyatakan istilah evaluasi (evaluasi pendidikan) umumnya
digunakan untuk kegiatan pendidikan yang cakupannya lebih luas dan objek yang
dinilai pun juga lebih kompleks, misalnya evaluasi pendidikan secara nasional
atau regional. Sedangkan istilah penilaian digunakan pada cakupan sekolah atau
kelas dengan objek yang terbatas terkait dengan proses dan
hasil kegiatan belajar mengajar. [3]
B.
Tujuan dan Fungsi Evaluasi
Tujuan evaluasi dapat dilihat dari dua segi, tujuan umum dan tujuan
khusus. L. Pasaribu dan Sinjutak, menegaskan bahwa :
1.
Tujuan umum dari evaluasi adalah sebagai berikut :
a.
Mengumpulkan data – data yang membuktikan taraf kemajuan murid
dalam mencapai tujuan yang diharapkan.
b.
Memungkinkan pendidik/guru menilai aktivitas/pengalaman yang
didapat.
c.
Menilai metode mengajar yang dipergunakan.
2.
Tujuan khusus dari evaluasi adalah berikut ini :
a.
Merangsang kegiatan siswa.
b.
Menemukan sebab – sebab kemajuan atau kegagalan.
c.
Memberikan bimbingan yang sesuai dengan kebutuhan, perkembangan dan
bakat siswa yang bersangkutan.
d.
Memperoleh bahwa laporan tentang perkembangan siswa yang
diperlakukan orang tua dan lembaga pendidikan.
Selain itu, secara umum tujuan evaluasi hasil belajar diarahkan
pada dua hal, yaitu : untuk mendapatkan data yang akan dijadikan
sebagai bukti mengenai taraf perkembangan atau taraf kemajuan belajar yang
dicapai oleh para peserta didik, setelah mereka mengikuti proses
pembelajaran dalam jangka waktu tertentu (Depdiknas, 2002). Dengan kata lain,
tujuan umum dari evaluasi dalam pendidikan adalah untuk memperoleh data
pembuktian, yang akan menjadi petunjuk sampai di mana tingkat kemampuan dan
tingkat keberhasilan peserta didik dalam percapaian kompetensi – kompetensi
yang telah ditetapkan dalam kurikulum, setelah mereka menempuh proses
pembelajaran dalam jangka waktu yang telah ditentukan.
Tujuan lain evaluasi hasil belajar adalah diarahkan untuk
mengetahui tingkat efektivitas dari program pembelajaran yang disusun oleh guru
serta proses pembelajaran yang telah diselenggarakan (Depdiknas, 2002). Program
pembelajaran itu misalnya menyangkut perumusan materi pembelajaran, pemilihan
metode pembelajaran, media, sumber belajar, dan rancangan sistem penilaian yang
dipilih. Proses pembelajaran menyangkut sejauh mana pelaksanaan dari program pembelajaran
yang disusun oleh guru itu berjalan dengan lancar dan secara efektif
mengantarkan para peserta didik menguasai kompetensi yang telah ditetapkan.
Untuk menetapkan efektivitas program dan proses pembelajaran ini adalah dengan
melihat seberapa besar jumlah peserta didik dalam suatu kelas telah mencapai
ketuntasan belajar. Sesuai dengan konsep belajar tuntas, sebuah program dan
proses pembelajaran dikatakan efektif bila minimal 75% dari jumlah peserta
didik dalam suatu kelas yang diajar oleh guru telah mencapai ketuntasan
belajar.[5]
Dalam kaitannya dengan kegiatan belajar – mengajar, evaluasi
mempunyai fungsi yang amat penting, yaitu :
1. Untuk memberikan umpan balik
(feedback) kepada guru sebagai dasar untuk memperbaiki proses belajar –
mengajar, serta mengadakan perbaikan program bagi murid.
2. Untuk memberikan angka yang
tepat tentang kemajuan atau hasil belajar dari setiap murid. Antara lain
digunakan dalam rangka pemberian laporan kemajuan belajar murid kepada orang
tua, penentuan kenaikan kelas serta penentuan lulus tidaknya seorang murid.
