Selasa, 24 April 2018

Belajar & Pembelajaran Bagian II (Dua)

Di sekolah itulah siswa diberi beberapa ilmu pengetahuan dan percontohan yang baik, akhirnya mengalami perubahan baik kognitif, afektif maupun psikomotorik. Dengan demikian perjodohan sekolah tersebut baik, tentunya perubahan dan perkembangan dari anak juga baik. Jelasnya guru dan teman-teman sekolah, tugas-tugas sekolah dan peralatannya, peraturannya, Kesemuanya menantang siswa untuk menyesuaikan diri, pergaulan anak dengan lingkungannya (sekolah) dapat dibentuk karakter anak. Melihat pernyataan itu jelaslah minat belajar siswa sangat dipengaruhi di masa mereka sekolah, kalaupun sekolahnya tergolong maju, mestinya bisa mendorong siswa untuk belajar giat, begitu juga sebaliknya.
A.    Peranan Minat dalam Belajar
Peranan minat dalam belajar lebih besar atau kuat dari sikap yaitu minat akan berperan sebagi “Motifating Force“ yaitu sebagai kekuatan yang akan mendorongsiswa untuk belajar. Siswa yang berminat (Sikapnya senang) kepada pelajaran akantampak terdorong terus untuk tekun belajar, berbeda dengan siswa yang sikapnya hanyamenerima pada pelajaran, mereka hanya tergerak untuk mau belajar tetapi sulit untuk bisatekun karena tidak ada pendorongnya.
B.     Macam-Macam-Minat.
a.       Minat primitif atau biologis => Minat yang timbul dari kebutuhan – kebutuhan jasmani berkisar pada soal makanan, comfort, dan aktifitas. Ketiga hal ini meliputi kesadaran tentang  kebutuhan yang terasa akan sesuatu yang dengan langsung  dapat memuaskan dorongan untuk mempertahankanorganisme. 
b.      Minat kultural atau sosial => Minat   yang  berasal   dari perbuatan belajar yang  lebih  tinggi  tarafnya. Orang yang benar – benar terdidik ditandai dengan adanya minat yang benar – benar luas terhadap hal – hal yang bernilai (Witherington, H. C, 1999)
C.     Minat Yang Menunjang Belajar
Minat merupakan faktor psikologis yang akan mempengaruhi belajar. Dalam hal ini sikap yang akan menunjang belajarseseorang ialah sikap positif (menerima/suka) terhadap bahan/mata pelajaran yang dipelajari, terhadap guru yang mengajar dan terhadap lingkungan tempat dimana ia belajar seperti : kondisi kelas, teman-temanya, sarana pengajaran dan sebagainya.
Adapun minat yang dapat menunjang belajar adalah minat kepada bahan/mata pelajaran dan kepada guru yang mengajarnya. Apabila siswa tidak berminat kepada bahan/mata pelajaran juga kepada gurunya, maka siswa tidak akan mau belajar. Oleh karena itu apabila siswa tidak berminat sebaiknya siswa di bangkitkan sikap positif (sikap menerima) kepada pelajaran dan kepada gurunya, agar siswa mau belajar memperhatikan pelajaran.
D.    Menumbuhkan Minat Belajar
Beberapa ahli pendidikan berpendapat bahwa cara yang paling efektif untuk membangkitkan minat pada suatu subyek yang baru adalahdengan menggunakan minat-minat siswa yang telah ada. Menurut Tanner and Tanner (1975) menyarankan agar para pengajar berusaha membentuk minat-minat baru pada siswa. Hal ini bisa dicapai melalui jalan memberi informasi pada siswa tentang bahan yang akan disampaikan dengan menghubungkan bahan pelajaran yang lalu, kemudian diuraikan kegunaannya di masa yang akan datang. Roijakters (1980) berpendapat bahwa hal ini bisa dicapai dengan cara menghubungkan bahan pelajaran dengan berita-berita yang sensasional, yang sudah diketahui siswa.
Harry Kitson (The Liang gie 1995:130) mengemukakan bahwa ada dua kaidah tentang minat (the laws of interest),yang berbunyi:
1.      Untuk menumbuhkan minat terhadap suatu mata pelajaran, usahakan memperoleh keterangan tentang hal itu
2.      Untuk menumbuhkan minat terhadap suatu mata pelajaran, lakukan kegiatan yang menyangkut hal itu.
JT. Loekmono (1985:98), mengemukakan bahwa cara-cara untuk menumbuhkan minat belajar pada diri siswa adalah sebagai berikut :
1.      Periksalah kondisi jasmani anak, untuk mengetahui apakah segi ini yang menjadi sebab.
2.      Gunakan metode yang bervariasi dan media pembelajaran yang menarik sehingga dapat           merangsang anak untuk belajar
3.      Menolong anak memperoleh kondisi kesehatan mental yang lebih baik.
4.      Cek pada orang atau guru-guru lain , apakah sikap dan tingkah laku tersebut hanya terdapat pada pelajaran saudara atau juga ditunjukkan di kelas lain ketika diajar oleh guru-guru lain.
5.      Mungkin lingkungan rumah anak kurang mementingkan sekolah dan belajar. Dalam hal ini orang-orang di rumah perlu diyakinkan akan pentingnya belajar bagi anak.
6.      Cobalah menemukan sesuatu hal yang dapat menarik perhatian anak, atau tergerak minatnya. Apabila minatnya tergerak, maka minat tersebut dapat dialihkan kepada kegiatan-kegiatan lain di sekolah.
E.     Seberapa Penting Motivasi dan Minat Belajar Siswa
Motivasi penting dalam membentuk seberapa besar minat belajar siswa. Motivasi juga mempengaruhi seberapa banyak siswa akan mempelajari dari suatu kegiatan pembelajaran, atau seberapa banyak penyerapan siswa dalam menangkap informasi yang disajikan kepada mereka. Siswa yang termotivasi untuk belajar akan menggunakan kognitif yang lebih tinggi dalam mempelajari materi tersebut. Sehingga siswa dapat menyerap dan mengangkap lebih baik. Motivasi belajar siswa merupakan faktor utama dalam keberhasilan belajar siswa. Siswa yang termotivasi dengan baik akan menghasilkan tingkat keberhasilan yang lebih baik. Motivasi terbagi menjadi dua , yaitu maotivasi dari dalam diri sendiri disebut intrisik dan motivasi dari luar disebut ektrinsik . motivasi dari dalam diri sendiri (intrinsik) biasanya siswa sadar dan terdorong akan pentingnya belajar.
Pentingnya peran motivasi dalam proses pembelajaran perlu pahami oleh pendidik, agar dapat melakukan berbagai tindakan dan bantuan kepada siswa. Motivasi dirumuskan sebagai dorongan bagi siswa baik dari dalam maupun dari luar siswa, untuk mencapai tujuan tertentu guna memenuhi kebutuhan. Kebutuhan tersebut sangat berhubungan dengan proses pembelajaran.
Motivasi siswa dapat digambarkan sebagai bahan bakar mesin penggerak, tanpa adanya bahan bakar maka mesin tidak akan berfungsi bergerak dengan baik. Motivasi belajar yang baik akan mendorong siswa aktif dan berprestasi didalam kelas. Tetapi motivasi yang kuat juga dapt berdampak negatif terhadap usaha belajar.
Fungsi dari motivasi pembelajaran yaitu sebagai penggerak, pengarah dan mendorong tingkah laku atau perbuatan seseorang.
Minat adalah keadaan mental, kondisi atau keinginan jiwa terhadap suatu objek untuk mencapai tujuan yang dicita-citakan. Hal ini berarti seseorang tidak akan mencapai tujuan cita-cita jika dalam diri seseorang tidak ada minat dan keinginan untuk mencapai cita-cita yang diinginkan. Dalam pembelajaran minat merupakan motor penggerak untuk mencapi tujuan yang diingikan, tanpa adanya minat atau keinginan maka tujuan tidak akan tercapai.
Sebagai pendidik juga harus mampu menjaga minat belajar siswa dalam belajar, dengan cara memberi kebebasan untuk pindah dari pembelajaran satu ke pembelajaran yang lain dalam situasi belajar. Faktor yang mempengaruhi minat belajar antara lain yaitu faktor yang berasal dari dalam diri dan faktor yang berasal dari luar diri siswa.
Mengembangkan motivasi dan minat belajar siswa penting dalam pembelajaran, yang mana pada dasarnya untuk membantu dan mendorong siswa dalam memilih bagaimana hubungan antara materi yang diharapkan dengan dirinya sendiri, agar tujuan yang dingikan tercapai. 
Daftar Pustaka
Esti, Sri. 1989. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Grafindo
Nasution. 1982.Teknologi Pendidikan. Bandung: Bumi Aksara
Priyitno, Elida. 1989.Motivasi Dalam Belajar. Jakarta: P2LPTK
Sardiman, A,M. 1990.Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Rajawali
         Witherington, H. C. 1999. Psikologi Pendidikan. Jakarta : Aksara Baru
         Wijaya, Wina. 2003. Strategi Pembelajaran. Jakarta : Prenada Media Group
         Mahfudzh, Shalahudin. 1990.Pengantar Psikologi Pendidikan.Surabaya : Bina Ilmu
         Purwanto, Wgalim. 1990. Psikologi Pendidikan. Bandung : Remaja Rasya Karya
         Hasan, Khalijah. 1994. Dimensi – dimensi Psikologi Pendidikan.Surabaya. Al – Ikhlas
         Brata, Sumardi Surya. 1984.Psikologi Pendidikan. Jakarta : Rajawali Pers
         Ramayulis. 2001. Metodologi Pengajaran Agama Islam. Jakarta : Kalam Mulia
         Purwanto, M. Ngalim. 2010.Psikologi Pendidikan. Bandung : PT Remaja Rosdakarya
        http://www.kajianpustaka.com/2013/04/motivasi-belajar.html/diunggah-pada-hari-tanggal-Sabtu-15-Maret-2014/Pukul-19:20/oleh-Maulida-Rahma
         http://el-unsa.blogspot.com/2013/01/psikologi-motivasi.html//diunggah-pada-hari-tanggal-Sabtu-15-Maret-2014/Pukul-19:20/oleh-Maulida-Rahma
        http://edukasi.kompasiana.com/2013/12/09/seberapa-penting-motivasi-dan-minat-belajar-siswa--617681.html/diunggah-pada-hari-tanggal-Sabtu-15-Maret-2014/Pukul-19:20/oleh-Maulida-Rahma

Footnote
[1] M. Ngalim Purwanto. Psikologi Pendidikan ( Bandung : PT Remaja Rosdakarya ). 2010. Hlm. 60.
[2] Ibid. Hlm. 62
[3] M. Ngalih Purwanto. PSIKOLOGI PENDIDIKAN (Bandung : PT REMAJA ROSDAKARYA). 2010.Hlm.73
[4] Ibid. Hlm.73
[5] Mahfudh Salahudin. Pengantar Psikologi Pendidika. (Surabaya : Bina Ilmu). 1990. Hlm. 45.
[6] Ramayulis. Metodologi Pengajaran Agama Islam. (Jakarta : Kalam Mulia). 2001. Hlm. 91.
[7] Wgalim Purwanto. Psikologi Pendidikan. (Bandung : Remaja Rasya Karya). 1990. Hlm. 84.
[8] Khalijah Hasan. Dimensi-dimensi Psikologi Pendidikan. (Surabaya : Al-Ikhlas). 1994. Hlm. 86.
[9] Sumardi Surya Brata. Psikologi Pendidikan. (Jakarta : Rajawali Pers). 1984. Hlm. 231.
[10] Wina Wijaya. Strategi Pembelajaran. (Prenada Media Group). Hml. 123.
[11]  Shalahudin Mahfudzh. Pengantar PsikologiPendidikan. ( Surabaya : Bina Ilmu.). 1990. Hlm. 97.
XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
Kelompok.......7
Selasa, 05 April 2016
Pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran bahasa
FAKULTAS TARBIYAH. PRODI PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDA’IYAH. INSTITUT AGAMA ISLAM NAHDLATUL ‘ULAMA. KEBUMEN. 2015/2016
A.    PENDEKATAN.
1.      Pengertian Pendekatan
Istilah pendekatan berasal dari bahasa Inggris approach yang memiliki beberapa arti di antaranya diartikan dengan “pendekatan”. Di dalam dunia pengajaran, kata approach lebih tepat diartikan a way of beginning something “cara memulai sesuai”. Karena itu, istilah pendekatan dapat diartikan cara memulai pembelajaran.
Dalam pengertian yang lebih luas, pendekatan mengacu kepada seperangkat asumsi mengenai cara belajar-mengajar. Pendekatan merupakan titik tolak dalam memandang sesuatu, suatu  filsafat atau keyakinan yang tidak selalu mudah membuktikannya. Jadi, pendekatan bersifat aksiomatis (Badudu 1996:17).  Aksiomatis artinya bahwa kebenaran teori-teori yang digunakan tidak dipersoalkan lagi. Pendekatan pembelajaran (teaching approach) adalah suatu ancangan atau kebijaksanaan dalam memulai serta melaksanakan pengajaran suatu bidang studi/mata pelajaran yang memberi arah dan corak kepada metode pengajarannya dan didasarkan pada asumsi yang berkaitan.
Tugas utama dan pertama seorang guru adalah mengajar. Untuk melaksanakan tugas tersebut, guru memerlukan pedoman yang dijadikan dasar pegangan agar apa yang dilakukanya sesuai dengan kebijakan pemerintah, dalam hal ini kebijakan Departemen Pendidikan Nasional. Dalam kaitanya dengan pelaksanaan kegiatan di dalam proses belajar mengajar, pegangan guru utama adalah kurikulum.
Kurikulum disusun berdasarkan suatu pendekatan yang dilandasi pandangan atau filsafat tertentu. Apabila pandangan atau filsafat tertentu berubah, maka kurikulumpun akan berubah, dan ini berarti pedoman proses belajar mengajar juga berubah. Perubahan kurikulum dilakukan untuk menyesuaikan program pendidikan dengan kebutuhan masyarakat serta meningkatkan mutu pendidikan. Dalam beberapa dasawarsa ini, telah terjadi beberapa kali perubahan pendekatan dalam dunia pembelajaran, termasuk di dalamnya dunia pembelajaran bahasa. Salah satu perkembngan yang terjadi dalam pembelajaran bahasa ialah munculnyannpendekatan yang dilandasi oleh filsafat pendidikan bahasa terpadu. Dengan munculnya pendekatan tersebut, maka bertambahlan khasana dalam dunia pendidikan khususnya dalam masalah pembelajaran bahasa.
Dalam bebrapa dasawarsa ini telah terjadi beberapa kali perubahan kurikulum sebagai akibat adanya perubahan pandangan atau filsafat tertentu, dan perubahan pendekatan pembelajaran. Hal seperti itu terjadi pula pada bidang studi bahasa, termasuk bidang bahasa Indonesia sehingga kita mengenal beberapa macam pendekatan, seperti pendekatan tujuan, pendekatan struktur, pendekatan komunikatif, pendekatan pragmatic, dan pendekatan terpadu.
2.      Fungsi Pendekatan
Fungsi pendekatan bagi suatu pengajaran adalah sebagai pedoman umum dan langsung bagi langkah-Iangkah metode pengajaran yang akan digunakan. Sering dikatakan bahwa pendekatan melahirkan metode. Artinya, metode suatu bidang studi, ditentukan oleh pendekatan yang digunakan. Di samping itu, tidak jarang nama metode pembelajaran diambil dari nama pendekatannya. Sebagai contoh dalam pengajaran bahasa. Pendekatan SAS melahirkan metode SAS. Pendekatan langsung melahirkan metode langsung. Pendekatan komunikatif melahirkar metode komuniatif.
Bila prinsip lahir dari teori-teori bidang-bidang yang relevan,  pendekatan lahir dari asumsi terhadap bidang-bidang yang relevan pula. Misalnya, pendekatan pengajaran bahasa lahir dari asumsi-asumsi yang muncul terhadap bahasa sebagai bahan ajar, asumsi terhadap apa yang dimaksud dengan belajar, dan asumsi terhadap apa yang dimaksud dengan mengajar. Berdasarkan asumsi-asumsi itulah kemudian muncul pendekatan pengajaran yang dianggap cocok bagi asumsi-asumsi tersebut. Asumsi terhadap bahasa sebagai alat komunikasi dan bahwa belajar bahasa yang utama adalah melalui komunikasi, lahirlah pendekatan komunikatif.
3.      Macam Pendekatan.
a.       Pendekatan komunikatif
Pendekatan komunikatif mengarahkan pengajaran bahasa pada tujuan pengajaran yang mementingkan fungsi bahasa sebagai alat komunikasi (Syafi’ie, 1993: 17, Hymes dalam Brumfit, 1987: 2, dan Djiwandono, 1996: 13). Pendekatan komunikatif memfokuskan pada keterampilan siswa mengimplementasikan fungsi bahasa (untuk berkomunikasi) dalam pembelajaran.
      Berdasarkan prinsip pendekatan komunikatf, pengajaran menulis harus diarahkan pada penggunaan bahasa dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya pembelajaran menulis surat.
b.      Pendekatan Integratif
Pembelajaran bahasa harus dilakukan secara utuh. Para siswa dituntut untuk terampil berbahasa, yaitu terampil menyimak, membaca, berbicara, dan menulis. Keempat keterampilan berbahasa tersebut harus dilakukan secara terpadu dalam satu proses pembelajaran dengan fokus satu keterampilan. Misalnya, para siswa sedang belajar keterampilan menulis maka ketiga keterampilan yang lainnya harus dilatihkan juga, tetapi kegiatan tersebut tetap difokuskan untuk mencapai peningkatan kualitas menulis.
c.       Pendekatan Cara Belajar Siswa Aktif.