3. Untuk menentukan murid di
dalam situasi belajar – mengajar yang tepat, sesuai dengan tingkat kemampuan
(dan karakteristik lainnya) yang dimiliki oleh murid.
4. Untuk mengenal latar belakang
(psikologis, fisik, dan lingkungan) murid yang mengalami kesulitan belajar,
nantinya dapat dipergunakan sebagai dasar dalam pemecahan kesulitan – kesulitan
belajar yang timbul.[6]
C.
Jenis – Jenis Evaluasi
Biasanya evaluasi dapat dibagi menjadi 4 jenis, yaitu evaluasi
formatif, sumatif, placement, dan diagnostik. Keempat jenis evaluasi tersebut,
secara singkat akan dibahas dari segi fungsi, tujuan aspek yang dinilai dan
waktu pelaksanaannya.
1.
Evaluasi Formatif
a.
Fungsi : untuk memperbaiki proses belajar mengajar ke arah yang
lebih baik, atau memperbaiki program satuan pelajaran yang telah digunakan.
b.
Tujuan : untuk mengetahui hingga di mana penguasaan murid tentang
bahan yang telah diajarkan dalam suatu program satuan pelajaran.
c.
Aspek – aspek yang dinilai : yang berkenaan dengan hasil kemampuan
belajar murid, meliputi : pengetahuan, keterampilan, sikap dan penguasaan
terhadap bahan pelajaran yang telah disajikan.
d.
Waktu pelaksanaan : setiap akhir pelaksanaan satuan program belajar
mengajar.
2.
Evaluasi Sumatif
a.
Fungsi : untuk menentukan angka/nilai murid yang telah mengikuti program
pengajaran dalam satu caturwulan, semester, akhir tahun atau akhir dari suatu
program bahan pengajaran dari suatu unit pendidikan. Di samping itu, untuk
memperbaiki situasi proses belajar mengajar ke arah yang lebih baik serta untuk
kepentingan penilaian selanjutnya.
b.
Tujuan : untuk mengetahui taraf hasil belajar yang dicapai oleh
murid setelah menyelesaikan program bahan pengajaran dalam suatu catur wulan,
semester, akhir tahun atau akhir suatu program bahan pengajaran pada suatu unit
pendidikan tertentu.
c.
Aspek – aspek yang dinilai : kemajuan belajar, meliputi :
pengetahuan, keterampilan, sikap dan penguasaan murid tentang materi pelajaran
yang sudah diberikan.
d.
Waktu pelaksanaan : akhir caturwulan, semester, atau akhir tahun.
3.
Evaluasi Placement (penempatan)
a.
Fungsi : untuk mengetahui keadaan anak termasuk keadaan seluruh
pribadinya, agar anak tersebut dapat ditempatkan pada posisi yang tepat.
b.
Tujuan : untuk menempatkan anak didik pada kedudukan yang
sebenarnya, berdasarkan bakat, minat, kemampuan, kesanggupan serta keadaan –
keadaan lainnya, sehingga anak tidak mengalami hambatan dalam mengikuti setiap
program/bahan yang disajikan guru.
c.
Aspek – aspek yang dinilai : meliputi : keadaan fisik, psikis,
bakat, kemampuan/pengetahuan, keterampilan, sikap dan lain – lain aspek yang
dianggap perlu bagi kepentingan pendidikan anak selanjutnya.
d.
Waktu pelaksanaan : penilaian ini sebaiknya dilaksanakan sebelum
anak mengikuti proses belajar – mengajar yang permulaan. Atau anak tersebut
baru akan mengikuti pendidikan di suatu tingkat tertentu.
4.
Evaluasi Diagnostik
a.
Fungsi : untuk mengetahui masalah – masalah apa yang diderita
atau yang mengganggu anak didik, sehingga ia mengalami kesulitan, hambatan atau
gangguan ketika mengikuti program tertentu. Dan bagaimana usaha untuk
memecahkannya.
b.
Tujuan : untuk mengatasi/membantu pemecahan kesulitan atau hambatan
yang dialami anak didik waktu mengikuti kegiatan belajar – mengajar pada suatu
bidang studi atau keseluruhan program pengajaran.
c.
Aspek – aspek yang dinilai : hasil belajar, latar belakang
kehidupan anak, keadaan keluarga, lingkungan, dan lain – lain.
D.
Peranan Psikologi Belajar dalam Kegiatan Evaluasi
Psikologi belajar pada dasarnya adalah membicarakan aspek – aspek
psikologi yang mempengaruhi proses dan hasil belajar, sedangkan evaluasi
belajar adalah suatu aktivitas untuk mengetahui berhasil tidaknya tujuan
belajar maka dapat dikatakan bahwa psikologi belajar akan mendasari segala
kegiatan yang menyangkut evaluasi belajar.
Istilah
“kegiatan: di sini mencakup hal – hal sejak dari :
Persiapan,
pelaksanaan sampai pada follow up
Penetapan
tujuan
Pemilihan
jenis evaluasi
Pemilihan
alat yang digunakan dalam evaluasi
Penyusunan
materi/isi evaluasi itu sendiri.
Seorang evaluator yang memahami psikologi belajar akan senantiasa
memperhitungkan aspek – aspek psikologis anak yang akan dievaluasi sejak dari
persiapan sampai pada pelaksanaan dan tindak lanjutnya.
Misalnya
:
Kepada
anak umur berapa evaluasi diberikan.
Kepada
anak yang bermental, bagaimana
Kepada
anak kelas berapa
Kepada
anak yang berminat dalam bidang apa
Kepada
anak yang latar belakang keluarganya bagaimana, dan lain – lain
Hal
– hal tersebut ikut diperhitungkan dalam rangka kegiatan evaluasi.[8]
Selanjutnya dalam follow up– nya pun aspek – aspek psikologis
tersebut harus tetap diperhitungkan. Misalnya :
Jika anak ternyata tidak berhasil dalam mengikuti evaluasi, kita
tidak akan cepat mengatakan bahwa si A adalah tolol, akan tetapi perlu dicari
faktor – faktor penyebab sehingga anak tersebut gagal dalam mengikuti evaluasi.
Mungkin karena materi/bobot evaluasinya tidak sesuai, barangkali kesehatan anak
sedang terganggu dan sebagainya.
Sebaliknya seorang evaluator yang tidak memahami pentingnya
psikologi belajar, maka apa yang dilakukan dalam mengadakan evaluasi biasanya
hanya bersandar pada keinginan semata – mata, tanpa memperhitungkan pada
kemampuan anak maupun aspek – aspek lain yang semestinya diperhitungkan.
Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa dengan psikologi belajar
kita akan memiliki dan memilih menyusun evaluasi secara tepat, memilih dan
menyusun program belajar – mengajar secara tepat, dapat memperhitungkan
kemungkinan faktor – faktor penghambat dan penunjang belajar anak, serta dapat
membantu membimbing dan mengatasi segala kesulitan yang dihadapi anak dalam
belajar. Pada gilirannya kita akan dapat mengarahkan pertimbangan dan
perkembangan anak secara wajar dalam rangka mencapai tujuan hidup yang lebih
baik.[9]
FOOTNOTE
[1] Drs. H. Abu Ahmadi, dkk. “Psikologi Belajar”. (Jakarta
: Rineka Cipta, 2013), hlm. 198
[2] Dr. Sukiman, M.Pd. “Pengembangan Sistem
Evaluasi”. (Yogyakarta : Insan Madani, 2012), hlm. 4
[3] Ibid., hlm. 4-5
[4] Drs. H. Abu Ahmadi, dkk. “Psikologi
Belajar”. (Jakarta : Rineka Cipta, 2013), hlm. 199-200
[5] Dr. Sukiman, M.Pd. “Pengembangan Sistem
Evaluasi”. (Yogyakarta : Insan Madani, 2012), hlm. 12
[6] Drs. H. Abu Ahmadi, dkk. “Psikologi
Belajar”. (Jakarta : Rineka Cipta, 2013), hlm. 200-201
[7] Ibid., hlm. 201-203
[8] Ibid., hlm. 203-204
[9] Ibid., hlm. 204-205
XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
Kelompok......12
Rabu, 18 Mei
2016. NAMA
: IMRADIN ZEBUA. NIM
: 142102008. PRODI
: BIMBINGAN DAN KONSELING. M. KULIAH
: PSIKOLOGI KEPRIBADIAN. INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP)
GUNUNGSITOLI. FAKUTAS ILMU PENDIDIKAN (FIP). PROGRAM STUDI BINBINGAN DAN
KONSELING. T.A 2014/2015
A.