Pendekatan cara belajar siswa aktif diartikan sebagai kegiatan belajar menbgajar yang melibatkan siswa. Artinya, siswa secara aktif terlibat dalam proses pengajaran.
d.      Pendekatan Belajar Kooperatif
Belajar kooperatif merupakan suatu metode yang mengelompokkan siswa ke dalam kelompok-kelompok kecil.  Siswa bekerja sama dan saling membantu dalam menyelesaikan tugas.
e.       Pendekatan Tujuan.
Pendekatan tujuan ini dilandasi oleh pemikiran bahwa dalam setiap kegiatan belajar mengajar, yang harus dipikirkan dan ditetapkan terlebih dahulu ialah tujuan yang hendak dicapai. Dengan memperhatikan tujuan yang telah ditetapkan itu dapat ditentukan metode mana yang akan digunakan dan teknik pengajaran yang bagaimana yang diterapkan agar tujuan pembelajaran tersebut dapat dicapai.
f.       Pendekatan Struktural
Pendekatan struktural merupakan salah satu pendekatan dalam pembelajaran bahasa, yang dilandasi oleh asumsi yang menganggap bahasa sebagai seperangkat kaidah. Atas dasar anggapan tersebut timbul pemikiran bahwa pembelajaran bahasa harus diutamakan penguasaan kaidah-kaidah bahasa atau tata bahasa. Dalam hal ini pengetahuan tentang pola-pola kalimat, pola kata, dan suku kata menjadi sangat penting, jelas, bahwa aspek kognitif bahasa diutamakan. Dengan pendekatan struktural siswa akan menjadi cermat dalam menyusun kalimat, karena mereka memahami kaidah-kaidahnya.
g.      Pendekatan Kontekstual
Pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning/ CTL) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat.
Pendekatan ini mempunyai konsep, guru menggunakan objek di sekitar siswa sebagai media pembelajaran di kelas. Misalnya peristiwa kebakaran di Pasar Juwana dapat dijadikan bahan atau materi menulis artikel.
B.     Metode Pembelajaran
1.      Pengertian Metode Pembelajaran.
Istilah metode berasal dari bahasa Yunani methodos ’jalan’, ’cara’. Karena itu, metode diartikan cara melakukan sesuatu. Metode pembelajaran bahasa ialah rencana pembelajaran bahasa, yang mencangkup pemilihan, penentuan, dan penyusunan secara sistematis bahan yang akan diajarkan, serta kemungkinan pengadaan remidi dan bagaimana pengembanganya. Bahan ajar disusun secara sistematis agar mudah diserap dan dikuasai oleh anak. Semuanya didasarkan pada pendekatan yang dianut. Melihat hal itu, jelas bahwa suatu metode ditentukan berdasarkan pendekatan yang dianut, dengan kata lain pendekatan merupakan dasar penentu metode yang digunakan.
Metode, mencangkup pemilihan dan penentuan bahan ajar, penyusunan serta kemungkinan pengadaan remediasi dan pengembangan bahan ajar tersebut.
Dalam hal ini, setelah guru menetapkan tujuan yang hendak dicapai, ia mulai memilih bahan ajar yang sesuai dengan bahan ajar tersebut. Bahan ajar tersebut disusun menurut urusan tingkatan kesukran, yakni yang mudah berlanjut pada yang lebih sukar. Disamping itu, guru merencanakan pula cara mengevaluasi, mengadakan remidi serta mengembangkan bahan ajar tersebut.
Dalam dunia pembelajaran, metode diartikan ’cara untuk mencapai tujuan’. Jadi, metode pembelajaran  dapat diartikan sebagai cara-cara menyeluruh (dari awal sampai akhir) dengan urutan yang sistematis berdasarkan pendekatan tertentu untuk mencapai tujuan-tujuan pembelajaran. Jadi, metode merupakan cara melaksanakan pekerjaan, sedangkan pendekatan bersifat filosofis, atau bersifat aksioma.
Dengan demikian, metode bersifat prosedural.  Artinya, menggambarkan prosedur bagaimana mencapai tujuan-­tujuan pengajaran. Karena itu, tepat bila dikatakan bahwa setiap metode pembelajaran mencakup kegiatan-kegiatan sebagai bagian atau komponen metode itu. Kegiatan-kegiatan sebagai bagian atau komponen metode itu bila digambarkan dalam bentuk bagan akan tampak sebagai berikut.
Tahap
Kegiatan
I. Persiapan
Seleksi (pemilihan bahan ajar dengan berpedo-man kepada kurikulum.
Gradasi(penyusunan bahan, tujuan, dan seba-gainya sehingga menjadi rencana pembelajaran (RPP).
II. Pelaksanaan
Presentasi awal(penyajian atau pengenalan bahan kepada siswa)
Presentasi lanjut(pemantapan, latihan).
III. Penilaian
Penilaian formatif(proses pembelajaran)
Penilaian sumatifsudah di luar metode
Jadi, secara keseluruhan metode pengajaran itu mencakup tiga tahap kegiatan, yaitu persiapan (preparasi), pelaksanaan (presentasi), dan penilaian (evaluasi). Setiap tahap diisi pula oleh langkah-Iangkah kegiatan yang lebih spesifik. Dari bagan di atas terlihat bahwa tahap I (persiapan) tidak kelihatan di sekolah karena biasa dilakukan guru di rumah. Ini membuktikan bahwa metode pengajaran itu luas cakupannya, mencakup kegiatan guru yang ada di rumah sampai ke sekolah dalam rangka mencapai tujuan-tujuan yang sudah ditetapkan.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa metode pembelajaran adalah rencana pembelajaran yang mencakup pemilihan, penentuan, dan peyusunan secara sistematis bahan yang akan diajarkan, serta kemungkinan pengadaan remidi dan bagaimana pengembangannya. Karena itu,metode pengajaran dapat dikatan sebagai cara-cara guru mencapai tujuan pengajaran dari awal sampai akhir yang terdiri atas lima kegiatan pokok. Kegiatan-kegiatan tersebut sebagai berikut:
1)   pemilihan bahan
2)   penyusunan bahan
3)   penyajian
4) pemantapan, dan
5) penilaian formatif
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa secara prosedural sebenarnya semua metode pengajaran itu sama. Yang membedakannya adalah pendekatan dan prinsip-prinsip yang dianutnya. Hal itu karena keduanya, terutama pendekatan, sangat menentukan corak sebuah metode pengajaran. Metode disusun (dilaksanakan tahap-tahapnya) dengan berpedoman kepada pendekatan dan prinsip-prinsip yang dianut. Pendekatan (dan juga prinsip) inilah yang mempengaruhi setiap langkah kegiatan metode, yaitu mempengaruhi pemilihan bahan, penyusunan, pengajian, pemantapan, dan juga penilaian. Karena itu, tidak heran bila nama-nama metode pengajaran bahasa banyak yang menggunakan nama-nama pendekatannya. Contohnya metode komunikatif berasal dari pendekatan komunikatif dan metode SAS berasal dari pendekatan SAS.
2.      Macam-macam metode
Terdapat metode-metode pembelajaran dari metode yang berpusat pada guru (ekspositori), seperti ceramah, tanya jawab, demonstrasi, sampai dengan metode yang berpusat pada siswa (discovery/ inquiry), seperti eksperimen.
a.       Metode ceramah merupakan penuturan secara lisan oleh guru terhadap kelas.
b.      Metode tanya jawabmerupakan metode mengajar dimana guru menanyakan hal-hal yang sifatnya faktual.
c.       Metode diskusi, guru memberikan pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya menggunakan informasi yang telah dipelajari untuk memecahkan suatu masalah.
d.      Metode kerja kelompok, dengan metode ini siswa dalam suatu kelas dipandang sebagai suatu kelompok atau dibagi atas kelompok-kelompok kecil untuk mencapai suatu tujuan tertentu.
e.       Metode demonstrasi dan eksperimen, dengan demonstrasi guru atau narasumber atau siswa mengadakan suatu percobaan.
f.       Metode sosiodrama dan bermain peran merupakan metode mengajar dengan   cara mendramatisasikan masalah-masalah hubungan sosial. Merupakan suatu cara penguasaan bahan-bahan pelajaran melalui pengembangan imajinasi dan penghayatan siswa. Pengembangan imajinasi dan penghayatan dilakukan siswa dengan memerankannya sebagai tokoh hidup atau benda mati.
g.      Metode pemberian tugas belajar dan resitasi, dengan metode ini guru memberikan tugas, siswa mempelajari kemudian melaporkan hasilnya.
h.      Metode karyawisata, merupakan suatu metode mengajar di mana guru mengajak siswa ke suatu objek tertentu dalam kaitannya dengan mata pelajaran di sekolah.
i.        Drill atau pemberian latihan merupakan cara mengajar dengan memberikan latihan-latihan terhadap apa yang dipelajari.
j.        Metode debat, merupakan salah satu metode pembelajaran yang sangat penting untuk meningkatkan kemampuan akademik siswa. Materi ajar dipilih dan disusun menjadi paket pro dan kontra.
k.      Metode Pemecahan Masalah (Problem Solving) adalah penggunaan metode dalam kegiatan pembelajaran dengan jalan melatih siswa menghadapi berbagai masalah baik itu masalah pribadi atau perorangan maupun masalah kelompok untuk dipecahkan sendiri atau secara bersama-sama. Memusatkan pada masalah kehidupannya yang bermakna bagi siswa, peran guru menyajikan masalah, mengajukan pertanyaan dan memfasilitasi penyelidikan dan dialog.
l.        Cooperative Script, adalah metode belajar dimana siswa bekerja berpasangan dan secara lisan mengikhtisarkan bagian-bagian dari materi yang dipelajari.
m.    Pictur    e and Pictureadalah suatu metode belajar yang menggunakan gambar dan dipasangkan/ diurutkan menjadi urutan logis.
n.      Metode Jigsaw, dalam metode ini guru membagi satuan informasi yang besar menjadi komponen-komponen lebih kecil. Selanjutnya guru membagi siswa ke dalam kelompok belajar kooperatif yang terdiri dari empat orang siswa sehingga setiap anggota bertanggungjawab terhadap penguasaan setiap komponen/ subtopik yang ditugaskan guru dengan sebaik-baiknya.
Selain metode-metode di atas, dikemukakan juga metode pembelajaran bahasa yang lainnya, yaitu:
1.   Metode langsung
Metode pengajaran langsung dirancang secara khusus untuk mengembangkan belajar siswa tentang pengetahuan prosedural dan pengetahuan deklaratif yang terstruktur dengan baik dan dapat dipelajari selangkah demi selangkah. Di dalam metode langsung terdapat 5 fase yaitu demonstrasi, pembimbingan,pengecekan, dan pelatihan. Di dalam metode ini terdapat teknik dalam pembelajaran menulis yaitu teknik gambar atau menulis langsung.
2.   Metode Komunikatif
Desain yang bermuatan metode komunikatif harus mencakup semua keterampilan berbahasa. Metode komunikatif dapat dilakukan dengan teknik menulis dialog. Siswa menulis dialog tentang yang mereka lakukan dalam sebuah aktivitas. Kegiatan ini dapat dilaksanakan perseorangan maupun kelompok
3.   Metode Integratif
Integratif berarti menyatukan beberap aspek ke dalam satu proses. Integratif terbagi menjadi interbidang studi dan antarbidang studi. Interbidang studi artinya beberapa aspek dalam satu bidang studi diintegrasikan. Misalnya, menyimak diintegrasikan dengan berbicara dan menulis. Metode inregratif dapat dilaksanakan dalam pembelajaran mambaca dengan memberi catatan bacaan. Siswa dapat membuat catatan yang diangap penting atau kalimat kunci sebuah bacaan. Dalam melakukan kegiatan membaca sekaligus siswa menulis.
4.   Metode Tematik
Dalam metode tematik, semua komponen materi pembelajaran diintegrasikan ke dalam tema yang sama dalam satu unit pertemuan. Yang perlu dipahami adalah tema bukanlah tujuan tetapi alat yang digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Tema tersebut harus diolah dan disajikan secara kontekstualitas, kontemporer, kongkret, dan konseptual. Tema yang telah ditentukan harus diolah sesuai dengan perkembangan dan lingkungan siswa. Semua siswa dapat mengikuti proses pembelajaran dengan logika yang dipunyainya. Siswa berangkat dari konsep ke analisis atau dari analisis ke konsep kebahasaan, penggunaan, dan pemahaman.
5.   Metode Konstruktivitas
Asumsi sentral metode konstruktivistik adalah belajar itu menemukan. Artinya, meskipun guru menyampaikan sesuatu kepada siswa, mereka melakukan proses mental atau kerja otak atas informasi itu agar informasi tersebut masuk ke dalam pemahaman mereka. Metode konstruktivistik didasarkan pada teori belajar kognitif yang menekankan pada pembelajaran kooperatif, pembelajaran generatif strategi bertanya, inkuiri, atau menemukan dan keterampilan metakognitif lainnya (belajar bagaimana seharusnya belajar).
6.   Metode Kontekstual
Pembelajaran kontekstual adalah konsepsi pembelajaran yang membantu guru menghubungkan mata pelajaran dengan situasi dunia nyata dan pembelajaran yang memotivasi siswa agar menghubungkan pengetahuan dan terapannya dengan kehidupan sehari-hari. Adapun metode ini dapat diterapkan dalam salah satu pembelajaran menulis deskripsi. Siswa dapat belajar dalam situasi dunia nyata.
C.     Teknik Pembelajaran
Teknik pembelajaran merupakan cara guru menyampaikan bahan ajar yang sudah disusun (dalam metode), berdasarkan pendekatan yang dianut. Teknik yang digunakan oleh guru bergantung pada kemampuan guru itu mencari akal atau siasat agar proses belajar mengajar dapat berjalan lancar dan berhasil dengan baik. Dalam menentukan teknik pembelajaran ini, guru perlu mempertimbangan situasi kelas, lingkungan, kondisi siswa, sifat-sifat siswa, dan kondisi-kondisiyang lain. Dengan demikian, teknik pembelajaran yang digunakan oleh guru dapat bervariasi sekali. Untuk metode yang sama, dapat digunakan teknik pembelajaran yang berbeda-beda, bergantung pada berbagai factor tersebut.
Dari uraian di atas dapat dikatakan bahwa teknik pembelajaran adalah siasat yang dilakukan oleh guru dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar, untuk dapat memperoleh hasil yang optimal. Teknik pembelajaran ditentukan berdasarkan metode yang digunakan, dan metode disusun berdasarkan pendekatan yang dianut. Dengan kata lain, pendekatan menjadi dasar penentuan teknik pembelajaran. Dari suatu pendekatan dapat diterapkan teknik pembelajaran yang berbeda-beda pula.
Bila Anda hanya mengenal pendekatan dan metode saja sebenarnya  Anda baru mengetaui penyampaian pelajaran secara teoretis (Hidayat dkk. 2000: 60). Karena ada suatu alat lain yang digunakan langsung oleh guru untuk mencapai tujuan pelajaran itu, yaitu teknik.
Teknik artinya cara, yaitu cara mengerjakan atau melaksanakan sesuatu. Jadi, teknik pengajaran atau mengajar adalah daya upaya, usaha-usaha, cara-cara yang digunakan guru untuk melaksanakan pengajaran atau mengajar di kelas pada waktu tatap muka dalam rangka menyajikan dan memantapkan bahan pelajaran agar tercapai tujuan pembelajaran (TIK/TPK pada kurikulum sebelum 2004, indikator setelah kurikulum 2004) saat itu.
Karena itu, teknik bersifat implementasional (pelaksanaan) dan terjadinya pada tahap pelaksanaan pengajaran (penyajian dan pemantapan). Kalau kita perhatikan guru yang sedang mengajar di kelas, maka yang tampak pada kegiatan guru – murid itu adalah teknik mengajar.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa teknik pembelajaran adalah siasat atau cara yang dilakukan oleh guru dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar untuk dapat memperoleh hasil yang optimal. Teknik pembelajaran ditentukan berdasarkan metode yang digunakan, dan metode disusun berdasarkan pendekatan yang dianut. Dengan kata lain, pendekatan menjadi dasar penentuan metode, dari metode  dapat ditentukan teknik. Karena itu, teknik yang digunakan guru dapat bervariasi sekali. Untuk metode yang sama dapat digunakan teknik pembelajaran yang berbeda-beda, bergantung pada berbagai faktor.
Karena itu, teknik pembelajaran yang digunakan guru tergantung pada kemmapuan guru itu mencarai akal atau siasat agar proses belajar mengajar dapat berjalan lancar dan berhasil dengan baik. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi  penentuan teknik pembelajaran di antaranya 1) situasi kelas, 2) lingkungan, 3) kondisi siswa, sifat-sifat siswa, dan kondisi yang lain.
Dalam percakapan sehari-hari kata metode dan taknik ini diartikan sama, yaitu cara. Dengan demikian, guru sering mencampuradukkan antara metode pengajaran dan teknik mengajar. Kalau teknik mengajar disebut metode mengajar masih bisa diterima karena metode mencakup teknik. Sebaliknya, kalau sebuah metode pengajaran disebut teknik pengajaran jelas tidak tepat sama sekali.
Agar lebih jelas, ada baiknya kita perbandingkan metode dan teknik ini dengan menampilkan perbedaannya sebagai berikut.
No.
Metode
Teknik
1
Mencakup semua tahap dalam proses belajar mengajar.
Hanya tertuju kepada satu tahap proses belajar mengajar, yaitu pada tahap pelaksanaan.
2
Bersifat prosedural (menggam-barkan prosedur  langkag-lang-kah menyeluruh proses belajar mengajar).
Bersifat implementasional (meng-gambarkan pelaksanaan pengajaran di kelas).
3
Tidak tampak, tidak bisa dide-teksi dengan jelas dengan melihat guru yang sedang mengajar di kelas.
Tampak pada saat melihat guru yang sedang mengajar di kelas.
4
Ditunjukkan untuk mencapai tujuan umum pengajaran (TIU/ TPU pada kurikulum sebelum 2004, KD pada kurikulum setelah 2004).
Ditujukan untuk mencapai tujuan khusus (TIK/TPK pada kurikulum sebelum 2004, indikator untuk kurikulum setelah 2004) suatu pertemuan.
5
Jumlahnya hanya satu (satu metode khusus) untuk satu bidang studi dalam satu program.
Jumlahnya sangat banyak untuk setiap pengajaran bidang studi dalam suatu program.
6
Metode pengajaran (metode khusus) ditetapkan oleh kur-ikulum, guru tinggal mengi-kutinya.
Guru bebas memilih teknik asal cocok dan dapat mencapai tujuan pengajaran bahan yang sedang diajarkannya.
Seperti halanya prinsip, pendekatan, dan metode. Teknik pembelajaran dapat dibagi atas dua bagian, yaitu teknik umum dan teknik khusus.
1.      Teknik Umum (Teknik Umum Mengajar)
Teknik umum adalah cara-cara yang dapat digunakan untuk semua bidang studi. Contohnya antara lain:
a.       teknik ceramah, merupakan penuturan secara lisan oleh guru terhadap kelas.
b.      teknik tanya jawab, merupakan metode mengajar dimana guru menanyakan hal-hal yang sifatnya faktual
c.       teknik diskusi, guru memberikan pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya menggunakan informasi yang telah dipelajari untuk memecahkan suatu masalah
d.      teknik ramu pendapat
e.       teknik pemberian tugas, dengan metode ini guru memberikan tugas, siswa mempelajari kemudian melaporkan hasilnya
f.       teknik latihan, merupakan cara mengajar dengan memberikan latihan-latihan terhadap apa yang dipelajari.
g.      teknik inquiri, siswa diberi kesempatan untuk meneliti suatu masalah sehingga dapat menemukan cara pemecahannya.
h.      teknik demonstrasi
i.        teknik simulasi
Nama-nama teknik umum ini sama seperti nama-nama metode umum, namun wujudnya tentu berbeda. Misalnya ceramah. Sebagai metode, ceramah mencakup pemilihan, penyusunan, dan penyajian bahan. Bahkan, metode ceramah juga mencakup bagaimana menyajikan bahan, dan biasanya teknik ceramah itu hanya salah satu teknik yang dipakai dalam suatu pertemuan atau kegiatan belajar mengajar.
2.      Teknik Khusus (Teknik Khusus Pengajaran Bidang Studi Tertentu)
Teknik  khusus adalah cara mengajarkan (menyajikan atau memantapkan) bahan-bahan pelajaran bidang studi tertentu. Teknik khusus pengajaran bahasa mempunyai ragam dan jumlah yang sangat banyak. Hal ini karena teknik mengacu kepada penyajian materi dalam lingkup yang keci!. Sebagai contoh, teknik pengajaran keterampilan berbahasa terdiri atas teknik pembelajaran membaca, teknik pembelajaran menulis, teknik pembelajaran berbicara, teknik pembelajaran menyimak, teknik pembelajaran tata bahasa, dan teknik pembelajaran kosa kata. Pembelajaran membaca terbagi pula atas teknik pembelajaran membaca permulaan dan teknik pembelajaran membaca lanjut. Masing-masing terdiri pula atas banyak macam. Begitulah, teknik khusus itu banyak sekali macamnya karena teknik khusus itu berhubungan dengan rincian bahan pembelajaran.
Dalam setiap kegiatan belajar mengajar, misalnya guru bahasa Indonesia, hanya menggunakan satu metode, katakanlah metode khusus pembelajaran bahasa (yang ditunjang sejum!ah pendekatan dan prinsip), tetapi menggunakan sejumlah teknik, baik umum maupun khusus. Teknik ini setiap saat divariasikan
Daftar Pustaka
Zulela.2012.Pembelajaran bahasa Indonesia.Bandung:Remaja Rosdakarya
Ngalimun,dkk.2014.Pembelajaan Ketrampilan Berbahasa Indonesia.Jogjakarta:swaja pressindo
XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
Kelompok.........8
GAYA BELAJAR
A.     Pengertian Belajar
Belajar adalah suatu proses. Artinya kegiatan belajar terjadi secara dinamis dan terus-menerus yang menyebabkan terjadinya perubahan dalam diri anak. Perubahan yang dimaksud dapat berupa pengetahuan (knowledge) atau perilaku (behavior).
Dua anak yang tumbuh dalam kondisi dan lingkungan yang sama dan meskipun mendapat perlakuan yang sama, belum tentu akan memiliki pemahanan, pemikiran dan pandangan yang sama terhadap dunia sekitarnya. Masing-masing memiliki cara pandang sendiri terhadap setiap peristiwa yang dilihat dan dialaminya. Cara pandang inilah yang kita kenal sebagai "Gaya Belajar".
Kata "belajar" yang sering dipersepsikan sebagai tindakan murid duduk diam di dalam kelas, mendengarkan penjelasan guru, dan membaca textbook BUKANLAH arti "belajar" yang sebenarnya yang akan kita bahas dalam artikel ini.
Belajar sebenarnya mengandung arti bagaimana kita menerima informasi dari dunia sekitar kita dan bagaimana kita memproses dan menggunakan informasi tersebut. Mengingat setiap individu memiliki keunikan tersendiri dan tidak pernah ada dua orang yang memiliki pengalaman hidup yang sama persis, hampir dipastikan bahwa "Gaya Belajar" masing-masing orang berbeda satu dengan yang lain. Namun, di tengah segala keragaman "Gaya Belajar" tersebut, banyak ahli mencoba menggunakan klasifikasi atau pengelompokan "Gaya Belajar" untuk memudahkan kita semua, khususnya para guru, dalam menjalankan tugas pendidikan dengan lebih strategis.
Selain itu juga gaya belajar atau learning style adalah suatu karakteristik kognitif, afektif dan perilaku psikomotoris, sebagai indikator yang bertindak yang relatif stabil untuk pebelajar merasa saling berhubungan dan bereaksi terhadap lingkungan belajar (NASSP dalam Ardhana dan Willis, 1989 : 4).
Gaya belajar mengacu pada cara belajar yang lebih disukai pebelajar. Umumnya, dianggap bahwa gaya belajar seseorang berasal dari variabel kepribadian, termasuk susunan kognitif dan psikologis latar belakang sosio cultural, dan pengalaman pendidikan (Nunan, 1991: 168).
Keanekaragaman Gaya belajar mahasiswa perlu diketahui pada awal permulaannya diterima pada suatu lembaga pendidikan yang akan ia jalani. Hal ini akan memudahkan bagi pembelajar untuk belajar maupun pembelajar untuk mengajar dalam proses pembelajaran. Pembelajar akan dapat belajar dengan baik dan hasil belajarnya baik, apabila ia mengerti gaya belajarnya. Hal tersebut memudahkan pembelajar dapat menerapkan pembelajaran dengan mudah dan tepat. Meningkatkan kemampuan intelegensinya (Kolb 1984 ), yang sangat mempengaruhi hasil belajar. Hasil belajar merupakan gambaran tingkat penguasaan mahasiswa terhadap sasaran belajar pada topik bahasan yang dieksperimenkan, yang diukur dengan berdasarkan jumlah skor jawaban benar pada soal yang disusun sesuai dengan sasaran belajar.
Belajar di bidang formal tidak selalu menyenangkan. Apalagi jika belajar dengan terpaksa . Menghadapi keterpaksaan untuk belajar jelas bukan hal yang menyenangkan. Tidak akan mudah bagi seseorang untuk berkonsentrasi belajar jika ia merasa terpaksa. Oleh karena itu, diperlukan jalan bagaimana agar belajar menjadi hal yang menyenangkan, atau .... walaupun tetap terpaksa, tapi dapat menjadi lebih mudah dan efektif.
Para ahli di bidang pendidikan mencoba mengembangkan teori mengenai gaya belajar sebagai cara untuk mencari jalan agar belajar menjadi hal yang mudah dan menyenangkan. Sebagaimana kita ketahui, belajar membutuhkan konsentrasi. Situasi dan kondisi untuk berkonsentrasi sangat berhubungan dengan gaya belajar. Jika kita mengenali gaya belajar, maka kita dapat mengelola pembelajaran pada kondisi apa, dimana, kapan dan bagaimana cara pembelajaran yang baik dan efektif.
Gaya belajar setiap orang dipengaruhi oleh faktor alamiah (pembawaan) dan faktor lingkungan . Jadi ada hal-hal tertentu yang tidak dapat diubah dalam diri seseorang bahkan dengan latihan sekalipun. Tetapi ada juga hal-hal yang dapat dilatihkan dan disesuaikan dengan lingkungan yang terkadang justru tidak dapat diubah.
Mengenali gaya belajar sendiri, belum tentu membuat kita menjadi lebih pandai. Tapi dengan mengenali gaya belajar, kita akan dapat menentukan cara belajar yang lebih efektif. Anda tahu bagaimana memanfaatkan kemampuan belajar secara maksimal, sehingga hasil belajar yang diperoleh dapat optimal.
B.     Macam-macam Gaya Belajar Menurut Para Ahli
1.      Gaya Belajar Menurut David Kolb
Tanpa disadari dan direncanakan sebelumnya, setiap anak memiliki cara belajarnya sendiri. Mencoba mengenali "Gaya Belajar" anak, dan tentunya setelah guru mengenali "Gaya Belajar"nya sendiri, akan membuat proses belajar-mengajar jauh lebih efektif.
Dari sekian banyak teori atau temuan mengenai "Gaya Belajar", dalam kesempatan ini kita akan membahas sebuah model yang dikemukakan oleh David Kolb (Styles of Learning Inventory, 1981).
David Kolb mengemukakan adanya empat kutub (a-d) kecenderungan seseorang dalam proses belajar, kutub-kutub tersebut antara lain:
a.       Kutub Perasaan/FEELING (Concrete Experience)
Anak belajar melalui perasaan, dengan menekankan segi-segi pengalaman kongkret, lebih mementingkan relasi dengan sesama dan sensitivitas terhadap perasaan orang lain. Dalam proses belajar, anak cenderung lebih terbuka dan mampu beradaptasi terhadap perubahan yang dihadapinya.
b.       Kutub Pemikiran/THINKING (Abstract Conceptualization)
Anak belajar melalui pemikiran dan lebih terfokus pada analisis logis dari ide-ide, perencanaan sistematis, dan pemahaman intelektual dari situasi atau perkara yang dihadapi. Dalam proses belajar, anak akan mengandalkan perencanaan sistematis serta mengembangkan teori dan ide untuk menyelesaikan masalah yang dihadapinya.
c.        Kutub Pengamatan/WATCHING (Reflective Observation)
Anak belajar melalui pengamatan, penekanannya mengamati sebelum menilai, menyimak suatu perkara dari berbagai perspektif, dan selalu menyimak makna dari hal-hal yang diamati. Dalam proses belajar, anak akan menggunakan pikiran dan perasaannya untuk membentuk opini/pendapat.
d.       Kutub Tindakan/DOING (Active Experimentation)
Anak belajar melalui tindakan, cenderung kuat dalam segi kemampuan melaksanakan tugas, berani mengambil resiko, dan mempengaruhi orang lain lewat perbuatannya. Dalam proses belajar, anak akan menghargai keberhasilannya dalam menyelesaikan pekerjaan, pengaruhnya pada orang lain, dan prestasinya.
Menurut Kolb, tidak ada individu yang gaya belajarnya secara mutlak didominasi oleh salah satu saja dari kutub tadi. Yang biasanya terjadi adalah kombinasi dari dua kutub dan membentuk satu kecenderungan atau orientasi belajar. Empat kutub di atas membentuk empat kombinasi gaya belajar.
Pada model di atas, empat kombinasi gaya belajar diwakili oleh angka 1 hingga 4, dengan penjelasan seperti di bawah ini:
1.      Gaya Diverger
Kombinasi dari perasaan dan pengamatan (feeling and watching). Anak dengan tipe Diverger unggul dalam melihat situasi kongkret dari banyak sudut pandang yang berbeda. Pendekatannya pada setiap situasi adalah "mengamati" dan bukan "bertindak". Anak seperti ini menyukai tugas belajar yang menuntutnya untuk menghasilkan ide-ide (brainstorming), biasanya juga menyukai isu budaya serta suka sekali mengumpulkan berbagai informasi.
2.      Gaya Assimillator
Kombinasi dari berpikir dan mengamati (thinking and watching). Anak dengan tipe Assimilator memiliki kelebihan dalam memahami berbagai sajian informasi serta merangkumkannya dalam suatu format yang logis, singkat, dan jelas. Biasanya anak tipe ini kurang perhatian pada orang lain dan lebih menyukai ide serta konsep yang abstrak, mereka juga cenderung lebih teoritis.
3.      Gaya Converger
Kombinasi dari berfikir dan berbuat (thinking and doing). Anak dengan tipe Converger unggul dalam menemukan fungsi praktis dari berbagai ide dan teori. Biasanya mereka punya kemampuan yang baik dalam pemecahan masalah dan pengambilan keputusan. Mereka juga cenderung lebih menyukai tugas-tugas teknis (aplikatif) daripada masalah sosial atau hubungan antar pribadi.
4.      Gaya Accomodator.
Kombinasi dari perasaan dan tindakan (feeling and doing). Anak dengan tipe Accommodator memiliki kemampuan belajar yang baik dari hasil pengalaman nyata yang dilakukannya sendiri. Mereka suka membuat rencana dan melibatkan dirinya dalam berbagai pengalaman baru dan menantang. Mereka cenderung untuk bertindak berdasarkan intuisi / dorongan hati daripada berdasarkan analisa logis. Dalam usaha memecahkan masalah, mereka biasanya mempertimbangkan faktor manusia (untuk mendapatkan masukan / informasi) dibanding analisa teknis.
Menyimak berbagai gaya belajar di atas, sebagai guru perlu kiranya kita tetap sensitif terhadap strategi belajar kita sendiri, yang mungkin sama atau sama sekali berbeda dengan orientasi belajar peserta didik di kelas. Perbedaan itu dapat menimbulkan kesulitan dalam kegiatan belajar-mengajar (dalam interaksi, komunikasi, kerjasama, dan penilaian).
Jika mengajar kita pahami sebagai kesempatan membantu peserta didik untuk belajar, maka kita harus berusaha membantu mereka memahami "Style of Learning"nya, dengan tujuan meningkatkan segi-segi yang kuat dan memperbaiki sisi-sisi yang lemah dari padanya.
2.      Gaya menurut Bobbi DePorter bersama Mike Hernacki didalam bukunya ”Quantum Learning”
Gaya belajar ada 3 dengan Karakteristik sebagai berikut :
a.       Visual (belajar dengan cara melihat)
Lirikan keatas bila berbicara, berbicara dengan cepat. Bagi siswa yang bergaya belajar visual, yang memegang peranan penting adalah mata / penglihatan ( visual ), dalam hal ini metode pengajaran yang digunakan guru sebaiknya lebih banyak / dititikberatkan pada peragaan / media, ajak mereka ke obyek-obyek yang berkaitan dengan pelajaran tersebut, atau dengan cara menunjukkan alat peraganya langsung pada siswa atau menggambarkannya di papan tulis. Anak yang mempunyai gaya belajar visual harus melihat bahasa tubuh dan ekspresi muka gurunya untuk mengerti materi pelajaran. Mereka cenderung untuk duduk di depan agar dapat melihat dengan jelas. Mereka berpikir menggunakan gambar-gambar di otak mereka dan belajar lebih cepat dengan menggunakan tampilan-tampilan visual, seperti diagram, buku pelajaran bergambar, dan video. Di dalam kelas, anak visual lebih suka mencatat sampai detil-detilnya untuk mendapatkan informasi.
Ciri-ciri gaya belajar visual :
1. Bicara agak cepat
2. Mementingkan penampilan dalam berpakaian/presentasi
3. Tidak mudah terganggu oleh keributan
4. Mengingat yang dilihat, dari pada yang didengar
5. Lebih suka membaca dari pada dibacakan
6. Pembaca cepat dan tekun
7. Seringkali mengetahui apa yang harus dikatakan, tapi tidak pandai memilih kata-kata
8. Lebih suka melakukan demonstrasi dari pada pidato
9. Lebih suka musik dari pada seni
10. Mempunyai masalah untuk mengingat instruksi verbal kecuali jika ditulis, dan seringkali minta bantuan orang untuk mengulanginya
Strategi untuk mempermudah proses belajar anak visual :
1. Gunakan materi visual seperti, gambar-gambar, diagram dan peta.
2. Gunakan warna untuk menghilite hal-hal penting.
3. Ajak anak untuk membaca buku-buku berilustrasi.
4. Gunakan multi-media (contohnya: komputer dan video).
5. Ajak anak untuk mencoba mengilustrasikan ide-idenya ke dalam gambar.
b.      Auditori (belajar dengan cara mendengar)
Lirikan kekiri/kekanan mendatar bila berbicara, berbicara sedang2 saja.Siswa yang bertipe auditori mengandalkan kesuksesan belajarnya melalui telinga ( alat pendengarannya ), untuk itu maka guru sebaiknya harus memperhatikan siswanya hingga ke alat pendengarannya. Anak yang mempunyai gaya belajar auditori dapat belajar lebih cepat dengan menggunakan diskusi verbal dan mendengarkan apa yang guru katakan. Anak auditori dapat mencerna makna yang disampaikan melalui tone suara, pitch (tinggi rendahnya), kecepatan berbicara dan hal-hal auditori lainnya. Informasi tertulis terkadang mempunyai makna yang minim bagi anak auditori mendengarkannya. Anak-anak seperi ini biasanya dapat menghafal lebih cepat dengan membaca teks dengan keras dan mendengarkan kaset.
Ciri-ciri gaya belajar auditori :
1. Saat bekerja suka bicara kepada diri sendiri
2. Penampilan rapi
3. Mudah terganggu oleh keributan
4. Belajar dengan mendengarkan dan mengingat apa yang didiskusikan dari pada yang dilihat
5. Senang membaca dengan keras dan mendengarkan
6. Menggerakkan bibir mereka dan mengucapkan tulisan di buku ketika membaca
7. Biasanya ia pembicara yang fasih
8. Lebih pandai mengeja dengan keras daripada menuliskannya
9. Lebih suka gurauan lisan daripada membaca komik
10. Mempunyai masalah dengan pekerjaan-pekerjaan yang melibatkan Visual
11. Berbicara dalam irama yang terpola
12. Dapat mengulangi kembali dan menirukan nada, berirama dan warna suara

Strategi untuk mempermudah proses belajar anak auditori :
1. Ajak anak untuk ikut berpartisipasi dalam diskusi baik di dalam kelas maupun di dalam keluarga.
2. Dorong anak untuk membaca materi pelajaran dengan keras.
3. Gunakan musik untuk mengajarkan anak.
4. Diskusikan ide dengan anak secara verbal.
5. Biarkan anak merekam materi pelajarannya ke dalam kaset dan dorong dia untuk mendengarkannya sebelum tidur.
c.       Kinestetik (belajar dengan cara bergerak, bekerja dan menyentuh)
Lirikan kebawah bila berbicara, berbicara lebih lambat. Anak yang mempunyai gaya belajar kinestetik belajar melalui bergerak, menyentuh, dan melakukan. Anak seperti ini sulit untuk duduk diam berjam-jam karena keinginan mereka untuk beraktifitas dan eksplorasi sangatlah kuat. Siswa yang bergaya belajar ini belajarnya melalui gerak dan sentuhan.
Ciri-ciri gaya belajar kinestetik :
1. Berbicara perlahan
2. Penampilan rapi
3. Tidak terlalu mudah terganggu dengan situasi keributan
4. Belajar melalui memanipulasi dan praktek
5. Menghafal dengan cara berjalan dan melihat
6. Menggunakan jari sebagai petunjuk ketika membaca
7. Merasa kesulitan untuk menulis tetapi hebat dalam bercerita
8. Menyukai buku-buku dan mereka mencerminkan aksi dengan gerakan tubuh saat membaca
9. Menyukai permainan yang menyibukkan
10. Tidak dapat mengingat geografi, kecuali jika mereka memang pernah berada di tempat itu
11. Menyentuh orang untuk mendapatkan perhatian mereka Menggunakan kata-kata yang mengandung aksi
Strategi untuk mempermudah proses belajar anak kinestetik:

1. Jangan paksakan anak untuk belajar sampai berjam-jam.
2. Ajak anak untuk belajar sambil mengeksplorasi lingkungannya (contohnya: ajak dia baca sambil bersepeda, gunakan obyek sesungguhnya untuk belajar konsep baru).
3. Izinkan anak untuk mengunyah permen karet pada saat belajar.
4. Gunakan warna terang untuk menghilite hal-hal penting dalam bacaan.
5. Izinkan anak untuk belajar sambil mendengarkan musik.
3.      Gaya belajar menurut Dave Meier dalam bukunya The Accelerated Learning
Gaya belajar menurut Dave Meier dikenal dengan sebutan pendekatan SAVI
a.       Belajar ”Somatis”
”Somatis” berasal dari bahasa Yunani yang berarti tubuh-soma (seperti dalam psikosomatis). Jadi belajar somatis berarti belajar dengan indra peraba, kinestetis, praktis-melibatkan fisik dan menggunakan serta menggerakkan tubuh sewaktu belajar.
b.      Belajar ”Auditori”
Belajar Auditori adalah cara belajar dengan menggunakan pendengaran. Belajar auditori merupakan cara belajar standar bagi semua masyarakat sejak adanya manusia. Telinga terus menerus menangkap dan menyimpan informasi auditori, bahkan tanpa disadari seseorang mampu membuat beberapa area penting didalam otak menjadi aktif.
c.       Belajar ”Visual”
Ketajaman visual, meskipun lebih menonjol pada sebagian orang, sangat kuat dalam diri setiap orang. Alasannya adalah bahwa didalam otak terdapat lebih banyak perangkat untuk memproses informasi visual dari pada semua indra yang lain. Setiap orang (terutama pembelajar visual) lebih mudah belajar jika dapat ”melihat” apa yang sedang dibicarakan seseorang penceramah atau sebuah buku atau program komputer dan lain-lain. Pembelajar visual belajar paling baik jika mereka dapat melihat contoh dari dunia nyata.
d.      Belajar ”Intelektual”
Kata ”Intelektual” menunjukkan apa yang dilakukan pembelajar dalam pikiran mereka secara internal ketika mereka menggunakan kecerdasan untuk merenung suatu pengalaman dan menciptakan hubungan, makna, rencana dan nilai dari pengalaman tersebut. ”Intelektual” adalah bagian dari merenung, mencipta, memecahkan masalah dan membangun makna.
Intelektual (menurut Dave meier) adalah pencipta makna dalam pikiran, sarana yang digunakan manusia untuk ”berfikir”, menyatukan pengalaman, menciptakan jaringan saraf baru dan belajar. Ia menghubungkan pengalaman mental, fisik, emosiaonal dan intuitif tubuh untuk membuat makana baru bagi dirinya sendiri. Itulah sarana yang digunakan pikiran untuk mengubah pengalaman menjadi pengetahuan, pengetahuan menjadi pemahaman, dan pemahaman diharapkan menjadi kearifan.
4.      Gaya Belajar menurut Depdiknas
Tujuh Gaya Belajar Efektif
Banyak gaya yang bisa dipilih untuk belajar secara efektif. Berikut adalah tujuh gaya belajar yang mungkin bisa kita ambil :
a.       Bermain dengan kata.
Gaya ini bisa kita mulai dengan mengajak seorang teman yang senang bermain dengan bahasa, seperti bercerita dan membaca serta menulis. Gaya belajar ini sangat menyenangkan karena bisa membantu kita mengingat nama, tempat, tanggal, dan hal-hal lainya dengan cara mendengar kemudian menyebutkannya.
b.      Bermain dengan pertanyaan.
Bagi sebagian orang, belajar makin efektif dan bermanfaat bila itu dilakukan dengan cara bermian dengan pertanyaan. Misalnya, kita memancing keinginan tahuan dengan berbagai pertanyaan. Setiaop kali muncuil jawaban, kejar dengan pertanyaan, hingga didapatkan hasil yang paling akhirnya atau kesimpulan.
c.       Bermain dengan gambar.
Anda sementar orang yang lebih suka belajar dengan membuat gambar, merancang, melihat gambar, slide, video atau film. Orang yang memiliki kegemaran ini, biasa memiliki kepekaan tertentu dalam menangkap gambar atau warna, peka dalam membuat perubahan, merangkai dan membaca kartu. Jika Anda termasuk kelompok ini, tak salah bila Anda mencoba mengikutinya.
d.      Bermain dengan musik.
Detak irama, nyanyian, dan mungkin memainkan salah satu instrumen musik, atau selalu mendengarkan musik. Ada banyak orang yang suka mengingat beragam informasi dengan cara menginat notasi atau melodi musik. Ini yang disebut sebagai ritme hidup. Mereka berusaha mendapatkan informasi terbaru mengenai beragam hal dengan cara mengingat musik atau notasinya yang kemudian bisa membuatnya mencari informasi yang berkaitan dengan itu. Misalnya mendegarkan musik jazz, lalu tergeliik bagaimanalagu itu dibuat, siapa yang membuat, dimana, dan pada saat seperti apa lagu itu muncul. Informasi yang mengiringi lagu itu, bisa saja tak sebatas cerita tentang musik, tapi juga manusia, teknologi, dan situasi sosial politik pada kurun waktu tertentu
e.       Bermain dengan bergerak.
Gerak manusia, menyentuh sambil berbicara dan menggunakan tubuh untuk mengekspresikan gagasan adalah salah satu cara belajar yang menyenangkan. Mereka yang biasanya mudah memahami atau menyerap informasi dengan cara ini adalah kalangan penari, olahragawan. Jadi jika Anda termasuk kelompok yang aktif, tak salah mencoba belajar sambil tetap melakukan beragam aktivitas menyenangkan seperti menari atau berolahraga.
f.       Bermain dengan bersosialisasi.
Bergabung dan membaur dengan orang lain adalah cara terbaik mendapat informasi dan belajar secara cepat. Dengan berkumpul, kita bisa menyerap berbagai informasi terbaru secara cepat dan mudah memahaminya. Dan biasanya, informasi yang didapat dengan cara ini, akan lebih lama terekam dalam ingatan.
g.       Bermain dengan Kesendirian.
Ada sebagian orang yang gemar melakukan segala sesuatunya, termasuk belajar dengan menyepi. Untuk mereka yang seperti ini, biasanya suka tempat yang tenang dan ruang yang terjaga privasinya. Jika Anda termasuk yang seperti ini, maka memiliki kamar pribadi akan sangat membantu Anda bisa belajar secara mandiri.
Lima Prinsip Belajar :
a.       Mengenali betul apa yang menarik untuk kita
Jika kita mengetahui betul apa sesungguhnya yang menarik bagi kita, tentu akan lebih mudah mencari ragam informasi penting yang akan kita pelajari. Tak ada seorang pun yang mampu memberikan informasi tentang apa yang menarik untuk kita pelajari kecuali kita sendiri.
Ada baiknya, sekali waktu, Anda berhenti dulu belajar, lalu tanyakan pada diri Anda sendiri, untuk apa Anda belajar? Jika Anda cukup punya alasannya, tak salah bila Anda mencoba mengujinya dengan mengikuti beberapa tes untuk melihat tingkat pemahaman kita dan cara untuk meningkatkannya. Hal terpenting yang perlu diingat adalah seberapa cepat pun kita bisa memahami suatu informasi, maka informasi itu dengan mudah bisa hilang dari ingatan jika ternyata informasi tersebut bukan seperti sesuatu yang menjadi inti ketertarikan kita.
b.      Kenalilah kepribadian diri sendiri.
Jika kita tahu betul siap kita dan apa yang kita inginkan, maka mempelajari sesuatu yang sesuai dengan keinginan dan kepribadian kita menjadi lebih mudah dilakukan. Sebab, apapun yang akan kita pelajari dan pahami, seringkali menjadi sia-sia jika ternyata tak sesuai dengan kepribadian kita.
c.       Rekam semua informasi dalam kata.
Langkah yang paling mudah untuk memahami, mengingat dan mempelajari sesuatu adalah dengan kata. Jadi, langkah yang paling mudah dan bijaksana adalah bila kita terbiasa merekam semua informasi itu dengan cara menuliskannya kembali dalam bentuk apa saja. Gambar, coretan dan yang terbaik adalah catatan tertulis buatan tangan sendiri.
d.      Belajar bersama orang lain.
Cara termudah untuk belajar sesungguhnya adalah bila kita melakukannya secara bersama-sama. Prinsip belajar ini hampir selalu efektif bagi setiap orang, apa pun karakter belajar yang dimilikinya. Selain itu, belajar juga menjadi terasa lebih menyenangkan dan ringan, bila dilakukan secara bersama-sama.
e.       Hargai diri sendiri.
Belajar memahami dan menyerap informasi akan menjadi lebih terasa bermanfaat dan berarti bila kita menghargainya. Jadi, rencanakan apa yang Anda akan pelajari dan pahami. Setelah itu, cobalah membuat jeda di antara waktu belajar yang Anda laklukan. Setelah itu, lihat seberapa besar tingkat keberhasilan Anda dalam mempelajari suatu informasi atau fakta tertentu. Bila Anda merasa itu berhasil, maka Anda layak menghargai jerih-payah Anda belajar dengan cara apa saja. Misalnya, merayakannya dengan makan enak atau membeli sesuatu yang bisa mengingatkan Anda akan keberhasilan yang Anda pernah capai.
Daftar Pustaka
Mulyani dan Syaodih, N. (2007).Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Universitas Terbuka.
Fokus CM 31, (2008). Mengenal Tipe Gaya Belajar. Jakarta: Wikipedia[Online]. Tersedia
De Porter, Bobbi dan Hernacki, Mike. 2007. Quantum Learning. Jakarta: Kaifa
Hidayana, Herma. 2009. Pengaruh Gaya Belajar terhadap Prestasi Belajar Siswa
XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
Kelompok......9
TEORI BELAJAR KOGNITIF
A.     Pengertian Teori Belajar Kognitif
 Secara bahasa Kognitif berasal dari bahasa latin ”Cogitare”artinya berfikir.[1] Dalam pekembangan selanjutnya, kemudian istilah kognitif ini menjadi populer sebagai salah satu wilayah psikologi manusia/satu konsep umum yang mencakup semua bentuk pengenalan yang meliputi setiap perilaku mental yang berhubungan dengan masalah pemahaman, memperhatikan, memberikan, menyangka, pertimbangan, pengolahan informasi, pemecahan masalah, kesengajaan, pertimbangan, membayangkan, memperkirakan, berpikir dan keyakinan.
Sedangkan secara istilah dalam pendidikan Kognitif adalah salah satu teori diantara teori-teori belajar dimana belajar adalah pengorganisasian aspek-aspek kognitif dan persepsi untuk memperoleh pemahaman. Dalam model ini, tingkah laku seseorang ditentukan oleh persepsi dan pemahamannya tentang situasi yang berhubungan dengan tujuan, dan perubahan tingkah laku, sangat dipengaruhi oleh proses belajar berfikir internal yang terjadi selama proses belajar.[2]
            Teori belajar ini hadir dan muncul disebabkan para Ahli Psikologi belum puas dengan penjelasan yang teori-teori yang terdahulu. Mereka berpendapat bahwa tingkah laku seseorang selalu di dasarkan pada kognisi, yaitu suatu perbuatan mengetahui atau perbuatan pikiran terhadap situasi dimana tingkah laku itu terjadi.[3] Teori belajar kognitif lebih menekankan pada belajar merupakan suatu proses yang terjadi dalam akal pikiran manusia. Seperti juga diungkapkan oleh Winkel (1996) bahwa “Belajar adalah suatu aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan pemahaman, ketrampilan dan nilai sikap. Perubahan itu bersifat secara relatif dan berbekas”.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya belajar adalah suatu proses usaha yang melibatkan aktivitas mental yang terjadi dalam diri manusia sebagai akibat dari proses interaksi aktif dengan lingkungannya untuk memperoleh suatu perubahan dalam bentuk pengetahuan, pemahaman, tingkah laku, keterampilan dan nilai sikap yang bersifat relatif dan berbekas. Objek-objek yang di amatinya dihadirkan dalam diri seseorang melalui tanggapan, gagasan, atau lambing yang merupakan sesuatu yang bersifat mental. Misalnya, seseorang menceritakan hasil perjalanannya berupa pengalaman kepada temannya. Ketika dia menceritakan pengalamannya selama dalam perjalanan, dia tidak dapat mennghadirkan objek-objek yang pernah dilihatnya selama dalam perjalanan itu, dia hanya dapat menggambarkan semua objek itu dalam bentuk kata-kata atau kalimat.[4]
Dari keterangan dan penjelasan di atas dapat pemakalah simpulkan bahwa Kognitif adalah salah satu ranah dalam taksonomi pendidikan. Secara umum kognitif diartikan potensi intelektual yang terdiri dari beberapa tahapan, yaitu ; pengetahuan (knowledge), pemahaman (comprehention), penerapan (aplication), analisa (analysis), sintesa (sinthesis), evaluasi (evaluation). Kognitif berarti persoalan yang menyangkut kemampuan untuk mengembang kan kemampuan rasional (akal).
A.     Teori Belajar Koqnitif menurut Jean Piaget
Menurut Piaget, perkembangan kognitif merupakan suatu proses genetika, yaitu proses yang didasarkan atas mekanisme biologis, yaitu perkembangan system syaraf. Dengan bertambahnya umur maka susunan syaraf seseorang akan semakin kompleks dan memungkinkan kemampuannya akan semakin meningkat.[5] Jean Piaget meneliti dan menulis subjek perkembangan kognitif ini dari tahun 1927 sampai 1980. Berbeda dengan para ahli-ahli psikologi sebelumnya, Piaget menyatakan bahwa cara berpikir anak bukan hanya kurang matang dibandingkan dengan orang dewasa karena kalah pengetahuan , tetapi juga berbeda secara kualitatif. Menurut penelitiannya juga bahwa tahap-tahap perkembangan individu /pribadi serta perubahan umur sangat mempengaruhi kemampuan belajar individu.[6]
Piaget mengembangkan teori perkembangan kognitif yang cukup dominan selama beberapa dekade. Dalam teorinya Piaget membahas pandangannya tentang bagaimana anak belajar. Menurut Jean Piaget, dasar dari belajar adalah aktivitas anak bila ia berinteraksi dengan lingkungan sosial dan lingkungan fisiknya. Pertumbuhan anak merupakan suatu proses sosial. Anak tidak berinteraksi dengan lingkungan fisiknya sebagai suatu individu terikat, tetapi sebagai bagian dari kelompok sosial. Akibatnya lingkungan sosialnya berada diantara anak dengan lingkungan fisiknya. Interaksi anak dengan orang lain memainkan peranan penting dalam mengembangkan pandangannya terhadap alam. Melalui pertukaran ide-ide dengan orang lain, seorang anak yang tadinya memiliki pandangan subyektif terhadap sesuatu yang diamatinya akan berubah pandangannya menjadi obyektif.
Proses belajar haruslah di sesuaikan dengan perkembagan syaraf seorang anak, dengan bertambahnya umur maka susunan saraf seorang akan semakin kompleks dan memungkinkan kemampuannya semakin meningkat. Karena itu proses belajar seseorang akan mengikuti pola dan tahap perkembangan tertentu sesuai dengan umurnya. Perjenjangan ini bersifat hierarki, yaitu melalui tahap-tahap tertentu sesuai dengan umurnya. Seseorang tidak dapat mempelajari sesuatu yang diluar kemampuan kognitifnya.[7] Dalam perkembangan intelektual ada tiga hal penting yang menjadi perhatian Piaget yaitu :
a.       Struktur, Piaget memandang ada hubungan fungsional antara tindakan fisik, tindakan mental dan perkembangan logis anak-anak. Tindakan (action) menuju pada operasi-operasi dan operasi-operasi menuju pada perkembangan struktur-struktur.
b.      Isi, merupakan pola perilaku anak yang khas yang tercermin pada respon yang diberikannya terhadap berbagai masalah atau situasi yang dihadapinya.
c.       Fungsi, Adalah cara yang digunakan organisme untuk membuat kemajuan intelektual. Menurut Piaget perkembangan intelektual didasarkan pada dua fungsi yaitu organisasi dan adaptasi. Organisasi memberikan pada organisme kemampuan untuk mengestimasikan atau mengorganisasi proses-proses fisik atau psikologis menjadi sistem-sistem yang teratur dan berhubungan. Adaptasi, terhadap lingkungan dilakukan melalui dua proses yaitu asimilasi dan akomodasi.[8]
Menurut Pieget, proses belajar sebenarnya terdiri dari tiga tahapan, yaitu asimilasi, akomodasi dan equilibrasi.
a.       Asimilasi, adalah proses penyatuan informasi baru ke struktur kognitif yang sudah ada dalam benak siswa.
b.      Akomodasi, adalah proses penyesuaian struktur kognitif ke dalam situasi baru.
c.       Equilibrasi, adalah proses penyesuaian berkesinambungan antara asimilasi dan akomodasi.[9]
Menurut Piaget, bahwa belajar akan lebih berhasil apabila disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif peserta didik. Peserta didik hendaknya diberi kesempatan untuk melakukan eksperimen dengan obyek fisik, yang ditunjang oleh interaksi dengan teman sebaya dan dibantu oleh pertanyaan tilikan dari guru. Guru hendaknya banyak memberikan rangsangan kepada peserta didik agar mau berinteraksi dengan lingkungan secara aktif, mencari dan menemukan berbagai hal dari lingkungan.[10]
Menurut Piaget aspek perkembangan kognitif meliputi empat tahap,[11] yaitu:
a.        Sensory-motor (sensori-motor)
Selama perkembangan dalam periode ini berlangsung sejak anak lahir sampai usia 2 tahun, intelegensi yang dimiliki anak tersebut masih berbentuk primitif dalam arti masih didasarkan pada perilaku terbuka. Meskipun primitif dan terkesan tidak penting, intelegensi sensori-motor sesungguhnya merupakan intelegensi dasar yang amat berarti karena ia menjadi pondasi untuk tipe-tipe intelegensi tertentu yang akan dimiliki anak tersebut kelak.
b.      Pre operational (praoperasional)
Perkembangan ini bermula pada saat anak berumur 2-7 tahun dan telah  memiliki penguasaan sempurna mengenai objek permanence, artinya anak tersebut sudah memiliki kesadaran akan tetap eksisnya suatu benda yang ada atau biasa ada, walaupun benda tersebut sudah ia tinggalkan atau sudah tak dilihat dan tak didengar lagi. Jadi, padangan terhadap eksistensi benda tersebut berbeda dari pandangan pada periode sensori-motor, yakni tidak lagi bergantung pada pengamatan belaka.
c.       Concrete operational (konkret-operasional)
Dalam periode konkret operasional ini belangsung hingga usia menjelang remaja, kemudian anak mulai memperoleh tamnbahan kemampuan yang disebut sistem of operations (satuan langkah berfikir). Kemampuan ini berfaedah bagi anak untuk mengkoordinasikan pemikiran dan idenya dengan peristiwa tertentu dalam sistem pemikirannya sendiri.
d.      Formal operational (formal-operasional)
Dalam perkembngan formal operasional, anak yang sudah menjelang atau sudah menginjak masa remaja, yakni usia 11-15 tahun, akan dapat mengatasi masalah keterbatasan pemikiran. Dalam pperkembangan kognitif akhir ini seorang remaja telah memiliki kemampuan mengkoordinasikan baik secara simultan (serentak) maupun berurutan dua ragam kemampuan kognitif, yakni:
o   kapasitas menggunakan hipotesis
o   kapasitas menggunakan prinsip-prinsip abstrak
Dalam dua macam kemampuan kognitif yang sangat berpengaruh terhadap kualiatas skema kognitif itu tentu telah dimiliki oleh orang-orang dewasa. Oleh karenanya, seorang remaja pelajar yang telah berhasil menempuh proses perkembangan formal operasional secara kognitif dapat dianggap telah mulai dewasa.[12]
1.        Implikasi Teori Pieget untuk Pendidikan
Para pendidik memandang bahwa teori Pieget itucdapat dipakai sebagai dasar pertimbangan guru di dalam menyusun struktur dan urutan mata pelajaran di dalam kurikulum. Hunt mempraktekkan di dalam program pendidikan TK yang menekankan pada perkembangan sensori motoris dan proeperasional.[13] Misal belajar menggambar, mengenal benda, dan menghitung.
 Seorang guru yang tidak memperhatikan tahapan-tahapan perkembangan kognitif anak ini akan cenderung menyulitkan siswa. Contoh, mengajarkan konsep-konsep abstrak tentang Shalat kepada sekelompok siswa kelas dua SD, tanpa adanya usaha untuk mengkongkretkan konsep-konsepp tersebut, tidak hanya sia-sia, tetapi justru akan lebih membingungkan siswa.[14]
Implementasi Teori Perkembangan Kognitif Piaget Dalam Pembelajaran, adalah :
a.       Bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa. Oleh karena itu guru mengajar dengan menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara berfikir anak.
b.      Anak-anak akan belajar lebih baik apabila dapat menghadapi lingkungan dengan baik. Guru harus membantu anak agar dapat berinteraksi dengan lingkungan sebaik-baiknya.
c.       Bahan yang harus dipelajari anak hendaknya dirasakan baru tetapi tidak asing.[15]
Teori belajar Piaget dalam aplikasi praktisnya mementingkan keterlibatan siswa dalam proses belajar mengajar, karena hanya dengan melibatkan atau mengaktifkan siswa, maka proses asimilasi dan akoomodasi pengetahuan dapat terjadi dengan baik. Secara umum pengaplikasian teori piaget dalam kegiatan pembelajaran biasanya mengikuti pola berikut :
a.       Menentukan tujuan-tujuann instruksional
b.      Memilih amteri pelajaran
c.       Menentukan topic-topik yang mungkin dipelajari secara aktif oleh siswa (dengan bimbingan minimum dari guru).
d.      Menentukan dan merancang kegiatan belajar yang cocok untuk topic-topik yang akan dipelajari siswa.
e.       Mempersiapkan berbagai pertanyaan yang dapat memacu kreativitas siswa untuk berdiskusi atau bertanya.
f.       Mengevaluasi proses dan hasil belajar.[16]
2.        Kritik terhadap teori Pieget
Kebanyakan ahli psikologi sepenuhnya menerima prinsip-prinsip umum Piaget bahwa pemikiran anak-anak pada dasarnya berbeda dengan pemikiran orang dewasa, dan jenis logika anak-anak itu berubah seiring dengan bertambahnya usia. Namun, ada juga peneliti yang meributkan detail-detail penemuan Piaget, terutama mengenai usia ketika anak mampu menyelesaikan tugas-tugas spesifik.
Pada sebuah studi klasik, McGarrigle dan Donalson (1974) menyatakan bahwa anak sudah mampu memahami konservasi (conservation) dalam usia yang lebih muda daripada usia yang diyakini oleh Piaget. Studi lain yang mengkritik teori Piaget yaitu bahwa anak-anak baru mencapai pemahaman tentang objek permanence pada usia di atas 6 bulan. Balillargeon dan De Vos (1991) 104 anak diamati sampai mereka berusia 18 tahun, dan diuji dengan  berbagai tugas operasional formal berdasarkan tugas-tugas yang dipakai Piaget, termasuk pengujian hipotesa. Mayoritas anak-anak itu memang belum mencapai tahap operasional formal. Hal ini sesuai dengan studi-studi McGarrigle dan Donaldson serta Baillargeon dan DeVos, yang menyatakan bahwa Piaget terlalu meremehkan kemampuan anak-anak kecil dan terlalu menilai tinggi kemampuan anak-anak yang lebih tua.[17]
B.      Teori Belajar Ausubel
Menurut Ausubel belajar haruslah bermakna, materi yang dipelajari diasimilasikan secara non arbitrer dan berhubungan dengan pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya.[18] Ausubel seorang psikologist kognitif, ia mengemukakan bahwa yang perlu diperhatikan seorang guru ialah strategi mengajarnya. Sebagai contoh pelajaran berhitung bisa menjadi tidak berhasil jika murid hanya di suruh menghafal formula-formula tanpa mengetahui arti formula-formula itu. Sebaliknya bisa lebih bermakna jika murid diajari fungsi dan arti dari formula-formula tersebut.[19]
Dalam aplikasinya teori Ausubel ini menuntut siswa belajar secara deduktif (dari umum ke khusus). Secara umum, teori Ausubel ini dapat diterapkan dalam proses pembelajaran melalui tahap-tahap sebagai berikut :
1.      Menentukan tujuan-tujuan intruksional;
2.      Mengukur kesiapan peserta didik seperti minat, kemampuan, dan struktur kognitifnya melalui tes awal, interview, pertanyaan, dan lain-lain;
3.      Memilih materi pelajaran dan mengaturnya dalam bentuk penyajian konsep-konsep kunci;
4.      Mengidentifikasikan prinsip-prinsip yang harus dikuasai dari materi itu;
5.      Menyajikan suatu pandangan secara menyeluruh tentang apa yang harus dipelajari;
6.      Membuat rangkuman terhadap materi yang baru saja disampaikan dengan uraian yang singkat;
7.      Membelajarkan peserta didik memahami konsep-konsep dan prinsip-prinsip yang ada dengan memberikan focus pada hubungan yang terjalin antara konsep yang ada;
8.      Mengevaluasi proses dan hasil bejar.[20]
Menurut Ausubel, siswa akan belajar dengan baik jika apa yang disebut “pengatur kemajuan” (advance organizer) didefenisikan dan dipresentasikan dengan baik dan tepat kepada siswa. Pengatur kemajuan belajar adalah konsep atau informasi umum mewadahi (mencakup) semua isi pelajaran yang akan diajarkan kepada siswa. Ada tiga manfaat dari “advance organizer” ini, yaitu :
1.      Dapat menyediakan suatu kerangka konseptual untuk materi pelajaran yang akan dipelajari;
2.      Dapat berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan antara apa yang sedang dipejari siswa saat ini dan dengan apa yang akan dipelajari;
3.      Dapat membantu siswa untuk memahami bahan secara lebih mudah.[21]

1.      Teori Belajar Bruner
Bruner menusulkan teorinya yang disebut free discovery learning. menurut teori ini, proses belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif jika dosen member kesempatan kepada siswa untuk menemukan suatu aturan (termasuk konsep, teori, defenisi, dan sebagainya), melalui contoh-contoh yang ia jumpai dalam kehidupan. Dengan kata lain siswa dibimbing secara induktif untuk memahami suatu kebenaran umum. Untuk memahami konsep kejujuran misalnya siswa tidak semata-mata menghafal defenisi kata kejujuran tersebut melainkan dengan mempelajari contoh-contohnya yang konkret tentang kejujuran dan dari contoh itulah siswa dibimbing untuk mendefenisikan kata kejujuran.
Menurut Brunner, pembelajaran hendaknya dapat menciptakan situasi agar mahasiswa dapat belajar dari diri sendiri melalui pengalaman dan eksperimen untuk menemukan pengetahuan dan kemampuan baru yang khas baginya. Dari sudut pandang psikologi kognitif, bahwa cara yang dipandang efektif untuk meningkatkan kualitas output pendidikan adalah pengembangan program-program pembelajaran yang dapat mengoptimalkan keterlibatan mental intelektual pembelajar pada setiap jenjang belajar. Sebagaimana direkomendasikan Merril, yaitu jenjang yang bergerak dari tahapan mengingat, dilanjutkan ke menerapkan, sampai pada tahap penemuan konsep, prosedur atau prinsip baru di bidang disiplin keilmuan atau keahlian yang sedang dipelajari.[22]
Teori belajar Bruner ini dalam aplikasinya sangat membebaskan siswa untuk belajar sendiri. Karena itulah teori Bruner ini dianggap sanagt cenerung bersifat discovery (belajar dengan cara menemukan). Disamping itu karena teori Bruner ini banyak menuntut pengulangan-pengulangan maka desain yang berulang-ulang ini lazim disebut sebagai kurikulum spiral Bruner. Kurikulum piral menuntut guru untuk member materi pembelajaran setahap-demi setahap dari yang sederhana ke yang kompleks, dimana suatu materi yang sebelumnyasudah diberikan, suatu saat muncul kembali, secara terintegrasi, di dalam suatu materi baru yang lebih kempleks.[23]
Dalam teori belajar, Bruner juga berpendapat bahwa kegiatan belajar akan berjalan baik dan kreatif jika siswa dapat menemukan sendiri suatu aturan atau kesimpulan tertentu. Dalam hal ini Bruner membedakan menjadi tiga tahap. Ketiga tahap itu adalah:
a.       Tahap informasi, yaitu tahap awal untuk memperoleh pengetahuan atau pengalaman baru;
b.      Tahap transformasi, yaitu tahap memahami, mencerna dan menganalisis pengetahuan baru serta mentransformasikan dalam bentuk baru yang mungkin bermanfaat untuk hal-hal yang lain;
c.       Evaluasi, yaitu untuk mengetahui apakah hasil tranformasi pada tahap kedua tadi benar atau tidak.
Bruner mempermasalahkan seberapa banyak informasi itu diperlukan agar dapat ditransformasikan . Perlu Anda ketahui, tidak hanya itu saja namun juga ada empat tema pendidikan yaitu:
a.       Mengemukakan pentingnya arti struktur pengetahuan;
b.      Kesiapan (readiness) siswa untuk belajar;
c.       Nilai intuisi dalam proses pendidikan dengan intuisi;
d.      Motivasi atau keinginan untuk belajar siswa, dan cura untuk memotivasinya.
Dengan demikian Bruner menegaskan bahwa mata pelajaran apapun dapat diajarkan secara efektif dengan kejujuran intelektual kepada anak, bahkan dalam tahap perkembangan manapun. Bruner beranggapan bahwa anak kecilpun akan dapat mengatasi permasalahannya, asalkan dalam kurikulum berisi tema-tema hidup, yang dikonseptualisasikan untuk menjawab tiga pertanyaan. Berdasarkan uraian di atas, teori belajar Bruner dapat disimpulkan bahwa, dalam proses belajar terdapat tiga tahap, yaitu informasi, trasformasi, dan evaluasi. Lama tidaknya masing-masing tahap dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain banyak informasi, motivasi, dan minat siswa.
Bruner juga memandang belajar sebagai “instrumental conceptualisme” yang mengandung makna adanya alam semesta sebagai realita, hanya dalam pikiran manusia. Oleh karena itu, pikiran manusia dapat membangun gambaran mental yang sesuai dengan pikiran umum pada konsep yang bersifat khusus. Semakin bertambah dewasa kemampuan kognitif seseorang, maka semakin bebas seseorang memberikan respon terhadap stimulus yang dihadapi. Perkembangan itu banyak tergantung kepada peristiwa internalisasi seseorang ke dalam sistem penyimpanan yang sesuai dengan aspek-aspek lingkungan sebagai masukan. Teori belajar psikologi kognitif memfokuskan perhatiannya kepada bagaimana dapat mengembangkan fungsi kognitif individu agar mereka dapat belajar dengan maksimal. Faktor kognitif bagi teori belajar kognitif merupakan faktor pertama dan utama yang perlu dikembangkan oleh para guru dalam membelajarkan peserta didik, karena kemampuan belajar peserta didik sangat dipengaruhi oleh sejauhmana fungsi kognitif peserta didik dapat berkembang secara maksimal dan optimal melalui sentuhan proses pendidikan.
Peranan guru menurut psikologi kognitif ialah bagaimana dapat mengembangkan potensi kognitif yang ada pada setiap peserta didik. Jika potensi kognitif yang ada pada setiap peserta didik telah dapat berfungsi dan menjadi aktual oleh proses pendidikan di sekolah, maka peserta didik akan mengetahui dan memahami serta menguasai materi pelajaran yang dipelajari di sekolah melalui proses belajar mengajar di kelas. Bloom dan Krathwohl menunjukkan apa yang mungkin dikuasai (dipelajari) oleh siswa, yang tercakup dalam tiga kawasan yang diantaranya : Kognitif. Kognitif terdiri dari enam tingkatan, yaitu :
a.       Pengetahuan (mengingat, menghafal),
b.      Pemahaman (menginterpretasikan),
c.       Aplikasi / penerapan (menggunakan konsep untuk memecahkan suatu masalah),
d.      Analisis (menjabarkan suatu konsep),
e.       Sintesis (menggabungkan bagian-bagian konsep menjadi suatu konsep utuh),
f.       Evaluasi (membandingkan nilai, ide, metode dan sebagainya).
2.      Teori Belajar Gestalt
Teori Gestalt dikembangkan oleh Koffka, Kohler, dan Wertheimer. Menurut teori Gestalt belajar adalah proses pengembangan insight. Insight adalah pemahaman terhadap hubungan antar bagian dalam suatu situasi permasalahan. Berbeda dengan teori Behavioristik yang menganggap belajar itu bersifat mekanistis, sehingga mengabaikan atau mengingkari peranan insight. Teori Gestalt justru menganggap bahwa insight adalah inti dari pembentukan tingkah laku.[24] Peletak dasar teori belajar Gestalt ialah Max Wertheimer sebagai usaha untuk memperbaiki proses belajar denga rote learning dengan pengertian bukan menghapal.[25] Dalam belajar, menurut teori Gestalt, yang terpenting adalah penyesuaian pertama, yaitu mendapatkan respons atau tanggapan yang tepat. Belajar yang terpenting bukan mengulangi hal-hal yang harus dipelajari, tetapi mengerti atau memperoleh insight. Belajar dengan pengertiian lebih dipentingkan daripada hanya memasukkan sejumlah kesan. Belajar dengan insight adalah sebagai berikut :
a.              Insight tergantungg dari kemampuan dasar;
b.              Insight tergantung dari pengalaman masa lampau yang relevan;
c.              Insight hanya timbul apabila situasi belajar diatur sedemikian rupa, sehingga segala aspek yang perlu dapat diamati;
d.             Insight adalah hal yang harus dicari, tidak dapat jatuh dari langit;
e.              Belajar dengan insight dapat diulangi;
f.               Insight sekali didapat dapat digunakan untuk menghadapi situasi-situasi baru.[26]
3.       Prinsip-prinsip Teori belajar Gestalt
 Seperti diketahui Teori Belajar gestalt lebih menekankan kepada persepsi. Karena itu prinsip-prinsip atau hokum-hukum yanga ada pada Gestalt pada umumnya menyangkut persepsi. Adapun teori-teori gestalt antara lain :
a.              Belajar berdasarkan keseluruhan
b.              Belajar adalah suatu proses perkembangan
c.              Anak didik sebagai organism keseluruhan
d.             Terjadi transfer
e.              Belajar adalah reorganisasi pengalaman
f.               Belajar harus dengan insight
g.              Belejar lebih berhasil bila berhubungan dengan minat, keinginan, dan tujuan.
h.              Belajar berlangsung secara terus-menerus.[27]
FOOTNOTE
[1] Fauziah Nasution, Psikologi Umum,Buku Panduan untuk Fakultas Tarbiyah IAIN SU, 2011, hal : 17
[2] Al Rasyidin & Wahyudin Nur Nasution, Teori Belajar dan pembelajaran, Medan :Perdana Publishing, 2011,  hal : 32
[3] Abu Ahmad & Widodo Aupriyono,Psikologi Belajar, Jakarta : Rineka Cipta, 1991, hal : 214-215
[4] Syaiful bahri Djamarah,, Psikologi Belajar, Jakarta : Rineka Cipta, 2011, hal : 28-29
[5] Al Rasyidin & Wahyudin Nur Nasution, Teori Belajar dan pembelajaran, Medan :Perdana Publishing, 2011, hal: 33
[6]  Di kutip dari : http://valmband.multiply.com/journal/item/12
[7] Al Rasyidin & Wahyudin Nur Nasution, Teori Belajar dan pembelajaran, Medan :Perdana Publishing, 2011, hal: 33
[8] Di kutip dari : http://valmband.multiply.com/journal/item/12
[9] Al Rasyidin & Wahyudin Nur Nasution, Teori Belajar dan pembelajaran, Medan :Perdana Publishing, 2011, hal: 33
[10] Di kutip dari : http://meetabied.wordpress.com/2010/03/20/teori-perkembangan-kognitif-piaget//
[11] Muhibbin Syah, Psikologi Belajar, Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2003, hal : 26
[12] Muhibbin Syah, Psikologi Belajar, Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2003, hal : 26
[13] Abu Ahmad & Widodo Aupriyono,Psikologi Belajar, Jakarta : Rineka Cipta, 1991, hal : 216
[14] Al Rasyidin & Wahyudin Nur Nasution, Teori Belajar dan pembelajaran, Medan :Perdana Publishing, 2011, hal: 35
[15] Di kutip dari : http://meetabied.wordpress.com/2010/03/20/teori-perkembangan-kognitif-piaget//
[16] Al Rasyidin & Wahyudin Nur Nasution, Teori Belajar dan pembelajaran, Medan :Perdana Publishing, 2011, hal: 35
[17] Di kutip dari : http://meetabied.wordpress.com/2010/03/20/teori-perkembangan-kognitif-piaget//
[18] Al Rasyidin & Wahyudin Nur Nasution, Teori Belajar dan pembelajaran, Medan :Perdana Publishing, 2011, hal: 35
[19] Abu Ahmad & Widodo Aupriyono,Psikologi Belajar, Jakarta : Rineka Cipta, 1991, hal : 220
[20] Al Rasyidin & Wahyudin Nur Nasution, Teori Belajar dan pembelajaran, Medan :Perdana Publishing, 2011, hal: 36-37
[21] Ibid, hal :37
[22] Di kutip dari : http://valmband.multiply.com/journal/item/12
[23] Al Rasyidin & Wahyudin Nur Nasution, Teori Belajar dan pembelajaran, Medan :Perdana Publishing, 2011, hal: 38
[24] Al Rasyidin & Wahyudin Nur Nasution, Teori Belajar dan pembelajaran, Medan :Perdana Publishing, 2011, hal: 39
[25] Abu Ahmad & Widodo Aupriyono,Psikologi Belajar, Jakarta : Rineka Cipta, 1991, hal : 215
[26] Syaiful bahri Djamarah,, Psikologi Belajar, Jakarta : Rineka Cipta, 2011, hal : 19
[27] Syaiful bahri Djamarah,, Psikologi Belajar, Jakarta : Rineka Cipta, 2011, hal : 20-21
XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
Kelompok......10
TIPE-TIPE ANAK DIDIK
A.    Pengertian kepribadian
Istilah “kepribadian” (personality)  sesungguhnya memiliki banyak arti. Hal ini disebabkan oleh adanya perbedaan dalam penyusunan teori, penelitian, dan pengukurannya. Kiranya patut diakui bahwa di antara para ahli psikologi belum ada kesepakatan tentang arti dan definisi kepribadian itu. Boleh dikatakan, jumlah arti dan definisi adalah sebanyak ahli yang mencoba menafsirkannya.
Pembahasan kita tentang arti kepribadian akan dimulai dengan membahas pengertian menurut orang awam atau pengertian kepribadian yang umum dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini dilakukan dengan maksud mempermudah pemahaman kita tentang arti kepribadian yang sesungguhnya menurut pengertian yang ilmiah (Psikologi).
1.      Kepribadian menurut pengertian sehari-hari
Kepribaian (personality) yaitu merujuk kepada bagaimana individu tampil dan menimbulkan kesan bagi individu-individu lainnya. Pengertian kepribadian seperti ini mudah dimengerti dan karenanya juga mudah dipergunakan. Tetapi sayangnya pengertian kepribadian yang mudah dan luas dipergunakan ini lemah dan tidak bisa menerangkan arti kepribadian yang sesungguhnya, sebab pengertian kepribadian tersebut hanya menunjuk terbatas kepada ciri-ciri yang diamati saja, dan mengabaikan kemungkinan bahwa ciri-ciri ini bisa berubah tergantung kepada situasi keliling. Tambah pula, pengertian kepribadian semacam itu lemah disebabkan oleh sifatnya yang evaluative(menilai). Bagaimanapun, kepribadian itu pada dasarnya tidak bisa dinilai ‘baik’ atau ‘buruk’ (netral). Dan para ahli psikologi selalu berusaha menghindarkan penilaian atas kepribadian.[1]
Menurut pengertian sehari-hari, kepribadian (personality) ini bisa disebut sebagai suatu istilah yang mengacu pada gambaran-gambaran social tertentu yang diterima oleh individu dari kelompoknya atau masyarakatnya, kemudian inidividu tersebut diharapkan bertingkah laku berdasarkan atau sesuai dengan gambaran social (peran) yang diterimanya itu.[2]
2.      Kepribadian menurut Psikologi
Pengertian kepribadian menurut disiplin ilmu psikologi bisa diambil dari rumusan masalah beberapa teoritis kepribadian yang terkemuka, diantaranya sbb :
a.       Browner menyatakan bahwa tingkah laku manusia adalah gerak-gerik suatu badan sehingga kepribadian dapat dikatakan corak gerak-gerik suatu badan manusia. Tingkah laku yang disebut kepribadian bersifat sadar dan tidak sadar. Hal itu dapat dilihat dari sudut diri manusia dan dari sudut lingkungannya.[3]
b.      George Kelly bahwa kepribadian sebagai cara yang unik dari individu dalam mengartikan pengalaman-pengalaman hidupnya.
c.       Gordon Allpornt merumuskan kepribadian adalah suatu organisasi yang dinamis dari sistem psikofisik individu yang menentukan tingkah laku dan pemikiran individu secara khas.
Maksudnya “psikofisik” yaitu bahwa jiwa dan raga adalah suatu system yang terpadu dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain, serta di antara keduanya selalu terjadi interaksi dalam mengarah tingkah laku. Sedangkan “khas” bahwa individu bertingkah laku dengan caranya sedniri dan memiliki kepribadian sendiri serta tidak ada yang sama.
d.      Sigmund Freud memandang kepribadian sebagai suatu struktur yang terdiri dari tiga sistem , yakni id, ego, dan superego. Dan tingkah laku tidak lain merupakan hasil dari konflik dan rekonsiliasi ketiga sistem kepribadian tersebut.[4]
B.     Teori-teori kepribadian
Teori kepribadian sama halnya dengan teori-teori yang lain yang terdapat dalam psikologi, yang merupakan salah satu unsur penting dari setiap pengetahuan ilmiah atau ilmu, termasuk psikologi kepribadian. Tanpa teori kepribadian usaha memahami perilaku dan kepribadian manusia pasti sulit untuk dilaksanakan. Apakah yang dimaksud dengan teori kepribadian ? Menurut Hall dan Lindzey, teori kepriadian adalah sekumpulan anggapan atau konsep-konsep yang satu sama lain berkaitan mengenai tingkah laku manusia.
Banyak sekali teori-teori kepribadian yang ada di dunia ilmu pengetahuan ini dan juga dari ungkapan-ungkapan para pakar psikologi itu sendiri, akan tetapi keberagaman itu, saya lebih condong mengambil tiga pakar ahli psikologi yaitu dengan masing-masing teorinya, diantaranya adalah sbb:
1.      Teori Kepribadian Psikoanalisis : Sigmund Freud
Dalam teori psikoanalisa, kepribadian dipandang sebagai suatu struktur yang terdiri dari tiga unsur atau sistem, yakni id, ego, dan super ego. Meskipun ketiga sistem tersebut memiliki fungsi, kelengkapan, prinsip-prinsip operasi, dinamisme, dan mekanismenya masing-masing, ketiga sistem kepribadian ini satu sama lain saling berkaitan serta membentuk suatu totalitas.
a.        Id (Istilah Freud : das-es)
Merupakan sistem kepribadian yang paling dasar, sistem yang di dalamnya terdapat naluri-naluri bawaan. Id adalah sistem yang bertindak sebagai penyedia atau penyalur energi yang dibutuhkan oleh sistem-sistem tersebut untuk operasi-operasi atau kegiatan-kegiatan yang dilakukannya.
Id dalam menjalankan fungsi dan operasinya, dilandasi oleh maksud mempertahankan konstansi (the principle of constancy) yang ditujukan untuk menghindari keadaan tidak menyenangkan dan mencapai keadaan yang menyenangkan (the pleasure principle).
Untuk keperluan mencapai maksud dan tujuan itu, id memiliki perlengkapan berupa dua macam proses, yaitu :
Pertama, tindakan-tindakan refleks yakni suatu bentuk tingkah laku atau tindakan yang mekanisme kerjanya otomatis dan segera, serta adanya pada individu merupakan bawaan. Contohnya refleks mengisap, batuk, mengedipkan mata, dan bersin.
Kedua, proses primer, yakni suatu proses yang melibatkan sejumlah reaksi psikologis yang rumit. Dengan proses primer ini dimaksudkan bahwa id (dan organism secara keseluruhan) berusaha mengurangi tegangan dengan cara membentuk bayangan dari objek yang bisa mengurangi tegangan. Proses primer pada orang yang sedang lapar, sebagai contoh, adalah membayangkan (menghayalkan) makanan. Tindakan memuaskan suatu kebutuhan yang berlangsung dalam mimpi (mimpi makan, misalnya) oleh Freud juga dipandang sebagai proses primer.
Id ini juga bisa dipahami sebagai kecenderungannya kepada hal yang irasional yaitu selalu mengejar kesenangan tanpa memikirkan konsekuensinya. Misalnya, seorang pegawai perusahaan swasta setiap bulan ia mendapatkan gaji 5 juta, akan tetapi dia nekat melakukan kredit mobil yang cicilannya per bulan 4,5 juta. Nah, kemudian yang menjadi masalah, dalam satu bulan itu bagaimana ia mencukupi kebutuhan keluarga maupun kebutuhan pribadi (pangan, papan, sandang), sedangkan sisa gajinya tinggal 500 rb. Menurut akal ini tidak rasional, dan cuma menuruti kesenangan yang menipu.
b.       Ego
Adalah sistem kepribadian yang bertindak sebagai pengaruh individu kepada dunia objek dari kenyataan, dan menjalankan fungsinya berdasarkan prinsip kenyataan (the reality principle). Apabila dikaitkan dengan contoh orang yang sedang lapar, maka bisa diterapkan bahwa ego bertindak sebagai penunjuk atau pengarah pada orang yang sedang lapar ini kepada makanan. Artinya orang yang merasa lapar harus ditempuh dengan jalan makan makanan tersebut.
Menurut Freud, ego terbentuk pada struktur kepribadian individu sebagai hasil kontak dengan dunia luar. Adapun proses yang dimiliki dan dijalankan ego sehubungan dengan upaya memuaskan kebutuhan atau mengurangi tegangan oleh indovidu adalalah proses sekunder (secondary process). Dengan proses sekundernya ini, ego memformulasikan rencana bagi pemuasan kebutuhan dan menguji apakah rencana tersebut bisa dilaksanakan atau tidak. Atau dengan kata lain, akan berfikir, makanan apa yang dia butuhkan, di mana dan bagaimana makanan itu bisa dia peroleh.
Ego bisa disebut juga menjembatani id dan sebagai mediator dengan menggunakan prinsip-prinsip realistik atau rasionalitas.
c.       Superego (Istilah Freud :das Ueberich)
Adalah sistem kepribadian yang berisikan nilai-nilai dan aturan-aturan yang sifatnya evaluative (menyangkut baik-buruk). Menurut Freud, super ego terbentuk melalui internalisasi nilai-nilai atau aturan-aturan oleh individu dari sejumlah figur yang berperan, berpengaruh, atau berarti bagi individu tersebut seperti orang tua dan guru.
Adapun fungsi utama dari super ego adalah :
1.      Sebagai pengendali dorongan-dorongan atau impuls-impuls naluri id agar impuls-impuls tersebut disalurkan dalam cara atau bentuk yang dapat diterima oleh masyarakat.
2.      Mengarahkan ego pada tujuan-tujuan yang sesuai dengan moral ketimbang dengan kenyataan.
3.      Mendorong individu kepada kesempurnaan.
Aktivitas super ego dalam diri individu, ternyata apabila aktivitas ini bertentangan atau konflik dengan ego, menyatakan diri dalam emosi-emosi tertentu seperti perasaan bersalah dan penyesalan. Sikap-sikap tertentu dari individu seperti observasi diri, koreksi atau kritik, juga bersumber pada super ego. Dan super ego ini bisa dikatakan juga sebagai hati nurani, menghendaki yang rasional.[5]
2.      Teori Behaviorisme : B. F. Skinner
Dari perspektif behaviorisme Skinner, studi tentang kepribadian melibatkan penguji yang sistematis dan pasti atas sejarah hidup atau pengalaman belajar dan latar belakang genetik atau faktor bawaan yang khas dan individu. Menurut Skinner, individu adalah organisme yang memperoleh perbendaharaan tingkah lakunya melalui belajar. Dia bukanlah agen penyebab tingkah laku, melainkan tempat kedudukan atau suatu pointdi mana factor-faktor lingkungan (eksternal) dan bawaan yang khas secara bersama menghasilkan akibat (tingkah laku) yang khas pula pada individu tersebut. [6]
3.      Teori Humanistik : Abraham Maslow
Teori Maslow pada dasarnya teori Humanistik, tetapi bisa disebut sebagai psikologi transpersonal. Maslow menyebut teorinya sendiri sebagai teori holistic dinamis, yang artinya diri seseorang akan terus menerus bergerak dan termotivasi untuk menuju aktualisasi diri. Teori Maslow sangat dipengaruhi oleh motivasi, yaitu apa penyebab tingkah laku seseorang.[7]
a.        Struktur kepribadian
Struktur kepribadian Maslow disebut juga jenjang kebutuhan atau hierarki kebutuhan, ialah ada lima macam, yaitu sbb :
1.      Kebutuhan-kebutuhan fisiologis (physiological needs)
Adalah sekumpulan kebutuhan dasar yang paling mendesak pemuasannya karena berkaitan langsung dengan pemeliharaan biologis dan kelangsungan hidup. Kebutuhan-kebutuhan itu antara lain : kebutuhan akan makanan, air, oksigen, aktif, istirahat, keseimbangan temperature, seks, dan kebutuhan akan stimulus sensorik.karena merupakan kebutuhan yang paling mendesak, maka kebutuhan-kebutuhan fisiologis akan paling didahulukan pemuasannya oleh individu.
Pada kebutuhan fisiologis ini, Maslow sangat menekankan pada kebutuhan akan pemenuhan rasa lapar. Rasa lapar memiliki tingkat motivasi yang tinggi untuk dipenuhi karena manusia pada dasarnya memiliki dorongan dalam dirinya untuk memuaskan rasa laprnya sehingga kebutuhan ini menjadi kebutuhan yang paling mendasar. Dan jika kebutuhan ini tidak terpenuhi akan berakibat fatal pada kebutuhan-kebutuhan yang lain, missal orang lapar, akan malas untuk belajar atau melakukan aktifitas lain karena tubuhnya lemas dan ada beberapa orang yang mengalami kelaparan yang kronis akan menimbulkan efek moral dan kepribadian yang negatif, misalnya mencuri, merampok, dll.
2.      Kebutuhan akan rasa aman (need for self-security)
Apabila kebutuhan fisiologis sudah terpenuhi, maka kebutuhan yang muncul selanjutnya adalah kebutuhan akan rasa aman. Yaitu sesuatu kebutuhan yang mendorong individu untuk memperoleh ketentraman, kepastian, dan keteraturan dari keadaan lingkunganya. Seperti perlingdungan akan sesuatu yang mengancam (perang, terorisme, penyakit, dan lain-lain). Ketika mereka tidak berhasil memenuhi kebutuhan ini, maka mereka akan mengalami kecemasan dasar (basic anxiety).
3.      Kebutuhan akan cinta dan rasa memiliki (need for love and belongingness)
Adalah suatu kebutuhan yang mendorong individu untuk mengadakan hubungan efektif atau ikatan emosional dengan individu lain, baik dengan sesama jenis maupun dengan yang berlainan jenis, di lingkungan keluarga ataupun di lingkungan kelompok masyarakat. Kebutuhan ini sangat penting untuk dipenuhi sejak kecil sebagai proses pembentukan rasa cinta atau kasih sayang pada setiap individu.
Malsow menegaskan bahwa cinta yang matang menunjuk kepada hubungan cinta yang sehat di antara dua orang tau lebih, yang di dalamnya terdapat sikap saling percaya dan saling menghargai. Maslow juga menekankan bahwa kebutuhan akan cinta itu mencakup keinginan untuk mencintai dan dicintai.
4.      Kebutuhan akan rasa harga diri (need for self-esteem)
Maslow membagi kebutuhan ini ke dalam dua bagian. Bagian pertama adalah penghormatan atau penghargaan dari diri sendiri, dan bagian yang kedua adalah penghargaan dari orang lain.
Bagian pertama mencakup hasrat untuk memperoleh kompetensi, rasa percaya diri, kekuatan pribadi, kemandirian, dan kebebasan. Individu ingin mengetahui atau yakin bahwa dirinya berharga serta mampu mengatasi segala tantangan dalam hidupnya.
Adapun bagian yang kedua meliputi antara lain prestasi. Dalam hal ini individu butuh penghargaan atas apa-apa yang dilakukannya. 
5.      Kebutuhan akan aktualisasi diri (need for self-actualization)
Dalam teori Maslow kebutuhan akan aktualisasi diri inilah kebutuhan manusia yang paling tinggi. Kebutuhan ini akan muncul ketika kebutuhan-kebutan yang lain sudah terpuaskan dengan baik. Maslow menandai kebutuhan akan aktualisasi diri sebagai hasrat individu untuk menjadi orang yang sesuai dengan keinginan dan potensi yang dimilikinya. Misalnya seseorang yang berbakat musik menciptakan komposisi musik, seorang yang memiliki potensi intelektual menjadi ilmuan, dan seterusnya.
Maslow mencatat bahwa aktualisasi diri itu tidak hanya beruapa penciptaan kreasi atau karya-karya berdasarkan bakat-bakat atau kemampuan-kemampuan khususu. Orang tua, mahasiswa, dosen, sekretaris, petani, dan buruh pun bisa mengaktualisasi dirinya, yakni dengan jalan membuat yang terbaik, atau bekerja sebaik-baiknya sesuai dengan bidangnya masing-masing.[8]
Pertumbuhan dan perkembangan kepribadian
Maslow mendapatkan gambaran dari kedua gurunya bahwa perkembangan manusia mengalami level yang paling tinggi ketika mencapai level aktualisasi diri. Untuk mencapainya, seseorang harus memenuhi beberapa criteria,
a.        seseorang harus terbebas dari penyakit psikologis.
b.      seseorang harus hidup dengan level kecukupan dalam memenuhi hierarki kebutuhannya. Dengan demikian, seseorang tidak mengalami ancaman akan perasaan aman serta mendapatkan cinta serta penghargaan yang cukup.
c.        adalah menjunjung tinggi niali B. Dan terakhir adalah menggunakan seluruh bakat, kemampuan, serta potensi yang dimiliki.
Akhirnya, seseorang yang dapat mengaktualisasikan dirinya adalah seseorang yang dapat memenuhi kebutuhan untuk tumbuh, berkembang, dan menjadi diri sendiri sesuai kemampuan yang dia bisa.[9]
C.     Tipe-tipe kepribadian
Kepribadian adalah ciri atau karakteristik atau gaya atau sifat khas dari diri seseorang yang bersumber dari bentukan-bentukan yang diterima dari lingkungan, misalnya, keluarga pada masa kecil, dan juga bawaan seseorang sejak lahir. Menurut Paul Gunadi (2005) pada umumnya terdapat lima penggolongan/tipe kepribadian yang sering dikenal dalam kehidupan sehari-hari, yaitu sebagai berikut .
1.      Tipe Sanguin
Seseorang yang termasuk tipe ini memilikiciri-ciri antara lain : memiliki banyak kekuatan, bersemangat, mempunyai gairah hidup, dapat membuat lingkungannya gembira dan senang. Akan tetapi, tipe ini pun memilikikelemahan, antara lain : cenderung impulsif, bertindak sesuai emosinya atau keinginannya.
Orang bertipe ini sangat mudah dipengaruhi oleh lingkungannya dan rangsangan dari luar dirinya, kurang bisa menguasai diri atau penguasaan diri lemah, cenderung mudah jatuh ke dalam percobaan karena godaan dari luar dapat dengan mudah memikatnya dan dia bisa masuk terperosok ke dalamnya. Jadi, orang dengan kepribadian Sanguin sangat mudah dipengaruhi oleh lingkungannya dan rangsangan dari luar dirinya dan dia kurang bisa menguasai diri atau penguasaan diri lemah.
Oleh karena itu, kelompok ini perlu ditingkatkan secara terus-menerus perkembangan moral kognitifnya melalui tingkat pertimbangan moralnya sehingga dalam berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang lain menjadi lebih menggunakan pikirannya daripada menggunakan perasaan/emosinya. Peningkatan moral kognitif akan menjadikan pikiran mereka lebih tajam dan lebih kritis dalam menghadapi persoalan yang berkaitan dengan orang lain.
2.      Tipe Flegmatik
Seseorang yang termasuk tipe ini memilikiciri-ciri antara lain : cenderung tenang, gejolak emosinya tidak tampak, misalnya dalam kondisi sedih atau senang, sehingga turun naik emosinya tidak terlihat secara jelas. Orang bertipe ini cenderung dapat menguasai dirinya dengan cukup baik dan lebih introspektif, memikirkan ke dalam, dan mampu melihat, menatap, dan memikirkan masalah –masalah yang terjadi di sekitarnya. Mereka seorang pengamat yang kuat, penonton yang tajam, dan pengkritik yang berbobot.
Akan tetapi orang bertipe seperti ini juga memiliki kelemahan antara lain : ada kecenderungan untuk mengambil mudahnya dan tidak mau susah. Dengan kelemahan ini, mereka kurang mau berkorban demi orang lain dan cenderung egois.
Oleh karena itu, mereka perlu mendapatkan bimbingan yang mengarahkan pada meningkatnya pertimbangan moralnya guna peningkatan rasa kasih sayang sehingga menjadi orang yang lebih bermurah hati.
3.      Tipe Melankolik
Seseorang yang termasuk tipe ini memilikiciri-ciri antara lain : terobsesi dengan karyanya yang paling bagus atau paling sempurna, mengerti estetika keindahan hidup, perasaannya sangat kuat, dan angat sensitif.
Orang yang memiliki tiep ini juga memilikikelemahan antara lain : sangat mudah dikuasi oleh perasaan dan cenderung perasaan yang mendasari hidupnya sehari-hari adalah perasaan yang murung. Oleh karena itu, orang yang bertipe ini tidak mudah untuk terangkat, senang, dan tertawa terbahak-bahak.
Pembentukan kepribadian melalui peningkatan pertimbangan moral, kiranya dapat membantu kelompok ini dalam mengatasi perasaanya yang kuat dan sensitivitas yang mereka miliki melalui peningkatan moral kognitifnya. Dengan demikian, kekuatan emosionalnya dapat berkembang secara seimbang dengan perkembangan moral kognitifnya.
4.      Tipe Korelik
Seseorang yang memiliki tipe ini memiliki ciri-ciriantara lain : cenderung berorientasi pada pekerjaan dan tugas, mempunyai disiplin kerja yang sangat tinggi, mampu melaksanakan tugas dengan setia dan bertanggung jawab atas tugas yang diembannya.
Orang yang bertipe ini memiliki kelemahan antara lain : kurang mampu merasakan perasaan orang lain, kurang mampu mengembangkan rasa kasihan kepada orang yang sedang menderita, dan perasaanya kurang bermain.
Kelompok ini perlu ditingkatkan kepekaan sosialnya melalui pengembangan emosional yang seimbang dengan moral kognitifnya sehingga menjadi lebih peka terhadap penderitaan orang lain.
5.      Tipe Asertif
Seseorang yang termasuk tipe ini memiliki ciri-ciri antara lain : mampu menyatakan pendapat, ide, dan gagasannya secara tegas, kritis, tetapi perasaannya halus sehingga tidak menyakiti perasaan orang lain. Perilaku mereka adalah berjuang mempertahankan hak sendiri, tetapi tidak sampai mengabaikan atau mengancam hak orang lain; melibatkan perasaan dari kepercayaan orang lain sebagai bagian dari interaksi dengan mereka; mengekspresikan perasaan dan kepercayaan sendiri dengan cara yang terbuka, langsung, jujur, dan tepat. Dikarenakan tipe asertif ini adalah tipe yang ideal maka tidak banyak ditemukan orang kelemahannya. Oleh karena itu, peningkatan pertimbangan moral kognitif anak didik secara sadar dan terencana diniatkan untuk mencapai model kepribadian tipe asertif ini.[10]
D.    Prose Perkembangan Kepribadian
Dr. Atlee Beechy berpendapat “kepribadian” seseorang bertumbuh dan berkembang melalui tiga proses yaitu :
a.       Individualisme, yakni suatu proses menjadi manusia, perubahan masa bayi yang sangat bergantung menjadi tidak bergantung. Proses ini membantu manusia memperluas kesadaran identitas pribadinya, penerimaan diri, dan kepastian akan dirinya.
b.      Sosialisasi, yaitu suatu proses dinamis di mana individu mempelajari keterampilan-keterampilan, informasi, dan pemahaman kebutuhan, berhubungan secara efektif dengan orang lain. Proses sosialisasi berlangsung dengan mementingkan hubungan antara individu dengan individu dalam kelompok primari.
c.       Integrasi, yaitu suatu proses yang mengkombinasikan, mengorganisir, dan mengerjakan bersama bagian-bagian yang berbeda atau sifat-sifat khas dari seorang individu menuju ke tingkat yang lebih tinggi sebagai suatu keseluruhan yang kompleks.
Dalam proses individualisasi, sosialisasi, dan integrasi, manusia pasti mempunyai pengalaman-pengalaman, baik pengalaman menyenangkan maupun pengalaman tidak menyenangkan. Pengalaman-pengalaman yang diperoleh manusia dalam tiga proses di atas, baik secara langsung maupun tidak langsung pasti mempengaruhi perkembangan kepribadian manusia. Pengaruh pengalaman-pengalaman tersebut dapat bersifat positif, (membantu) maupun bersifat negatif (menghambat) terhadap perkembangan kepribadian.[11]
FOOTNOTE
[1]E.  Koeswara, Teori-teori Kepribadian, (Bandung : PT Eresco : 1991) cet. 2, hlm. 9-10
[2] Sjarkawi, Pembentukan Kepribadian Anak, (Jakarta : PT Bumi Aksara : 2008) cet. 2, hlm. 17
[3] Ibid. Sjarkawi, hlm. 18
[4] Op.Cit, E. Koswara, hlm. 11
[5] Ibid, E. Koswara, hlm. 32-35
[6] Ibid, E. Koswara, hlm. 77
[8] Op.Cit, E. Koswara, hlm. 119-126
[10] Op.Cit, Sjarkawi, hlm. 11-13
[11] Kartini Kartono,Kepribadian Siapakah Saya?, (Jakarta : CV. Rajawali : 1985) hlm. 121-122
XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
Kelompok.......11
EVALUASI DARI ASPEK PSIKOLOGI
A.    Pengertian Evaluasi
Aktivitas belajar, perlu diadakan evaluasi. Hal ini penting karena dengan evaluasi kita dapat mengetahui apakah tujuan belajar yang telah ditetapkan dapat tercapai atau tidak. Melalui evaluasi, dapat diketahui kemajuan – kemajuan belajar yang dialami oleh anak, dapat ditetapkan keputusan penting mengenai apa yang telah diperoleh dan diketahui anak, serta dapat merencanakan apa yang seharusnya dilakukan pada tahap berikutnya.[1]
Istilah evaluasi berasal dari bahasa Inggris evaluationyang secara bahasa diartikan penilaian atau penaksiran (Echols dan Shadily, 1992). Menurut Miller (2008), evaluasi diartikan sebagai “a qualitative judgement that uses measurement results from test and assesment information to assign grades” (suatu pertimbangan kualitatif yang menggunakan hasil pengukuran lewat informasi tes dan asesmen untuk menentukan kualitas). Daniel L. Stufflebeam dan Anthony J. Shinkfield (1985) secara singkat merumuskan evaluasi sebagai berikut : “evaluation is the systematic assessment of the worth or merit of some objects”. (Evaluasi adalah penilaian sistematis tentang harga tau jasa beberapa objek). Dengan demikian maka evaluasi antara lain merupakan kegiatan membandingkan tujuan dengan hasil dan juga merupakan studi yang mengombinasikan penampilan penampilan dengan suatu nilai tertentu.[2]
Sejalan dengan pendapat – pendapat di atas, Tim Depdiknas (2004) mengemukakan evaluasi atau penilaian adalah serangkaian kegiatan untuk memperoleh, menganalisis, dan menafsirkan data tentang proses dan hasil belajar siswa yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan, sehingga menjadi informasi yang bermakna dalam pengambilan keputusan. Dari pengertian ini kita dapat mengambil pengertian, bahwa penilaian hasil belajar ujungnya adalah pada kegiatan pengambilan keputusan tentang proses dan hasil belajar. Untuk dapat mengambil keputusan secara tepat tentang hasil belajar tersebut perlu didukung oleh data secara akurat dan terpercaya. Data ini dikumpulkan melalui kegiatan pengukuran terhadap hasil belajar baik dengan menggunakan instrumen tes maupun nontes. Jadi, maksud penilaian adalah memberi nilai tentang kualitas sesuatu. Penilaian tidak hanya sekedar mencari jawaban terhadap pertanyaan tentang apa, tetapi lebih diarahkan kepada menjawab pertanyaan bagaimana atau seberapa jauh suatu proses atau suatu hasil yang diperoleh seseorang atau suatu program. Penilaian di sini diartikan sebagai padanan kata evaluasi. Memang ada sebagian pendapat yang menyatakan istilah evaluasi (evaluasi pendidikan) umumnya digunakan untuk kegiatan pendidikan yang cakupannya lebih luas dan objek yang dinilai pun juga lebih kompleks, misalnya evaluasi pendidikan secara nasional atau regional. Sedangkan istilah penilaian digunakan pada cakupan sekolah atau kelas dengan objek yang terbatas terkait dengan proses dan hasil  kegiatan belajar mengajar. [3]

B.     Tujuan dan Fungsi Evaluasi
Tujuan evaluasi dapat dilihat dari dua segi, tujuan umum dan tujuan khusus. L. Pasaribu dan Sinjutak, menegaskan bahwa :
1.      Tujuan umum dari evaluasi adalah sebagai berikut :
a.       Mengumpulkan data – data yang membuktikan taraf kemajuan murid dalam mencapai tujuan yang diharapkan.
b.      Memungkinkan pendidik/guru menilai aktivitas/pengalaman yang didapat.
c.       Menilai metode mengajar yang dipergunakan.
2.      Tujuan khusus dari evaluasi adalah berikut ini :
a.       Merangsang kegiatan siswa.
b.      Menemukan sebab – sebab kemajuan atau kegagalan.
c.       Memberikan bimbingan yang sesuai dengan kebutuhan, perkembangan dan bakat siswa yang bersangkutan.
d.      Memperoleh bahwa laporan tentang perkembangan siswa yang diperlakukan orang tua dan lembaga pendidikan.
e.       Memperbaiki mutu pelajaran/cara belajar dan metode belajar.[4]
Selain itu, secara umum tujuan evaluasi hasil belajar diarahkan pada dua hal,  yaitu : untuk mendapatkan data yang akan dijadikan sebagai bukti mengenai taraf perkembangan atau taraf kemajuan belajar yang dicapai oleh para peserta didik, setelah mereka mengikuti proses pembelajaran dalam jangka waktu tertentu (Depdiknas, 2002). Dengan kata lain, tujuan umum dari evaluasi dalam pendidikan adalah untuk memperoleh data pembuktian, yang akan menjadi petunjuk sampai di mana tingkat kemampuan dan tingkat keberhasilan peserta didik dalam percapaian kompetensi – kompetensi yang telah ditetapkan dalam kurikulum, setelah mereka menempuh proses pembelajaran dalam jangka waktu yang telah ditentukan.
Tujuan lain evaluasi hasil belajar adalah diarahkan untuk mengetahui tingkat efektivitas dari program pembelajaran yang disusun oleh guru serta proses pembelajaran yang telah diselenggarakan (Depdiknas, 2002). Program pembelajaran itu misalnya menyangkut perumusan materi pembelajaran, pemilihan metode pembelajaran, media, sumber belajar, dan rancangan sistem penilaian yang dipilih. Proses pembelajaran menyangkut sejauh mana pelaksanaan dari program pembelajaran yang disusun oleh guru itu berjalan dengan lancar dan secara efektif mengantarkan para peserta didik menguasai kompetensi yang telah ditetapkan. Untuk menetapkan efektivitas program dan proses pembelajaran ini adalah dengan melihat seberapa besar jumlah peserta didik dalam suatu kelas telah mencapai ketuntasan belajar. Sesuai dengan konsep belajar tuntas, sebuah program dan proses pembelajaran dikatakan efektif bila minimal 75% dari jumlah peserta didik dalam suatu kelas yang diajar oleh guru telah mencapai ketuntasan belajar.[5]
Dalam kaitannya dengan kegiatan belajar – mengajar, evaluasi mempunyai fungsi yang amat penting, yaitu :
1.      Untuk memberikan umpan balik (feedback) kepada guru sebagai dasar untuk memperbaiki proses belajar – mengajar, serta mengadakan perbaikan program bagi murid.
2.      Untuk memberikan angka yang tepat tentang kemajuan atau hasil belajar dari setiap murid. Antara lain digunakan dalam rangka pemberian laporan kemajuan belajar murid kepada orang tua, penentuan kenaikan kelas serta penentuan lulus tidaknya seorang murid.
3.      Untuk menentukan murid di dalam situasi belajar – mengajar yang tepat, sesuai dengan tingkat kemampuan (dan karakteristik lainnya) yang dimiliki oleh murid.
4.      Untuk mengenal latar belakang (psikologis, fisik, dan lingkungan) murid yang mengalami kesulitan belajar, nantinya dapat dipergunakan sebagai dasar dalam pemecahan kesulitan – kesulitan belajar yang timbul.[6]
C.     Jenis – Jenis Evaluasi
Biasanya evaluasi dapat dibagi menjadi 4 jenis, yaitu evaluasi formatif, sumatif, placement, dan diagnostik. Keempat jenis evaluasi tersebut, secara singkat akan dibahas dari segi fungsi, tujuan aspek yang dinilai dan waktu pelaksanaannya.
1.      Evaluasi Formatif
a.       Fungsi : untuk memperbaiki proses belajar mengajar ke arah yang lebih baik, atau memperbaiki program satuan pelajaran yang telah digunakan.
b.      Tujuan : untuk mengetahui hingga di mana penguasaan murid tentang bahan yang telah diajarkan dalam suatu program satuan pelajaran.
c.       Aspek – aspek yang dinilai : yang berkenaan dengan hasil kemampuan belajar murid, meliputi : pengetahuan, keterampilan, sikap dan penguasaan terhadap bahan pelajaran yang telah disajikan.
d.      Waktu pelaksanaan : setiap akhir pelaksanaan satuan program belajar mengajar.
2.      Evaluasi Sumatif
a.       Fungsi : untuk menentukan angka/nilai murid yang telah mengikuti program pengajaran dalam satu caturwulan, semester, akhir tahun atau akhir dari suatu program bahan pengajaran dari suatu unit pendidikan. Di samping itu, untuk memperbaiki situasi proses belajar mengajar ke arah yang lebih baik serta untuk kepentingan penilaian selanjutnya.
b.      Tujuan : untuk mengetahui taraf hasil belajar yang dicapai oleh murid setelah menyelesaikan program bahan pengajaran dalam suatu catur wulan, semester, akhir tahun atau akhir suatu program bahan pengajaran pada suatu unit pendidikan tertentu.
c.       Aspek – aspek yang dinilai : kemajuan belajar, meliputi : pengetahuan, keterampilan, sikap dan penguasaan murid tentang materi pelajaran yang sudah diberikan.
d.      Waktu pelaksanaan : akhir caturwulan, semester, atau akhir tahun.
3.      Evaluasi Placement (penempatan)
a.       Fungsi : untuk mengetahui keadaan anak termasuk keadaan seluruh pribadinya, agar anak tersebut dapat ditempatkan pada posisi yang tepat.
b.      Tujuan : untuk menempatkan anak didik pada kedudukan yang sebenarnya, berdasarkan bakat, minat, kemampuan, kesanggupan serta keadaan – keadaan lainnya, sehingga anak tidak mengalami hambatan dalam mengikuti setiap program/bahan yang disajikan guru.
c.       Aspek – aspek yang dinilai : meliputi : keadaan fisik, psikis, bakat, kemampuan/pengetahuan, keterampilan, sikap dan lain – lain aspek yang dianggap perlu bagi kepentingan pendidikan anak selanjutnya.
d.      Waktu pelaksanaan : penilaian ini sebaiknya dilaksanakan sebelum anak mengikuti proses belajar – mengajar yang permulaan. Atau anak tersebut baru akan mengikuti pendidikan di suatu tingkat tertentu.
4.      Evaluasi Diagnostik
a.        Fungsi : untuk mengetahui masalah – masalah apa yang diderita atau yang mengganggu anak didik, sehingga ia mengalami kesulitan, hambatan atau gangguan ketika mengikuti program tertentu. Dan bagaimana usaha untuk memecahkannya.
b.      Tujuan : untuk mengatasi/membantu pemecahan kesulitan atau hambatan yang dialami anak didik waktu mengikuti kegiatan belajar – mengajar pada suatu bidang studi atau keseluruhan program pengajaran.
c.       Aspek – aspek yang dinilai : hasil belajar, latar belakang kehidupan anak, keadaan keluarga, lingkungan, dan lain – lain.
d.      Waktu pelaksanaan : dapat dilaksanakan setiap saat sesuai dengan kebutuhan.[7]
D.    Peranan Psikologi Belajar dalam Kegiatan Evaluasi
Psikologi belajar pada dasarnya adalah membicarakan aspek – aspek psikologi yang mempengaruhi proses dan hasil belajar, sedangkan evaluasi belajar adalah suatu aktivitas untuk mengetahui berhasil tidaknya tujuan belajar maka dapat dikatakan bahwa psikologi belajar akan mendasari segala kegiatan yang menyangkut evaluasi belajar.
Istilah “kegiatan: di sini mencakup hal – hal sejak dari :
         Persiapan, pelaksanaan sampai pada follow up
         Penetapan tujuan
         Pemilihan jenis evaluasi
         Pemilihan alat yang digunakan dalam evaluasi
         Penyusunan materi/isi evaluasi itu sendiri.
Seorang evaluator yang memahami psikologi belajar akan senantiasa memperhitungkan aspek – aspek psikologis anak yang akan dievaluasi sejak dari persiapan sampai pada pelaksanaan dan tindak lanjutnya.
Misalnya :
         Kepada anak umur berapa evaluasi diberikan.
         Kepada anak yang bermental, bagaimana
         Kepada anak kelas berapa
         Kepada anak yang berminat dalam bidang apa
         Kepada anak yang latar belakang keluarganya bagaimana, dan lain – lain
Hal – hal tersebut ikut diperhitungkan dalam rangka kegiatan evaluasi.[8]
Selanjutnya dalam follow up– nya pun aspek – aspek psikologis tersebut harus tetap diperhitungkan. Misalnya :
Jika anak ternyata tidak berhasil dalam mengikuti evaluasi, kita tidak akan cepat mengatakan bahwa si A adalah tolol, akan tetapi perlu dicari faktor – faktor penyebab sehingga anak tersebut gagal dalam mengikuti evaluasi. Mungkin karena materi/bobot evaluasinya tidak sesuai, barangkali kesehatan anak sedang terganggu dan sebagainya.
Sebaliknya seorang evaluator yang tidak memahami pentingnya psikologi belajar, maka apa yang dilakukan dalam mengadakan evaluasi biasanya hanya bersandar pada keinginan semata – mata, tanpa memperhitungkan pada kemampuan anak maupun aspek – aspek lain yang semestinya diperhitungkan.
Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa dengan psikologi belajar kita akan memiliki dan memilih menyusun evaluasi secara tepat, memilih dan menyusun program belajar – mengajar secara tepat, dapat memperhitungkan kemungkinan faktor – faktor penghambat dan penunjang belajar anak, serta dapat membantu membimbing dan mengatasi segala kesulitan yang dihadapi anak dalam belajar. Pada gilirannya kita akan dapat mengarahkan pertimbangan dan perkembangan anak secara wajar dalam rangka mencapai tujuan hidup yang lebih baik.[9]
FOOTNOTE
[1] Drs. H. Abu Ahmadi, dkk. “Psikologi Belajar”. (Jakarta : Rineka Cipta, 2013), hlm. 198
[2] Dr. Sukiman, M.Pd. “Pengembangan Sistem Evaluasi”. (Yogyakarta : Insan Madani, 2012), hlm. 4
[3] Ibid., hlm. 4-5
[4] Drs. H. Abu Ahmadi, dkk. “Psikologi Belajar”. (Jakarta : Rineka Cipta, 2013), hlm. 199-200
[5] Dr. Sukiman, M.Pd. “Pengembangan Sistem Evaluasi”. (Yogyakarta : Insan Madani, 2012), hlm. 12
[6] Drs. H. Abu Ahmadi, dkk. “Psikologi Belajar”. (Jakarta : Rineka Cipta, 2013), hlm. 200-201
[7] Ibid., hlm. 201-203
[8] Ibid., hlm. 203-204
[9] Ibid., hlm. 204-205
 XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
Kelompok......12
Rabu, 18 Mei 2016. NAMA                 : IMRADIN ZEBUA. NIM                     : 142102008. PRODI                 : BIMBINGAN DAN KONSELING. M. KULIAH        : PSIKOLOGI KEPRIBADIAN. INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (IKIP) GUNUNGSITOLI. FAKUTAS ILMU PENDIDIKAN (FIP). PROGRAM STUDI BINBINGAN DAN KONSELING. T.A 2014/2015
A.    Pengertian-Perkembangan
   Perkembangan dapat diartikan sebagai perubahan yang sistematis, progresif, dan berkesinambungan dalam diri individu sejak lahir hingga akhir hayatnya atau dapat diartikan  juga sebagai perubahan-perubahan yang dialami individu menuju kedewasaan dan kematangan. Perkembangan secara Sistemetis adalah bahwa perubahan dalam perkembangan yang bersifat saling ketergantungan atau saling mempengaruhi antara satu bagian dengan bagian lainnya, baik fisik maupun psikisdan merupakan satu kesatuan yang harmonis. Perkembangan yang bersifat agresif berarti perubahan yang terjadi bersifat maju,meningkat dan meluas, baik secara kuantitatif (fisik) dan kualitatif (psikis).
1. Tahapan-Tahapan Perkembangan
a.       Perkembangan pada masa Orok
Masa orok ini ialah masa yang paling terpendek dalam kehidupan seorang manusia, yakni  dimulai sejak lahir sampai usia dua minggu. Masa Orok biasanya dibagi pada dua masa, yaitu: masa pertunate yang berlangsung selama 15-30 menit pertama sejak lahir sampai tali pusatnya di gunting, dan masa neonate, yakni sejak pengguntingan tali pusat sampai usia dua minggu.
  Pada fase ini, masa Orok memiliki karaktristik perkembangan sebagai berikut:
1.      Perkembangan FisikSaat lahir, pada umumnya berat badan orok kira-kira 3,5 kg dan panjangnya 50 cm. Laki-laki biasanya lebih berat dari pada wanita, kepalanya kira-kira ¼ dari panjang badannya. Pernapasan, makan, dan pembuangan selama lahir melalui plasenta. Dengan jerit dan tangis pada waktu kelahiran, maka paru-paru berkembang dan pernapasan pun dimulai. Pada waktu lahir, kecepatan pulsa/ketukan antara 130-150 denyutan per mernit tetapi turun sampai 118 denyutan per menit beberapa hari setelah kelahiran.
2.      Kegiatan-kegiatan-Orok
a. Kegiatan-menyeluruh
    Kegiatan yang mencakup kegiatan-kegiatan umum dari seluruh badan.
b. Kegiatan-khusus
    Kegiatan yang mencakup kegiatan-kegiatan refleks yang merupakan respons (reaksi) yang tidaak disadari terhadap perangsang-perangsang tertentu, kebanyakan refleks-refleks tersebut bersifat jasmaniah.
3.      Vokalisasi
Perkembangan vokal (suara) anak dimulai dengan menangis yang biasanya dimulai pada waktu lahir. Maksud tangisan kelahiran adalah untuk mengembangkan paru-paru sehingga memungkinkan pernapasan dan penyediaan oksigen yang cukup bagi darah. Selain itu, bayi yang baru lahir sekali-kali mengeluarkan sura yang menyerupai pernapasan yang berat, perlahan-lahan menjadi lebih kuat dan berkembang menjadi mengoceh yang selanjutnya akan menjadi becakap.
4.      Perkembangan-kepribadian
Dasar-dasar kpibadian seperti halnya sifat-sifat fisik dan psikis lainnya berasal dari sifat-sifat kebakaan yang menjadi matang. Selain faktor tersebut juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan terutama kasih sayang ibu.
B.     Fase Bayi
Masa bayi dimulai sejak berakhirnya masa orok sampai akhir tahun kedua dari kehidupan. Masa bayi ini memiliki perkembangan fisik, intelegensi, emosi, bahasa, bermain, pengertian, kepribadian, moral, dan kesadaran beragama.
1.      Perkembangan Fisik
a.       Pada tahun pertama pertumbuhan fisik sangat cepat sedangkan tahum kedua mengendur.
b.      Pola perkembangan bayi pria dan wanita sama.
c.       Tinggi badan secara proposional lebih lambat dari pertumbuhan berat badan selama tahun pertama dan lebih cepat pada tahun kedua.
d.      Dari 20 gigi seri, kira-kira 16 telah tumbuh selama masa bayi berakhir.
e.       Pertumbuhan otak tampak dengan bertambah besarnya ukuran tengkorak kepala.
f.       Organ keindraan berkembang cepat selama masa bayi dan sanggup berfungsi.
g.      Fungsi-fungsi fisiologis.
h.      Perkembangan penguasaan otot-otot
2.      Perkembangan Inteligensi
Sejak setahun pertama dari usia anak, fungsi intelegensi sudah mulai tampak dalam tingkah lakunya. Anak yang cerdas menunjukkan gerakan-gerakan yang lancar, serasi, dan koordinasi. Sedangkan anak yang kurang cerdas, gerakan-gerakannya kaku, dan kurang terkoordinasi. Perkembangan kemampuan motorik (berjalan) pada anak yang cerdas dimulai pada usia 12 bulan, anak yang sedang pada usia 15 bulan, yang moron 22 bulan, dan yang idiot 30 bulan. Dalam perkembangan bahasa (berbicara), anak yang cerdas mulai berbicara pada usia 16 bulan, moron 34 bulan, dan idiot 51 bulan.
3.      Perkembangan Emosi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Syarhil "NASIONALISME DALAM KONSEP ISLAM".

"PERSATUAN DAN KESATUAN DARI TEMA NASIONALISME DALAM KONSEP ISLAM” Sebagai hamba yang beriman, marilah kita tundukan kepala seraya...