Pengertian-Perkembangan
Perkembangan dapat diartikan sebagai perubahan yang sistematis, progresif, dan berkesinambungan dalam diri individu sejak lahir hingga akhir hayatnya atau dapat diartikan juga sebagai perubahan-perubahan yang dialami individu menuju kedewasaan dan kematangan. Perkembangan secara Sistemetis adalah bahwa perubahan dalam perkembangan yang bersifat saling ketergantungan atau saling mempengaruhi antara satu bagian dengan bagian lainnya, baik fisik maupun psikisdan merupakan satu kesatuan yang harmonis. Perkembangan yang bersifat agresif berarti perubahan yang terjadi bersifat maju,meningkat dan meluas, baik secara kuantitatif (fisik) dan kualitatif (psikis).
1. Tahapan-Tahapan Perkembangan
Perkembangan dapat diartikan sebagai perubahan yang sistematis, progresif, dan berkesinambungan dalam diri individu sejak lahir hingga akhir hayatnya atau dapat diartikan juga sebagai perubahan-perubahan yang dialami individu menuju kedewasaan dan kematangan. Perkembangan secara Sistemetis adalah bahwa perubahan dalam perkembangan yang bersifat saling ketergantungan atau saling mempengaruhi antara satu bagian dengan bagian lainnya, baik fisik maupun psikisdan merupakan satu kesatuan yang harmonis. Perkembangan yang bersifat agresif berarti perubahan yang terjadi bersifat maju,meningkat dan meluas, baik secara kuantitatif (fisik) dan kualitatif (psikis).
1. Tahapan-Tahapan Perkembangan
a.
Perkembangan pada masa Orok
Masa orok ini ialah masa yang paling terpendek dalam kehidupan seorang manusia, yakni dimulai sejak lahir sampai usia dua minggu. Masa Orok biasanya dibagi pada dua masa, yaitu: masa pertunate yang berlangsung selama 15-30 menit pertama sejak lahir sampai tali pusatnya di gunting, dan masa neonate, yakni sejak pengguntingan tali pusat sampai usia dua minggu.
Pada fase ini, masa Orok memiliki karaktristik perkembangan sebagai berikut:
Masa orok ini ialah masa yang paling terpendek dalam kehidupan seorang manusia, yakni dimulai sejak lahir sampai usia dua minggu. Masa Orok biasanya dibagi pada dua masa, yaitu: masa pertunate yang berlangsung selama 15-30 menit pertama sejak lahir sampai tali pusatnya di gunting, dan masa neonate, yakni sejak pengguntingan tali pusat sampai usia dua minggu.
Pada fase ini, masa Orok memiliki karaktristik perkembangan sebagai berikut:
1.
Perkembangan FisikSaat lahir, pada umumnya berat badan orok
kira-kira 3,5 kg dan panjangnya 50 cm. Laki-laki biasanya lebih berat dari pada
wanita, kepalanya kira-kira ¼ dari panjang badannya. Pernapasan, makan, dan
pembuangan selama lahir melalui plasenta. Dengan jerit dan tangis pada waktu
kelahiran, maka paru-paru berkembang dan pernapasan pun dimulai. Pada waktu
lahir, kecepatan pulsa/ketukan antara 130-150 denyutan per mernit tetapi turun
sampai 118 denyutan per menit beberapa hari setelah kelahiran.
2.
Kegiatan-kegiatan-Orok
a. Kegiatan-menyeluruh
Kegiatan yang mencakup kegiatan-kegiatan umum dari seluruh badan.
b. Kegiatan-khusus
Kegiatan yang mencakup kegiatan-kegiatan refleks yang merupakan respons (reaksi) yang tidaak disadari terhadap perangsang-perangsang tertentu, kebanyakan refleks-refleks tersebut bersifat jasmaniah.
a. Kegiatan-menyeluruh
Kegiatan yang mencakup kegiatan-kegiatan umum dari seluruh badan.
b. Kegiatan-khusus
Kegiatan yang mencakup kegiatan-kegiatan refleks yang merupakan respons (reaksi) yang tidaak disadari terhadap perangsang-perangsang tertentu, kebanyakan refleks-refleks tersebut bersifat jasmaniah.
3.
Vokalisasi
Perkembangan vokal (suara) anak dimulai dengan menangis yang biasanya dimulai pada waktu lahir. Maksud tangisan kelahiran adalah untuk mengembangkan paru-paru sehingga memungkinkan pernapasan dan penyediaan oksigen yang cukup bagi darah. Selain itu, bayi yang baru lahir sekali-kali mengeluarkan sura yang menyerupai pernapasan yang berat, perlahan-lahan menjadi lebih kuat dan berkembang menjadi mengoceh yang selanjutnya akan menjadi becakap.
Perkembangan vokal (suara) anak dimulai dengan menangis yang biasanya dimulai pada waktu lahir. Maksud tangisan kelahiran adalah untuk mengembangkan paru-paru sehingga memungkinkan pernapasan dan penyediaan oksigen yang cukup bagi darah. Selain itu, bayi yang baru lahir sekali-kali mengeluarkan sura yang menyerupai pernapasan yang berat, perlahan-lahan menjadi lebih kuat dan berkembang menjadi mengoceh yang selanjutnya akan menjadi becakap.
4.
Perkembangan-kepribadian
Dasar-dasar kpibadian seperti halnya sifat-sifat fisik dan psikis lainnya berasal dari sifat-sifat kebakaan yang menjadi matang. Selain faktor tersebut juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan terutama kasih sayang ibu.
Dasar-dasar kpibadian seperti halnya sifat-sifat fisik dan psikis lainnya berasal dari sifat-sifat kebakaan yang menjadi matang. Selain faktor tersebut juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan terutama kasih sayang ibu.
B.
Fase Bayi
Masa bayi dimulai sejak berakhirnya masa orok sampai akhir tahun
kedua dari kehidupan. Masa bayi ini memiliki perkembangan fisik, intelegensi,
emosi, bahasa, bermain, pengertian, kepribadian, moral, dan kesadaran beragama.
1.
Perkembangan Fisik
a.
Pada tahun pertama pertumbuhan fisik sangat cepat sedangkan tahum
kedua mengendur.
b.
Pola perkembangan bayi pria dan wanita sama.
c.
Tinggi badan secara proposional lebih lambat dari pertumbuhan berat
badan selama tahun pertama dan lebih cepat pada tahun kedua.
d.
Dari 20 gigi seri, kira-kira 16 telah tumbuh selama masa bayi
berakhir.
e.
Pertumbuhan otak tampak dengan bertambah besarnya ukuran tengkorak
kepala.
f.
Organ keindraan berkembang cepat selama masa bayi dan sanggup
berfungsi.
g.
Fungsi-fungsi fisiologis.
h.
Perkembangan penguasaan otot-otot
2.
Perkembangan Inteligensi
Sejak setahun
pertama dari usia anak, fungsi intelegensi sudah mulai tampak dalam tingkah
lakunya. Anak yang cerdas menunjukkan gerakan-gerakan yang lancar, serasi, dan
koordinasi. Sedangkan anak yang kurang cerdas, gerakan-gerakannya kaku, dan
kurang terkoordinasi. Perkembangan kemampuan motorik (berjalan) pada anak yang
cerdas dimulai pada usia 12 bulan, anak yang sedang pada usia 15 bulan, yang
moron 22 bulan, dan yang idiot 30 bulan. Dalam perkembangan bahasa (berbicara),
anak yang cerdas mulai berbicara pada usia 16 bulan, moron 34 bulan, dan idiot
51 bulan.
3.
Perkembangan Emosi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar